Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky

Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky

LPEM FEB UI Sarankan BI Tahan Suku Bunga Acuan di 3,5%

Kamis, 16 Desember 2021 | 09:14 WIB
Nasori

JAKARTA, investor.id – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) - Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) menyarankan kepada Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuannya atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di level 3,5% pada bulan ini. Ini diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung agenda pemulihan ekonomi.

“Mengingat ketidakpastian global yang lebih tinggi akhir-akhir ini, dalam rangka menjaga stabilitas rupiah dan mendukung agenda pemulihan ekonomi, BI perlu mempertahankan suku bunga acuan di tingkat 3,5% bulan ini,” ujar ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky dalam Seri Analisis Makrorkonomi yang diterima Investor Daily, Rabu (16/12/2021). Analisis ini disusun menyongsong Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung 15-16 Desember ini.

Riefky tak menampik bahwa aktivtias ekonomi domestik semakin menunjukkan perbaikan sejalan dengan menguatnya tingkat kepercayaan masyarakat yang ditandai dengan kenaikan inflasi serta indeks kepercayaan konsumen (IKK) dan purchasing manager index (PMI). Meski demikian, kenaikan kasus baru Covid-19 di beberapa negara akibat varian Omicron yang tampak menyebar lebih cepat menimbulkan risiko global sangat tinggi yang dapat memicu gelombang baru.

Akibatnya, kata dia, pengetatan kembali melalui pembatasan sosial yang diberlakukan pemerintah menjadi tak terelakkan, dan ini membahayakan pemulihan apa pun yang telah dilakukan rantai pasokan global di seluruh dunia. “Risiko pasar global juga meningkat dalam satu bulan terakhir sebagai dampak dari pengetatan kebijakan moneter yang lebih cepat akibat tren kenaikan inflasi,” kata Riefky.

Menurut dia, upaya pemerintah Indonesia untuk mencegah kasus Omicron maupun varian lain masuk ke Indonesia dan melonjak menjadi gelombang baru sangat penting guna menjaga momentum pemulihan ekonomi. Sedangkan dari sisi moneter, salah satu yang harus dilakukan bank sentral adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah pemulihan ekonomi dengan menahan suku bunga acuan di 3,5% bulan ini.

“(Sedangkan dari sisi fiskal), rencana Kementerian Keuangan untuk memperluas penerbitan obligasi pemerintah tahun depan akan terus mendukung pemulihan ekonomi dan langkah untuk mengantisipasi potensi gejolak di tahun 2022,” pungkas dia.

 

 

 

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN