Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Vice Chairman Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Kimin Tanoto. (ist)

Vice Chairman Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Kimin Tanoto. (ist)

Industri Baja Harus Dukung Pemerintah Menuju Nol Emisi Karbon

Selasa, 30 November 2021 | 15:25 WIB
Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - Vice Chairman Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Kimin Tanoto mengatakan, industri baja nasional harus mendukung pemerintah memenuhi kesepakatan Paris dalam mengurangi emisi karbon hingga 0% pada 2060. Demikian disampaikan Kimin dalam webinar Steel Decarbonization: Technologies & Costs yang digelar kantor berita Bloomberg.

“Kita perlu sadar dan melakukan aksi nyata untuk lingkungan. Kita perlu berubah dan bertanggung jawab terhadap kondisi lingkungan kita,” tegas Kimin, yang juga komisaris emiten baja PT Gunung Raja Paksi Tbk (GRP/GGRP)), dikutip dari siaran pers, Selasa (30/11/2021).

Menurut Kimin, industri baja merupakan satu dari banyak industri yang harus diarahkan agar lebih ramah lingkungan dan mengusung prinsip-prinsip keberlanjutan. Pasalnya, teknologi yang digunakan terbilang usang dan tidak ramah lingkungan. 

“Industri besi baja di Indonesia masih banyak menggunakan teknologi lama sehingga emisi karbon akan berdampak terhadap lingkungan. Kita harus mendukung komitmen pemerintah yang tertuang dalam Nationally Determined Contribution (NDC),” tambah Kimin.

Kimin mengingatkan, pada 22 Juli 2021, Indonesia mengajukan pembaruan NDC. Dalam pembaruan tersebut, Indonesia berkomitmen bahwa pada 2030 akan mengurangi emisi 29% tanpa syarat secara business as usual (BAU) serta pengurangan emisi 41% bersyarat di bawah BAU yang sama.

“Kita perlu sadar dan melakukan aksi nyata untuk lingkungan. Kita perlu berubah dan bertanggung jawab terhadap kondisi lingkungan kita,” kata Kimin.

Terkait itulah, Kimin berharap agar industri baja turut berkontribusi. Perusahaan baja nasional perlu bekerja sama dengan pemerintah dalam menyusun peta jalan (roadmap) untuk low emisson carbon menuju 2030.

“Untuk itu, juga perlu masukan komprehensif dari semua pemangku jabatan sehingga roadmap yang kita sepakati dapat dilaksanakan dengan baik dan bertanggung jawab,” pungkas Kimin.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, mengapresiasi komitmen IISIA untuk mengurangi emisi karbon. Menurut dia, upaya tersebut harus mendapat dukungan dari Pemerintah dan juga industri-industri lain.

“Komitmen ini harus didukung pemerintah, misal dengan memberikan insentif fiskal dan non-fiskal, sehingga, apa yang dilakukan industri baja bisa menular ke industri lain untuk bersama-sama berkomitmen mengurangi emisi karbon,” kata Bhima.

Bhima menilai, komitmen kalangan industri baja akan meningkatkan daya saing. Sebab, upaya pengurangan emisi karbon, bisa membuat proses produksi, mulai dari hulu hingga hilir bisa lebih efisien. 

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN