Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Natan Kacaribu

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Natan Kacaribu

Kemenkeu Telah Siapkan Antisipasi Tapering dan Kenaikan Suku Bunga The Fed

Kamis, 13 Januari 2022 | 13:52 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan memastikan pemerintah telah mempersiapkan antisipasi sejak lama terkait rencana Bank Sentral AS untuk mempercepat menaikkan suku bunga dan mempercepat pengurangan pembelian aset atau tapering.

Kepala BKF Febrio Kacaribu mengatakan bahwa rencana tapering dan pengetatan kebijakan oleh Bank Sentral Amerika Serikat sudah lama digaungkan dan bukan rencana yang mendadak. Bahkan pihaknya bersama Bank Indonesia, sudah memantau pergerakan arah kebijakan moneter AS sejak awal 2021.

Hal ini dimulai dari, pulihnya ekonomi AS yang lebih cepat dari perkiraan yang mendorong peningkatan permintaan dan kenaikan inflasi di negara maju termasuk Amerika Serikat.

Tapering bukan tiba-tiba jadi sudah pantau bahkan sejak 2021 awal yang sudah terlihat dari kenaikan inflasi di negara maju itu sudah masuk perhitungan kita. Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter sangat erat terutama saat seperti ini,” tegasnya dalam Taklimat Media Tanya BKF, Rabu (12/1).

Koordinasi yang erat juga tercermin dari pergerakan laju inflasi dalam negeri yang terpantau masih terkendali sepanjang tahun lalu hanya 1,9%.

Di sisi lain,menurutnya Bank Indonesia juga memastikan akan terus memantau perkembangan global dan menjaga stabilitas pasar keuangan domestik termasuk rupiah dan aliran modal asing.

“Jaga stabilitas seperti apa, kurs seperti apa, capital flow seperti apa. Itu semua sudah jadi satu paket dan tidak terpisah pisah karena memang, dalam konteks perekonomian begitu,” ujarnya.

Meski begitu, ia tak menampik langkah mempercepat tapering telah memicu reaksi pasar , alhasil mempengaruhi pergerakan variable di sektor keuangan seperti nilai tukar, tingkat suku bunga, inflasi dan itu sudah menjadi satu paket yang telah dipertimbangkan pemerintah dan Bank Indonesia.

Kendati begitu, ia memastikan pemerintah dan Bank Indonesia akan terus mencermati dan mewaspadai berbagai perkembangan global, termasuk arah kebijakan moneter Bank Sentral AS.

“Beberapa fenomena ini sudah di- price in di pasar jadi kami dapatkan bacaan bacaan cukup early harusnya kita bisa cukup antisipasi. Tapi bukan berarti kita katakana selalu aman,  tidak. Kita juga sudah selalu bulan demi bulan, minggu demi minggu pantau dan antisipasi dilakukan,”tegasnya.

Dengan begitu, Febrio menegaskan bahwa instrumen APBN akan tetap diarahkan fleksibel dan countercyclical untuk merespon berbagai perkembangan terkini.

Pada kesempatan yang sama, Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan bahwa risiko normalisasi kebijakan moneter dari Bank Sentral AS harus dihadapi, sejalan dengan kenaikan laju inflasi di berbagai negara seperti AS dan Eropa.

Oleh karena itu, Josua meyakini bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang sangat baik akan menjadi penopang di saat upaya percepatan tapering. Sehingga normalisasi atau tapering yang akan dilakukan saat pandemi Covid-19, tidak akan menyebabkan dampak tantrum seperti krisis pada 2013 silam.

“Ini kami melihat dampak tapering dapat dimitigasi, dan dikomunikasikan oleh The Fed. Harapannya enggak terjadi tantrum di pasar keuangan global dan domestik. Pengumuman tapering dari tahun lalu dan rencana percepatan tapering sebenarnya market sudah bisa lebih price in dan antisipasi,”tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia, Hariyadi Ramelan menegaskan bahwa strategi yang dijalankan BI mencakup tetap menjaga likuiditas rupiah dan likuiditas valas untuk menjaga keseimbangan mekanisme supply demand di pasar domestik.

Sedangkan dari aspek instrumen moneter, BI memastikan akan terus melakukan stabilitas pasar keuangan domestik termasuk melakukan stabilisasi  rupiah, melalui triple intervention di pasar spot, DNDF dan pembelian SBN di pasar sekunder.

“Dari aspek instrumen moneter kita fokus utk stabilisasi , sementara instrumen makroprudensial tetap mendukung kebijakan moneter yang tetap akomodatif dengan melihat perkembangan inflasi terkini,”ungkapnya saat dihubungi Investor Daily, Senin (10/1).

Meski begitu, ia tak menampik bahwa isu terkait percepatan kenaikan suku bunga acuan dan pengurangan pembelian aset lebih cepat dari perkiraan menjadi isu yang sensitif di pasar (global dan domestik). Pasalnya keputusan dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16 Desember lalu berbeda dari perkiraan pasar.

“Ini juga menyebabkan yield US Treasury 10 tahun saat ini sudah naik 22 bps mencapai 1,77%. The Fed akan menurunkan secara drastis atau hanya run off dari balance sheet-nya, yang saat ini sudah mencapai US$ 8,7 triliun saat ini  dari  posisi awal US$ 800 miliar saat sebelum pandemic,” tegasnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN