Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Foto: BeritaSatu Photo/Humas Bank Indonesia

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Foto: BeritaSatu Photo/Humas Bank Indonesia

BI: Kenaikan Harga Energi Berpotensi Timbulkan Risiko Inflasi pada Semester II-2022

Senin, 29 November 2021 | 14:40 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan ada risiko tekanan inflasi di Tanah Air pada semester II-2022 yang ditimbulkan akibat kenaikan harga energi. Hal ini sejalan dengan meningkatnya permintaan di tengah rendahnya pasokan.

“Dari waktu ke waktu ada risiko tekanan inflasi pada paruh kedua tahun depan, karena kenaikan harga energi atau kenaikan permintaan lebih cepat,” tuturnya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR, Senin (29/11/2021).

Advertisement

Tak hanya risiko inflasi, ada juga risiko dari pengurangan likuiditas bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) atau tapering off yang berpotensi mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Di sisi lain, BI berkomitmen untuk terus menjaga indikator asumsi makro agar sesuai dalam APBN 2022, meliputi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3%, inflasi sebesar 3%, kinerja nilai tukar rupiah dengan rata-rata sepanjang tahun depan sebesar Rp 14.350.

“Ada risiko nilai tukar rupiah karena ada tapering, namun kami tetap komitmen kami upayakan seluruh kebijakan agar asumsi-asumsi ini dapat sejalan,” tuturnya.

Meski begitu, Perry optimistis tahun depan ekonomi Indonesia akan bangkit, meski masih ada beberapa isu permasalahan yang harus terus diantisipasi ke depan. Seperti perubahan landscape atau lingkungan di global yang berpotensi menimbulkan ketidakpastian. Oleh karena itu, BI akan mengoptimalkan penerimaan dari sisi cadangan devisa (cadev) pada tahun depan.

“Kami terus upayakan bagaimana cadev dapatkan return yang lebih optimal dengan tetap memenuhi kewajiban negara dan stabilitas. Caranya? Tingkatkan spread, spread itu kami akan coba firm dalam pengelolaan devisa yang sudah kami lakukan sejak saya jadi Gubernur Bank Indonesia,” tegas Perry.

Editor : Thomas Harefa (thomas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN