Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
blok migas-5

blok migas-5

Prospek Sektor Hulu Migas di Tengah Isu Transisi Energi

Selasa, 30 November 2021 | 22:46 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

Di tengah isu transisi energi yang bergulir baik di tingkat nasional maupun global, muncul tanda tanya besar tentang nasib energi fosil ke depannya, khususnya prospek sektor hulu migas di Tanah Air. Apakah serta merta akan ditinggalkan dan berganti dengan energi baru terbarukan (EBT) ?

Menurut Kepala Centre of Food, Energy and Sustainable Development (CFESD) Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra Talattov, dalam perjalanan transisi energi ke depan, industri migas atau fosil tetap akan menjadi industri yang sentral untuk ketahanan energi nasional.

“Jika melihat dari sisi target porsi energi baru terbarukan (EBT), untuk merealisasikannya masih banyak tantangan. Pertama, investasi yang dibutuhkan masih sangat besar. Kemudian, dalam jangka pendek-menengah, pemenuhan energi nasional tidak mungkin bisa langsung digantikan dari fosil ke EBT,” kata Abra kepada Investor Daily, Selasa (30/11).

Abra mengatakan, walaupun dari sisi porsi ada target penurunan penggunaan energi fosil, namun dari sisi volume terjadi peningkatan dalam jumlah yang signifikan. Mengacu pada dokumen Rancangan Umum Energi Nasional (RUEN), porsi minyak bumi targetnya diturunkan dari 25% pada 2025 menjadi 20% pada 2050, tetapi volumenya justru meningkat sampai 111% untuk minyak dan gas sebesar 137%.

Peningkatan demand migas ini tidak saja terjadi di Indonesia namun juga di tingkat global. Hal ini dibuktikan dengan lonjakan harga yang tinggi dan diproyeksikan masih tetap berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.

Dari sisi supply, sumber daya alam Indonesia juga masih memiliki potensi yang sangat besar. Sehingga masih ada ruang bagi pemerintah untuk lebih agresif dalam menggaet investor di sektor hulu migas, baik domestik maupun global.

“Jadi tidak mungkin investasi baik eksplorasi maupun eksploitasi akan berkurang. Saya pikir transisi energi ini tetap akan berjalan secara paralel dengan ekspansi di industri migas,” ujar Abra.

Sesungguhnya pemerintah juga telah menyatakan komitmennya untuk tidak akan meninggalkan industri hulu migas, di tengah upaya transisi energi dan pengembangan EBT yang masif dilakukan.

“Industri hulu migas, tidak akan serta merta ditinggalkan, karena industri ini menjadi salah satu pilar ekonomi Indonesia,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif dalam ajang The 2nd International Convention and Indonesian Upstream Oil and Gas (IOG) 2021 di Bali, Senin (29/11).

Arifin mengaku, Indonesia yang merupakan salah satu negara pendukung karbon rendah berkomitmen untuk mencapai netralitas karbon pada 2060, juga sedang mengusahakan peningkatan pengembangan dan penggunaan energi terbarukan

Peranan industri hulu migas yang rendah karbon, kata Arifin, diharapkan bisa menjadi energi pada masa transisi. “Industri hulu migas yang rendah karbon merupakan visi dari industri fosil dalam era transisi ke depan,” ujar Arifin.

Perlu Insentif

Ketua Organizing Committee IOG 2021 Luky Agung Yusgiantoro menyatakan, investasi di sektor hulu migas membutuhkan kebijakan fiskal yang kondusif sehingga dapat menjaring investor.

Indonesia, kata dia, sangat membutuhkan investasi di sektor hulu migas untuk mencapai target produksi 1 juta barel minyak per hari (barrel oil per day/BOPD) dan gas 12 miliar standar kaki kubik per hari (billion standard cubic feet per day/BSCFD) pada tahun 2030.

“Mengingat bahwa industri hulu migas adalah industri yang padat modal, padat teknologi, dan padat risiko maka dalam pencapaian target produksi tahun 2030, diperlukan kebijakan fiskal yang kondusif untuk menarik investasi,” kata Luky di sela penyelenggaraan Konvensi IOG 2021 di Nusa Dua, Bali, Selasa (29/11).

Ia mengatakan, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), pengusaha, dan para pemangku kepentingan (stakeholders) lainnya perlu merumuskan kebijakan untuk menarik investasi.

Dikatakan, selain ketatnya persaingan dengan negara-negara lain, industri hulu migas juga turut dibayangi sentimen pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). Ditambah lagi, pada tahun 2022 pemerintah menargetkan nilai investasi hulu migas pada kisaran US$ 15 miliar - US$ 16 miliar. Di sisi lain, SKK Migas mencatat bahwa realisasi investasi hulu migas hingga September 2021 adalah sebesar US$ 7,9 miliar atau sekitar 64% dari target yang ditetapkan pada Work Program & Budget (WP&B) 2021 sebesar US$ 12,38 miliar.

Abra Talattov menambahkan, selain insentif , ada hal lain yang juga tak kalah penting untuk kelangsungan investasi migas yakni kepastian hukum dan konsistensi regulasi. "Investasi migas itu jumlahnya besar dan jangka panjang, sehingga bagi investor kepastian hukum dan konsistensi regulasi itu sangat penting," tegasnya,

Masih Jadi Andalan

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto dalam ajang Temu Media Nasional dan Lomba Karya Jurnalistik, Rabu (10/11) lalu mengatakan, pihaknya telah menyusun rencana strategis untuk meningkatkan peran industri hulu migas bagi perekonomian nasional, mengingat kebutuhan migas masih akan terus meningkat di masa mendatang, yakni Indonesian Oil and Gas (IOG) 4.0, yang mencakup tiga target besar pada 2030.

data statistik
data statistik

Pertama, memproduksi minyak 1 juta BOPD serta gas bumi sebanyak 12 BSCFD. Target kedua meningkatkan multiplier effect industri hulu migas terhadap sektor lainnya, sehingga bisa memperkuat kapasitas nasional yang berdaya saing, dan terakhir, SKK Migas juga menargetkan penciptaan keberlanjutan lingkungan. “SKK Migas juga menargetkan keberlanjutan kelestarian Lingkungan,” ujar Dwi.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi) Hilmi Panigoro mengatakan, MedcoEnergi hingga kini masih bertumpu pada bisnis migas. Hal ini, terlihat dari porsi belanja modal yang dialokasikan. Tercatat tahun ini MedcoEnergi mengalokasikan US$ 150 juta untuk belanja modal 2021, dari total belanja modal sebesar US$ 215 juta.

Saat ini, dengan harga komoditas yang terus membaik dan permintaan gas domestik yang mulai pulih, setelah seiring menggeliatnya aktivitas perekonomian setelah wabah Covid-19 mulai dapat tertangani imbas lockdown, MedcoEnergi akan terus memenuhi rencana dan komitmennya untuk kepentingan stakeholder. Upaya ini juga dalam rangka mendukung pencapaian target Pemerintah untuk meningkatkan produksi minyak dan gas nasional, yaitu target produksi minyak 1 juta BOPD dan gas 12 BSCFD pada 2030 dari SKK Migas.

“Seiring kebijakan Pemerintah untuk transisi energi, MedcoEnergi berkomitmen untuk mengurangi dampak operasi terhadap lingkungan dalam mencapai Net Zero untuk Emisi Scope 1 dan Scope 2 pada 2050 dan Scope 3 pada 2060. MedcoEnergi juga akan terus fokus pada pengembangan masyarakat untuk masa depan Indonesia yang lebih baik,” ujar Hilmi.

data statistik
data statistik

Perpanjangan Kontrak

Kegiatan investasi Medco ke depan juga bakal terus dilakukan. Apalagi Medco melalui PT Medco E&P Tomori Sulawesi (Medco E&P) bersama PT Pertamina Hulu Energi Tomori Sulawesi (PHE Tomori Sulawesi), dan Tomori E&P Limited (TEL) sebagai Kontraktor (KKKS) untuk Wilayah Kerja Senoro-Toili (WK Senoro-Toili) baru saja mendapatkan persetujuan perpanjangan pengelolaan blok minyak dan gas selama 20 tahun dari Pemerintah. Perpanjangan ini terhitung efektif dari Desember 2027.

Wilayah Kerja tersebut berlokasi di Sulawesi Tengah dan telah menghasilkan gas sejak tahun 2015 untuk suplai PT Donggi Senoro LNG (DSLNG), pabrik amonia PT Panca Amara Utama (PAU) dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN).

Pengembangan Wilayah Kerja Senoro Toili akan terus dilaksanakan dengan mengembangkan lapangan Senoro Selatan yang diharapkan akan selesai di tahun 2025 serta melaksanakan kegiatan eksplorasi baru.

“Medco E&P berterima kasih atas kepercayaan dan dukungan yang diberikan Pemerintah untuk terus melanjutkan pengelolaan WK Senoro-Toili dan juga untuk kerjasama yang baik dengan PHE Tomori Sulawesi dan TEL selama ini. Perusahaan terus berkomitmen untuk memenuhi target produksi yang ditetapkan Pemerintah dan memberikan sumbangsih bagi industri serta masyarakat melalui program pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi," ujar Direktur Utama Medco E&P Ronald Gunawan dalam keterangan tertulis.

 

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN