Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia

Bahlil: Semua Negara Sudah Rumuskan Strategi Tangani  Pandemi dan Pulihkan Ekonomi 

Minggu, 5 Desember 2021 | 17:15 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa semua negara menghadapi kesulitan untuk mengelola ekonomi pada saat awal pandemi Covid-19 terjadi di tahun 2020, apalagi pandemi hingga saat ini belum usai.  Alhasil menyebabkan pertumbuhan ekonomi dunia di tahun 2020 tercatat minus 3,1%.

Ia mengatakan pandemi telah menyerang aspek kesehatan, ekonomi hingga sosial dan ini tidak hanya menjadi masalah di Indonesia, melainkan di seluruh dunia. Meski begitu, saat ini berbagai negara di dunia termasuk Indonesia terus merumuskan strategi untuk mengendalikan pandemi Covid-19 dan memulihkan ekonomi.

“Tren pertumbuhan ekonomi 2021 minus, namun di 2021 semua negara melakukan strategi pulih pasca pandemi Covid-19  dan Indonesia akan fokus untuk memanage untuk memulihkan ekonomi pasca pandemic,” tuturnya.

Selain pertumbuhan ekonomi Indonesia kontraksi hingga 2,07% yoy, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah juga mengalami penurunan yang sangat dalam hingga 50%. Namun saat ini tingkat kepuasan masyarakat sudah kembali meningkat di level 72%, level ini bahkan sudah menyamai level di tahun 2018.

“Menurut saya ada dua faktor untuk mendorong ekonomi, pertama management leadership dengan memainkan strategi untuk mengelola pandemi dan menjinakkan pandemi Covid-19 melalui gas dan rem. Kemudian faktor kedua penerapan PPKM dengan berbagai skala itu adalah strategi. Alhamdulilah sampai sekarang setuju atau tidak setuju, strategi ini meminimalisir terjadinya lonjakan kasus Covid-19 secara harian,”tuturnya.

Di sisi lain ia menyampaikan bahwa arah pemulihan ekonomi di Indonesia sudah semakin baik, yang tercermin dari realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III masih positif di 3,51% yoy dengan kontribusi berasal dari konsumsi rumah tangga, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dan ekspor.  

Meskipun lebih rendah dari kuartal II yang tercatat 7,07% yoy namun kinerja ini lebih baik dibandingkan negara lain.

 “Saya harus sampaikan bahwa tidak semua negara tetangga itu punya peluang pertumbuhan ekonomi yang sama dengan Indonesia, seperti Malaysia di kuartal III dan kuartal III tercatat masih minus.  Untuk Indonesia kuartal III 3,51% yoy, capaian itu kerjanya cuma satu bulan, karena selebihnya Covid-19,” ujarnya.

Bahlil menegaskan bahwa daya beli akan muncul ketika ada kepastian pendapatan dan tersedianya lapangan pekerjaan yang diciptakan oleh dunia usaha. Oleh karena itu saat ini, arah investasi yang berasal dari PMA dan PMDN diharuskan melakukan kolaborasi bersama pelaku UMKM dengan tujuan agar semua pihak merasakan dampak positif dari masuknya investasi sehingga terjadi pemerataan ekonomi.

“Kami di Kementerian Investasi dorong agar investasi yang masuk tidak boleh dikerjakan oleh satu kelompok itu  saja,  harus kolaborasi dengan UMKM pengusaha nasional, kolaborasi asing dengan BUMN, swasta nasional supaya kue merata. Pemerataan tidak ada artinya, jika gini rasio tetap tinggi jadi lakukan penetrasi dengan kebijakan regulasi agar ada kolaborasi,”tegasnya.

Di sisi lain, ia mengakui bahwa orkestrasi (sinergi) di Kabinet Indonesia maju semakin baik dibandingkan enam bulan lalu yang ditandai dengan menurunnya kasus Covid-19 dan upaya pemerintah untuk terus memulihkan ekonomi nasional.

“Kalau orkestrasi yang kami lakukan, ibaratnya sudah kena uratnya, artinya Presiden Joko Widodo dengan pengalaman intuisi mantan pengusaha, Walikota Gubernur dan Presiden semakin kesini semakin menemukan cara yang efektif untuk mengelola kabinet dan melakukan komunikasi dengan pihak eksternal dan asosiasi Kadin, Hipmi dan Himpunan lainnya,” katanya.

Sehingga Bahlil memastikan bahwa kinerja ekonomi dapat terus pulih dan bangkit apabila semua pihak bekerja sama yakni pemerintah dan dunia usaha. Pasalnya pemerintah bertugas untuk membuat regulasi dan mengkomunikasikan kepada stakeholder untuk dapat dieksekusi secara baik.

Kemudian dari sisi kinerja investasi, Bahlil mengatakan saat ini sebaran investasi oleh penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) tidak hanya berfokus di pulau Jawa, melainkan semakin masif di Luar Jawa.  Hal ini tercermin dari dominasi investasi Luar Jawa  semakin konsisten sejak ia menjabat sebagai kepala BKPM di tahun 2019.

“Saya masuk di BKPM Oktober tahun 2019, investasi di Pulau Jawa tercatat 57% hingga 60% dan di luar Jawa 40-43%  di  tahun 2020 perintah Presiden bagaimana bangun investasi merata melalui instrumen investasi. Sejak kuartal III -2020 investasi di luar jawa mencapai 62%  dan sampai sekarang bertahan di  luar Jawa dominan,” ucapnya.

Menurutnya capaian pemerataan investasi antara Jawa dan Luar Jawa, tidak terlepas dari kebijakan Presiden Joko Widodo periode pertama yang mengarahkan pembangunan infrastruktur secara masif di luar Jawa untuk mendorong pemerataan ekonomi sehingga membuat investor tertarik masuk ke luar Jawa.

“Pembangunan infrastruktur lima tahun terakhir periode pertama Presiden Joko Widodo, betul-betul berdampak luar biasa, merubah pola pikir investor dalam negeri dan luar negeri untuk investasi di daerah. Dulu Maluku Utara siapa yang mau investasi di sana, sekarang salah satu daerah yang menerima investasi langsung (Foreign direct investor) terbesar yaknI Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara dan Riau mulai merata dan ini wujud transformasi ekonomi Presiden,”ungkapnya.

Dengan pemerataan investasi di Jawa dan Pulau Jawa, ia meyakini pemerintah investasi akan mendorong target penyerapan tenaga kerja sebesar 1,2 juta di tahun ini.

Untuk diketahui, realisasi investasi periode Januari –September tercatat Rp 659,4 triliun yang terdiri dari PMA Rp 331,7 triliun dan PMDN sebesar Rp 327,7 triliun. Dengan capaian penyerapan tenaga kerja di periode sepanjang tahun mencapai 912.402 ribu tenaga kerja.  

“Kami optimis kinerja investasi 2021, dan kami targetkan (investasi yang masuk) akan menyerap tenaga kerja langsung hingga 1,2 juta  pekerja, jadi kalau diputar tenaga kerja langsung teori ekonomi bisa di kali lipat dan kali lima.  Yang tidak langsung bisa sampai 4-5 juta tenaga kerja yang bisa dihasilkan.”tuturnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN