Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira

Cadev Desember Turun untuk Stabilisasi Rupiah dan Merespon Kebijakan The Fed

Jumat, 7 Januari 2022 | 21:32 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, posisi cadangan devisa (cadev) Desember yang turun tipis menjadi US$ 144,9 miliar,  karena digunakan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah, dan merespon kebijakan  tapering off atau pengurangan stimulus moneter oleh Bank Sentral AS.

“Selain itu cadev juga berkurang karena rencananya kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan negara maju, bukan hanya AS, tapi Bank of England (BoE) dan European Central Bank (ECB) yang tengah melakukan normalisasi kebijakan moneter,” tuturnya saat dihubungi, Jumat (7/1).

Lebih lanjut, tekanan dari tapering off dikhawatirkan membuat dana asing keluar dari pasar keuangan khususnya di pasar surat utang, sehingga BI melakukan langkah preventif untuk tahan depresiasi nilai tukar.

Di sisi lain faktor risiko inflasi yang meningkat di negara maju yang sifatnya persisten atau kontinu sampai tahun ini.

Dengan demikian, Bhima menilai posisi cadangan devisa di tahun ini berpotensi menurun karena untuk melakukan stabilisasi sejalan dengan kenaikan suku bunga acuan yang diperkirakan akan menyedot cadangan devisa lebih besar.

“Di sisi yang lain terdapat kekhawatiran varian Omicron melemahkan kinerja ekspor di pasar luar negeri,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa lonjakan kasus Omicron juga berisiko mengganggu rantai distribusi logistik sehingga membuat biaya pengiriman ekspor-impor naik signifikan.  

“Kita memang harus mewaspadai Omicron ini meski di Indonesia kasusnya tidak setinggi negara lain, tapi apa yang terjadi di AS dan Eropa berdampak juga pada kinerja perdagangan internasional,” paparnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN