Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Jonathan Sudharta  Foto: Beritasatu.com/Primus Dorimulu

Jonathan Sudharta Foto: Beritasatu.com/Primus Dorimulu

JONATHAN SUDHARTA

Founder Halodoc Blak-blakan soal Bill Gates dan IPO

Minggu, 5 Desember 2021 | 14:52 WIB
Primus Dorimulu (primus@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id  - Saat ini, ketika orang menyebut telemedicine, nama Halodoc masuk top of mind. Dengan lebih dari 20.000 dokter yang ikut bergabung melayani pasien lewat aplikasi digital, Halodoc mencuat sebagai startup di bidang kesehatan dengan valuasi triliunan rupiah. Cepat atau lama, perusahaan yang didirikan oleh Jonathan Sudharta dan Doddy Lukito ini akan go public lewat initial public offering (IPO) atau penawaran umum saham perdana.

“Niat untuk IPO itu ada. Lebih cepat, lebih baik. Tapi, kami sadar, untuk IPO, perusahaan harus benar-benar matang,” kata Jonathan Sudharta, CEO dan Co-founder Halodoc dalam diskusi ringan dengan para pemimpin redaksi pada pertengahan November 2021. IPO tidak sekadar meraup dana publik, tapi juga tanggung jawab kepada investor publik. Begitu menjadi perusahaan publik, Halodoc tidak hanya bertanggung jawab kepada investor lama yang sudah membesarkan perusahaan, melainkan juga investor publik.

“Bagaimana setelah IPO?” tanya Jonathan. Ia menghendaki agar setelah IPO perusahaan mampu bertumbuh dengan baik dan memberikan manfaat kepada semua pihak. Tidak saja kepada para investor pengendali, investor publik, tapi juga kepada masyarakat luas. Ia juga ingin agar Halodoc nantinya dimiliki oleh investor ritel yang adalah pasien pengguna jasa Halodoc.

Sebuah perusahaan yang dimiliki oleh banyak investor ritel memang ideal. Oleh karena itu, dibutuhkan persiapan yang matang dan momentum yang tepat. Indonesia masih didera pandemi dan ada pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Jonathan tidak mau Halodoc hanya dikenal sebagai pebisnis. Ia mau Halodoc dikenal sebagai perusahaan yang bermanfaat bagi masyarakat sebagaimana citra yang sudah dibangun selama ini.

Membangun satu brand yang bagus membutuhkan waktu lama, bisa 10 tahun. Tapi, jika salah kelola, citra bagus yang sudah dibangun 10 tahun bisa lenyap dalam 10 hari. “Itu yang saya nggak mau. Makanya kita belum mempersiapkan IPO. Fokus kita saat ini adalah bagaimana melayani pasien dengan lebih baik,” papar Jonathan.

Halodoc bukan perusahaan aplikasi telemedicine yang didirikan saat pandemi. Empat tahun sebelum pandemi, April 2016, perusahaan ini lahir. Ketika datang pandemi yang, antara lain, harus direspons dengan menjaga jarak dan menghindari kontak fisik, Halodoc siap melayani. “Halodoc merupakan sebuah inovasi teknologi yang mempermudah akses di bidang kesehatan,” kata Daeng Mohammad Faqih, Ketua Terpilih Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia pada acara Grand Launching Halodoc di XXI Ballroom Djakarta Theater, 21 April 2016. Mendapatkan dukungan dari Kementerian Kesehatan, Halodoc memperluas pelayanan ke seluruh wilayah Indonesia, di antaranya 50 kota. Melewati fase jatuh bangun, Halodoc kemudian mulai merebut hati pasien dan dokter yang melayani. Ketika datang pandemi, Halodoc sudah cukup siap menjalankan telemedicine.

Salah satu kekuatan Halodoc adalah dukungan pendanaan. Pada Juli 2019, salah satu orang terkaya dunia, Bill Gates —lewat Bill and Melinda Foundation— menyuntikkan US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,4 triliun ke Halodoc. Pada April 2021, Halodoc mendapatkan lagi dana segar US$ 80 juta atau Rp 1,2 triliun dari konsorsium yang dipimpin PT Astra International Tbk. Masuk dalam konsorsium ini adalah Temasek, Telkomsel Mitra Inovasi, Novo Holdings, Acrew Diversify Capital Fund, dan Bangkok Bank.

Pada putaran pendanaan seri B, suntikan dana yang diperoleh Halodoc sebesar US$ 65 juta atau sekitar Rp 910 miliar. Perusahaan yang mengucurkan dana pada putaran ini adalah UOB Venture, Singtel Innov8, Korea Investment Partners, dan WuXi AppTec. Pada putaran pendanaan seri A, Halodoc memperoleh dana US$ 13 juta atau Rp 182 miliar. Dana sebesar ini diperoleh dari lima perusahaan, yakni Openspace Ventures, Gojek, Clermont Group, Investidea, dan Blibli.

Pada tahun 2015, tutur Jonathan, ia mengikuti future leader program di Cambridge University, AS. Ada 25 anak muda dari seluruh dunia yang diundang dan dikasih beasiswa dengan masa belajar tiga pekan. Ia termasuk batch pertama yang lulus dan diundang makan siang oleh Bill Gates dan Melinda pada tahun 2017.

Memanfaatkan pertemuan dengan Bill Gates, Jonathan berusaha mengenakan baju kaos seragam dengan tulisan Halodoc. Ia mengharapkan agar orang terkaya dunia itu tertarik dengan Halodoc. Meski diwajibkan mengenakan jas, ia tetap memakai baju kaos Halodoc dibalut sweater dan jas. Saat itu, AS memasuki musim panas.

“Panasnya minta ampun. Nah, pas Bill datang saya buka sweater dan pakai baju Halodoc merah. Semua orang langsung nengok saya dan semua langsung geleng-geleng,” kenang Jonathan. Pada sesi tanya-jawab, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung memperkenalkan diri dan usaha Halodoc-nya di Indonesia.

Saya tidak minta uang pada Bill Gates. Tapi, saya memohon kerja sama dengan yayasan dia untuk membantu masyarakat Indonesia di daerah yang tertinggal di bidang kesehatan,” tukas Jonathan.

Bill langsung merespons positif. Mulai dengan bantuan untuk mengobati pasien yang terkena penyakit malaria dan polio, Bill kemudian tertarik untuk memberikan dampak lebih besar kepada masyarakat Indonesia lewat layanan telemedicine Halodoc.

“Setelah dua tahun, dia investasikan dana untuk proyek baru, khusus untuk bidan,” kata Jonathan. Halodoc kini memiliki aplikasi Bidanku dengan tujuan memberikan pelayanan lebih baik kepada ibu dan anak. Hubungan Halodoc dengan Bill and Melinda Foundation tidak ada aspek komersial, melainkan kemanusiaan. Halodoc menjalankan peran sebagai socialprenuer dengan memperhatikan kesinambungan proyek bantuan kemanusiaan.

Problem First

Jonathan Sudharta Foto: Beritasatu.com/Primus Dorimulu
Jonathan Sudharta Foto: Beritasatu.com/Primus Dorimulu


Saat pertama membangun Halodoc, demikian Jonathan, yang menjadi fokus adalah solusi. Setelah gagal, fokus diubah dari solution first ke problem first. “Kita sering sekali falling in love with solution. Ini keliru. Makanya mantra di Halodoc kini adalah don’t falling in love with solution, but falling in love with the right problem,” ujar Jonathan.

Karena fokus pada solusi, Halodoc langsung merekrut 4.000 dokter. Tapi, hasilnya benar-benar mengecewakan. Meski jumlah dokter banyak sekali, pasien tidak bisa terkontak dengan satu pun dokter. Semua dokter yang dihubungi pasien tidak merespons. Di aplikasi chat tidak ada percakapan. Yang ada hanya pertanyaan yang tidak dijawab. Pasien kecewa. Halodoc tidak lagi dimanfaatkan.

Tenaga pemasaran yang direkrut tidak mau menjual dan meminta berhenti. Dalam situasi galau itu, kata Jonathan, datang seorang bernama Alfons. Dia memberikan solusi mengejutkan. “Gua matikan semua dokter yang 4.000 itu. Cukup pilihkan lima yang memberikan respons terbaik kepada pasien. Kalau tidak sukses, lu nggak usah bayar gua,” ujar Jonathan menirukan pernyataan Alfons, profesional pemasaran yang baru direkrutnya.

“Alfons come up with a very simple solution. Kita nggak pernah pikir pentingnya virtual chat room yang aktif,” kenang Jonathan. Saat ini, setiap chat di WA langsung masuk ke handphone dokter. Dokter diingatkan untuk segera memberikan respons kepada pasien. Pada saat yang sama, respons apotek juga cepat. Halodoc tidak lagi dinomorduakan.

Hasilnya, rating Halodoc langsung naik signifikan. Pasien senang karena ada respons cepat dari dokter dan apotek. Nama Halodoc pun semakin dikenal luas. “Di situ, kami belajar apa artinya focus on problem first. Dulu, kami mulai dari solution first dan itu adalah dosa paling besar,” papar Jonathan.

Saat ini, Halodoc melayani sekitar 29 juta pasien aktif. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah pasien meningkat sekitar 25 kali. Pelayanan ini bisa dijalankan karena Halodoc bekerja sama dengan sekitar 2.000 rumah sakit, klinik, dan laboratorium serta 4.000 apotek.

Kompetitor Bukan Musuh
Berobat kini menjadi lebih mudah berkat kehadiran aplikasi digital yang menghubungkan pasien dengan dokter, juga dengan apotek dan laboratorium. Lewat platform komunikasi yang memfasilitasi interaksi dokter dan pasien, pelayanan medis bisa dilakukan 24 jam. Masyarakat mendapatkan akses yang lebih cepat untuk mendapatkam pelayanan kesehatan. Selama pandemi Covid-19, pengguna telemedicine naik enam kali lipat dari periode sebelumnya.

“Kunjungan pasien ke aplikasi telemedicine naik sekitar 600% selama masa pandemi,” kata Menkominfo Johnny Gerald Plate dalam sebuah diskusi virtual bulan lalu. Kehadiran telemedicine sudah menjadi jawaban bagi para pasien yang membutuhkan kecepatan pelayanan. Pada malam hari, ketika dokter tidak lagi praktik dan rumah sakit sudah tutup, telemedice memberikan solusi.

Kehadiran telemedicine menjadi solusi bagi pasien di saat pertemuan tatap muka dibatasi. Pandemi membatasi peregerakan manusia, termasuk pertemuan tatap muka langsung pasien dengan dokter. Jika tidak solusi medis yang membutuhkan tindakan bedah atau rawat-inap, pasien cukup menggunakan telemedicine. Perhimpunan Rumah Sakkit Seluruh Indonesia (PERSI) menyebutkan, pengguna aplikasi telemedicine sudah menembus sepuluh kali lipat akibat pandemi dan kemajuan teknologi digital.

“Yang menarik, para dokter senior yang awalnya tidak mau, kini mulai banyak melayani telemedicine dan teleconsult,” kata Jonathan. Saat ini, sudah lebih dari 20.000 dokter bergabung di Halodoc. Salah satu manfaat yang dirasakan para dokter adalah jumlah pasien yang tidak terikat oleh jarak geografis

Dokter di Papua, misalnya, bisa melayani pasien di Jakarta. Hal ini terjadi karena Halodoc melayani pasien selama 24 jam. Keberadaan dokter di berbagai wilayah Indonesia, di time zone yang berbeda, sangat membantu pasien. Pasien di Indonesia bagian barat bisa melayani pasien di Indonesia bagian timur pada pukul 02.00 WIT karena di Indonesia bagian barat masih pukul 00.00.

Pandemi “memaksa” pasien dan dokter menggunakan telemedicine. Perusahaan yang menyediakan aplikasi digital untuk melayani telemedicine sudah mencapai banyak dan yang tergabung di Asosiasi Telemedicine Indonesia sekitar 23. Pasien mendapatkan banyak alternatif untuk mendapatkan akses layanan kesehatan. “Kami tidak melihat pemain lain sebagai musuh. Semakin banyak yang ikut melayani, semakin banyak orang yang mendapatkan sentuhan pelayanan kesehatan. Itu filosofi di bidang kesehatan,” ungkap Jonathan.

Data Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menunjukkan, Alodokter kini menjadi perusahaan aplikasi telemedicine dengan jumlah dokter terbanyak, yakni 21.500 dokter umum dan 4.500 dokter spesialis. Di Halodoc ada 12.000 dokter umum dan 8.000 dokter spesialis. Aplikasi Klik Dokter menyediakan 9.000 dokter umum dan 2.000 dokter spesialis. Sedang yang tergabung di Good Dokter 10.000 dokter umum dan 2.500 dokter spesialis. Ada lagi Klik Dokter, Aido Dokter, dan banyak lagi. Tapi, jumlah dokter yang terlibat tidak sebanyak empat besar.

Sakit Mental

Jonathan Sudharta (kanan) bersama News Director BSMH Primus Dorimulu. Foto:  IST
Jonathan Sudharta (kanan) bersama News Director BSMH Primus Dorimulu. Foto: IST


Pelayanan kesehatan jarak jauh lewat aplikasi digital akan semakin menjadi kebutuhan pada masa akan datang. Pasca Covid-19, telemedicine akan semakin digemari. Jika bukan sakit parah yang membutuhkan penanganan langsung secara fisik atau harus rawat inap, telemedicine menjadi solusi.

“Sepanjang ada jaringan internet, kapan dan di mana pun, orang bisa mendapatkan layanan kesehatan,” kata Jonathan. Pemerintah pun kini gencar membangun infrastruktur digital di seluruh negeri. Ketika jaringan internet sudah tersambungkan ke seluruh negeri, kehadiran telemedicine menjadi solusi untuk pemerataan pelayanan kesehatan.

Di masa pandemi, ketika kontak fisik dibatasi, bahkan dilarang, telemedicine digunakan oleh masyarakat, baik untuk konsultasi dan mendapatkan pengobatan Covid-19 maupun penyakit lainnya. “Namun, ada satu jenis pengguna telemedicine yang meningkat signifikan, yakni mereka yang mengalami mental health atau kesehatan mental,” ungkap Jonathan.

Yang sangat menarik, kata Jonathan, adalah meningkatnya jumlah pasien yang mengalami mental health selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat(PPKM) level IV. Peningkatan itu mudah dipantau karena Halodoc juga menyediakan psikiater dan saat mereka meminta nasihat, pihak yang menangani adalah psikiater. “Peningkatannya benar-benar ekstrem,” tambahnya.

Mereka yang terganggu kesehatan mental, demikian Jonathan, bisa jadi pasien baru. Akibat pandemi, penyakit yang diderita, dan tekanan ekonomi, mereka terkena stres hingga depresi. Namun juga besar kemungkinan ada pasien yang sebetulnya sudah lama terkena depresi. Jika sebelumnya, mereka malu karena harus konsultasi fisik, lewat telemedicine mereka bisa berkonsultasi dengan bebas. Mereka curhat kepada psikiater dengan leluasa karena tidak bertatap muka.

Jumlah Dokter
Kemajuan telemedicine tidak berjalan seiring dengan jumlah dokter, apalagi dokter spesialis. Rasio dokter terhadap jumlah penduduk di Indonesia tergolong rendah dibanding negara anggota Asean lainnya. Empat orang dokter melayani 10.000 orang penduduk atau 0,4 rasio dokter per 1.000 penduduk. Jauh di bawah standar WHO, satu per 1.000 penduduk.

Dokter pun masih terkonsentrasi di Jawa. Data BPS tahun 2019 menunjukkan, lebih dari 50% dokter spesialis bekerja di Jawa. Pendidikan sekolah dokter spesialis di Indonesia masih dipersulit.

Indonesia juga terendah dilihat dari rasio tempat tidur rumah sakit per kapita, yakni baru 1,2 per 1.000 penduduk. Di Timor Leste, ada 5,9 tempat tidur rumah sakit per 1.000 penduduk, Vietnam 2,8 tempat tidur per 1.000 penduduk, Thailand 2,2 per 1.000 penduduk, dan Malaysia dua tempat tidur per 1.000 penduduk.

Kapasitas medis yang rendah baru terungkap pada masa pandemi. Selain jumlah dokter dan tempat tidur, rumah sakit di Indonesia tidak memiliki cukup ruang high care unit (HCU) dan intensive care unit (ICU).

Para dokter yang tergabung di Halodoc rata-rata sudah berkerja sebagai dokter selama 13 tahun. “Perkembangan terakhir, mereka yang 20-30 bekerja sebagai dokter sudah mulai tertarik bergabung di Halodoc,” papar Jonathan.

Penggunaan telemedicine tak terbendungkan. Pandemi membetot kesadaran kita untuk lebih peduli terhadap kesehatan dan bergerak cepat untuk mendapatkan layanan kesehatan, baik untuk pengobatan maupun tindakan preventif. Ini semua dimungkinkan oleh kemajuan digital dan telemedicine adalah jawaban untuk memperoleh layanan kesehatan yang cepat, murah, dan aman. (B1/FMB)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN