Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur BI Perry Warjiyo

Gubernur BI Perry Warjiyo

Perry: Kenaikan Suku Bunga Acuan BI Bergantung Kondisi Inflasi

Kamis, 16 Desember 2021 | 23:22 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) menyatakan bila Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) mengurangi likuiditas (tapering) dan menaikkan suku bunga (fed fund rate) tidak akan langsung berdampak kepada suku bunga acuan BI. Keputusan tentang suku bunga acuan BI akan sangat ditentukan oleh inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

“BI akan tetap menempuh suku bunga 3,5% sampai ada tanda-tanda awal kenaikan inflasi,” ucap Perry dalam konferensi pers secara daring pada Kamis (16/12).

BI memperkirakan inflasi tahun 2022 berada di kisaran 3,5% plus minus 1%. Pertumbuhan ekonomi tahun 2021 berada dalam kisaran proyeksi Bank Indonesia yaitu 3,2-4,0%. Pada 2022 perekonomian akan berjalan lebih optimal di kisaran 4,7% sampai 5,5%.

Dari kajian yang dilakukan BI memperkirakan The Fed akan lebih cepat mengurangi pembelian aset pada Januari 2022. Kondisi ini disebabkan oleh tingkat inflasi yang sudah meningkat tinggi, di atas sasaran inflasi The Fed 2%. Diperkirakan, tingkat inflasi AS juga akan tetap tinggi pada 2022. Kemudian, tingkat pengangguran di AS terus mengalami penurunan, uang didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat. Menurutnya kenaikan Federal Funds Rate (FFR) baru akan dinaikkan setelah tapering off berakhir.

“Kemungkinan FFR akan naik sekali di kuartal III atau IV, tapi bacaan pasar dua kali, baru akan mulai di Juni 2022 mendatang,” ucap Perry.

Perry menuturkan normalisasi kebijakan moneter The Fed akan berdampak pada dua hal yaitu arus investasi portofolio global ke emerging market termasuk Indonesia serta perkembangan yield surat berharga negara (SBN) dan nilai tukar rupiah.

BI terus memantau perkembangan US Treasury agar bisa melihat dampaknya mengupayakan agar terjadinya stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, stabilitas nilai tukar, dan stabilitas pasar SBN.

“Bagaimana perkembangan US treasury, perlu juga dipertimbangka ndalam penyesuaian perkembangan yield SBN dalam negeri dan nilai tukar rupiah,” ucap Perry. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN