Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wisatawan domestik menikmati suasana pantai Petitenget, Seminyak, Bali, Minggu (24/10/2021). Foto ilustrasi:  BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Wisatawan domestik menikmati suasana pantai Petitenget, Seminyak, Bali, Minggu (24/10/2021). Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

2022, TARGET WISNUS SEBANYAK 200 JUTA PERGERAKAN

Perlu Terobosan Inovatif untuk Dongkrak Wisatawan Nusantara

Sabtu, 4 Desember 2021 | 20:57 WIB
Leonard AL Cahyoputra (leonard.cahyoputra@beritasatumedia.com) ,Mardiana Makmun (mardiana@investor.co.id) ,Amrozi Amenan (ros_amrozi@yahoo.com) ,Rio Winto

JAKARTA, investor.id  – Setelah dua tahun ini arus wisatawan mancanegara (wisman) anjlok karena pandemi Covid-19, upaya membangkitkan sektor pariwisata harus ditempuh lewat optimalisasi kunjungan wisatawan nusantara (wisnus). Namun untuk menarik wisnus agar mau berwisata di dalam negeri, industri pariwisata perlu meningkatkan daya saing.

Pelaku bisnis pariwisata pun harus mencari terobosan layanan yang inovatif dan variatif. Pemerintah terus mendorong peningkatan pergerakan wisnus.

Tahun depan, pergerakan wisnus ditargetkan mencapai 260-280 juta, naik dari estimasi tahun ini sebanyak 198-220 juta pergerakan.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran menyatakan, kontribusi wisman di Bali bisa mencapai 5-6 juta orang setiap tahun. Untuk menggantikan wisman dengan wisnus sulit karena kontribusi okupansi turis asing sebesar 70% sementara domestik 30%.

Maulana mengatakan, di Bali kunjungan wisnus yang tumbuh hanya di beberapa wilayah dengan paling tinggi rata-rata okupansi sekarang mencapai 20% secara provinsi.

Maulana berpendapat, untuk menarik wisnus, setiap daerah harus punya destinasi yang menarik seper ti Bali. Dia menilai daerah-derah yang menjadi target utama wisnus biasanya Jakarta dan Yogyakarta.

“Itu umumnya okupansinya dari perjalanan domestik. Kan domestik itu paling besar itu adalah kegiatan meeting,” ucap dia.

Jumlah kunjungan wisman
Jumlah kunjungan wisman

Maulana menjelaskan, 70% wisnus melakukan perjalanan domestik untuk kegiatan bisnis yang bergerak. Sementara yang liburan hanya berkontribusi sebanyak 30% dengan tiga agenda dalam setahun yaitu Lebaran, Natal Tahun Baru, dan libur sekolah.

“Jadi kalau mau menumbuhkan kembali ya kegiatan pemerintahan yang harus digalakkan lagi seperti pembelanjaan pemerintah,” ujar dia.

Maulana mengatakan, wisnus lebih senang liburan ke luar negeri daripada ke dalam negeri karena daya saing.

Dia mencontohkan, sebelum pandemi, biaya perjalanan ke Bangkok dan dari Jakara ke Bali itu sama harganya yaitu Rp 3 juta. Sementara banyak wisatawan yang membutuhkan more experience.

Sejak perbatasan dibuka, wisman belum ada dampak ke sektor pariwisata. Sebab wisman yang ingin ke Indonesia harus melalui Bali dan Kepulauan Riau. Para wisman juga harus menggunakan visa khusus dan bukan visa kedatangan. Kemudian ditambah juga mereka harus ada yang menggaransi 

“Jadi cukup mahal. Kemudian, mereka enggak boleh transit. Jadi harus langsung dari negerinya ke Bali atau Kepri. Nah ini kan agak sulit ya kalau penerbangannya belum ada yang masuk tentunya wismannya juga enggak ada yang masuk. Nah siapa yang menumbuhkan okupansi selama ini, ya masih domestik,” ucap dia.

Perkembangan realisasi dan perkiraan wisatawan nusantara
Perkembangan realisasi dan perkiraan wisatawan nusantara

Maulana mengaku hingga saat ini belum ada dampak varian baru Omicron ke pariwisata, tetapi menekankan semua pihak harus berhati-hati. PHRI mengapresiasi langkah pemerintah yang sudah melakukan proteksi dengan menutup akses warga Negara asing dari wilayah yang sudah diindikasikan ada Omicron tersebut dan menambah masa karantina.

Dia berharap pemerintah dapat merelaksasi pembatasan mobilitas masyarakat dalam negeri. Sebab, akhir tahun merupakan momentum bagi sektor pariwisata, khususnya hotel dan restoran untuk dapat meningkatkan okupansi.

Maulana mengatakan, pada Desember 2020 tingkat okupansi sekitar 40% dan Desember 2021 diharapkan bisa 45-50% agar pertumbuhan mencapai di atas 5% pada tahun ini. Hal ini untuk menjadi modal saat kuartal I yang biasanya low season.

Untuk perhotelan, okupansi mulai ramai pada kuartal II dan meningkat terus sampai puncaknya pada kuartal IV.

Baca lengkap di epaper Investor Daily

https://subscribe.investor.id/

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN