Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangn Sri Mulyani Indrawati

Menteri Keuangn Sri Mulyani Indrawati

Penarikan Utang Turun hingga 32,5%

Jumat, 26 November 2021 | 12:36 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, Investor.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melaporkan penarikan utang RI hingga Oktober 2021 terkontraksi 32,5% (yoy) atau Rp 645,8 triliun. Penarikan utang sudah setara dengan 54,9%  dari APBN yang sebesar Rp 1.177,4 triliun.

"Pembiayaan pada 31 Oktober 2021 mencapai Rp 645,8 triliun dari utang. Dibanding tahun lalu yang mencapai Rp 956,3 triliun, ini adalah penurunan yang sangat tajam padahal kita masih dalam situasi Covid-19. Tapi kita bisa menurunkan pembiayaan yang sangat signifikan yaitu -32,5%," ujarnya dalam Konferensi Pers APBN Kita, Kamis (25/11).

Ia menjelaskan bahwa, turunnya penarikan utang sejalan dengan penurunan penarikan utang dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dan turunnya pinjaman netto pemerintah.

Tercatat pembiayaan utang dari SBN sampai Oktober 2021 ini -29,1%. Nominalnya mencapai Rp 668,7 triliun atau 55,4% dari target APBN senilai Rp 1.207,3 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu, penerbitan SBN netto mencapai Rp 943,5 triliun.  Bahkan pinjaman neto tercatat juga alami kontraksi.

“Ssisi pinjaman juga alami kontraksi dari tahun lalu Rp 12,8 triliun netto. Tahun ini alami negatif Rp 22,9 triliun. Ini adalah cerita mengenai pemulihan APBN, konsolidasi dan fiscal policy yang prudent. Makanya Fitch (Ratings) menggarisbawahi APBN kita mulai menunjukkan adanya penyehatan," tutur Sri Mulyani.

Kemudian untuk pembiayaan investasi tumbuh signifikan Rp 96,7 triliun didorong oleh berbagai anggaran dilakukan untuk investasi baik di BUMN. Dengan begitu, ia berharap bahwa BUMN semakin sehat dan BLU dana abadi.

“Kita berharap Indonesia miliki pondasi lebih lengkap topang Pemulihan ekonomi nasional jadi pembiayaan inevstasi alami 2,3 kali lipat atau 234%, mencapai Rp 96,7 triliun dibandingkan tahun lalu hanya Rp 28,9 triliun “ujarnya.

Kemudian untuk pemberiaan pinjaman realisasinya Rp 3 triliun dan kewajiban pinjaman hingga Oktober tidak ada. Sedangkan pembiayaan lainnya tercatat Rp 56,1 triliun.

 “Untuk pembiayaan lainnya dilihat tahun lalu hanya Rp 0,2 triliun dan  tahun ini capai Rp 56 triliun dan kalau dilihat berbagai pelaksanaan yang kita lakukan termasuk kerjasama dengan BI telah beli SBN”tuturnya.

Ia tak menampik bahwa penurunan utang juga dipengaruhi oleh bantuan Bank Indonesia menyerap SBN untuk membiayai sebagian defisit fiskal.

Kontribusi Bank Indonesia dalam pembelian SBN skema SKB I mencapai Rp 143,32 triliun yang terdiri dari SUN Rp 97,89 triliun dan SBSN mencapai Rp 45,44 triliun. Kemudian pemerintah menggunakan SAL dalam rangka mengoptimalkan manajemen cash atau likuiditas serta memanfaatkan fasilitas dari BI dalam bentuk SKB III, terutama untuk belanja kesehatan.

"Jadi pembiayaan kita ada cerita positif yang sangat kuat mengenai kesehatan APBN yang secara bertahap akan kita restore atau kita pulihkan," pungkas Sri Mulyani. 

Editor : Fajar Widhi (fajar_widhi@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN