Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Juda Agung. Foto: IST

Juda Agung. Foto: IST

BI Tegaskan Efek Tapering Tidak Berdampak Signifikan ke Ekonomi Indonesia

Selasa, 30 November 2021 | 15:34 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Asisten Gubernur Kepala Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia Juda Agung menegaskan, kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) untuk mengurangi suntikan likuiditas ke pasar keuangan (tapering) tidak akan berdampak signifikan terhadap ekonomi Indonesia.

Hal ini disampaikannya saat menjalani  fit and proper test untuk posisi Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia di Komisi XI DPR, Selasa (30/11). “Hemat kami, tidak berdampak signifikan ke perekonomian Indonesia, sebab di sisi lain kondisi saat ini sudah lebih baik (dibandingkan taper tantrum 2013),” tuturnya.

Ia tak memungkiri bahwa pasar keuangan domestik memiliki memori pasca-taper tantrum tahun 2013. Namun, kini, ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi pasar keuangan lebih stabil.

Pertama, saat taper tantrum tahun 2013, kepemilikan asing di Surat Berharga Negara RI saat itu mencapai 38 hingga 40%, sehingga menimbulkan tekanan besar pada sisi pasar keuangan domestik, termasuk nilai tukar rupiah, saat terjadi capital outflow. Saat ini, kepemilikan SBN oleh asing terus menurun seiring upaya pemerintah untuk meningkatkan investor domestik pada SBN.

“Saya melihat kepemilikan asing di SBN saat ini (menurun) menjadi sekitar 23-24%, dahulu (2013) sekitar 38-40%. Jadi ketika mereka (asing) keluar bisa dampaknya terhadap depresiasi nilai tukar rupiah waktu itu. Namun, kondisi kita lebih baik sekarang,” tuturnya.

Faktor kedua, sisi fundamental ketahanan korporasi saat itu leverage korporasi cukup tinggi sekali, sehingga kredit tumbuh sangat tinggi disertai kenaikan harga komoditas dan harga property yang meningkat. Kemudian, sisi ketahanan eksternal juga dalam kondisi tidak stabil, tercermin dari defisit transaksi berjalan cukup besar. Hal ini menyebabkan Indonesia masuk sebagai lima negara paling fragile (rentan).

“Saat ini, posisi kita berbeda, di sisi ketahanan korporasi cukup baik di tengah krisis (Covid-19), karena semua negara terkena. Tapi sebenarnya dilihat leveragenya (di dalam negeri) rendah dan kondisi  perbankan likuiditasnya (melimpah), sehingga dalam kondisi bagus,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Bank Indonesia tetap berkomitmen untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan nilai tukar rupiah. BI akan terus menjalankan dengan baik tiga pilar kebijakan moneter, makroprudensial, serta sistem pembayaran dan digitalisasi.

“Tugas BI jaga stabilitas nilai tukar rupiah, apakah ini sudah dilakukan dengan baik? Tadi sudah saya sampaikan bahwa stabilitas rupiah dilihat dari inflasi yang secara gradual turun dari semula double digit (tahun 1997-1998) dan sekarang sudah di 2%, hemat kami perlu dipertahankan inflasi di sekitar itu,” tuturnya.  

 

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN