Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Menkeu Beberkan Ancaman Global Berpotensi Pengaruhi Ekonomi Domestik

Rabu, 17 November 2021 | 22:03 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Pemerintah memastikan akan terus mewaspadai dan mengantisipasi berbagai gejolak ekonomi global yang dapat memberikan pengaruh terhadap kinerja ekonomi Indonesia. Hal ini menjadi pembahasan dalam Sidang Kabinet Paripurna yang dilaksanakan pada Rabu (17/11).

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan ada dua tantangan yang diwaspadai oleh pemerintah saat ini. Pertama terjadinya inflasi atau kenaikan harga yang saat ini mulai terjadi di berbagai negara seperti AS, Eropa, Tiongkok hingga negara berkembang seperti Turki.

Advertisement

Kenaikan harga di tingkat produsen dapat menyebabkan kenaikan harga di tingkat konsumen sehingga memicu terjadinya inflasi. Dalam catatannya Eropa telah mengalami  kenaikan harga produsen mencapai 16,3 persen, lalu di Tiongkok 13,5 persen, dan di Amerika Serikat mencapai 8,6 persen. Kenaikan harga produsen pun terjadi di Korea Selatan yang mencapai 7,5 persen.  

"Kenaikan harga produsen ini kemudian bisa menyebabkan kenaikan harga di tingkat konsumen, atau yang kemudian diukur menjadi inflasi, ini yang kemudian kita akan waspadai. Indonesia kita lihat harga ditingkat produsen mengalami kenaikan 7,3 persen," ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers usai sidang kabinet, Rabu (17/11).

Untuk saat ini inflasi di AS tercatat tinggi, alhasil memunculkan rencana Federal Reserve untuk mulai menyesuaikan kebijakan moneter yang ketat atau tapering off dengan mulai mengurangi pembelian surat utang pemerintah AS atau US Treasury.

Sri Mulyani menyebutkan bahwa secara historis, kenaikan federal fund rate dapat menimbulkan potensi guncangan dari sisi aliran modal (capital flow) ke negara-negara berkembang. Hal tersebut kemudian menimbulkan excess dari sisi nilai tukar, di berbagai negara berkembang seperti di Argentina, dan Turki, terjadi kenaikan inflasi  dan depresiasi nilai tukar yang dalam.  

Dengan pondasi ekonomi yang cukup kuat, Menkeu berharap Indonesia mampu menghadapi berbagai risiko dinamika global.

"Ini bisa berpotensi menimbulkan ancaman terhadap stabilitas sistem keuangan. Jadi, Indonesia harus berhati-hati dan waspada terhadap dinamika kemungkinan global yang berpotensi tapering off ini," ujar Sri Mulyani.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN