Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Kapal Kontainer. Foto: Pixabay

Ilustrasi Kapal Kontainer. Foto: Pixabay

Duh, setelah Kontainer, Ekspor Kini Terkendala Ruang Muat Kapal

Senin, 17 Januari 2022 | 06:35 WIB
Thresa Sandra Desfika (thresa.desfika@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Pebisnis logistik menyampaikan persoalan kegiatan ekspor Indonesia yang dipicu shortage atau kelangkaan kontainer sekarang ini tidak lagi menjadi isu sentral, namun lebih dipengaruhi keterbatasan space atau ruang muat kapal yang terjadi sejak Oktober tahun 2021 lalu hingga saat ini.

Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan, akibat keterbatasan space kapal mother vessel tujuan berbagai pelabuhan utama dunia itu menjadi salah satu variabel fluktuasi ongkos angkut pengapalan atau freight.

Baca juga: Selama Pandemi, ALFI: Belanja Online Naik 37%

"Saat ini yang sangat terkena akan kenaikan freight itu untuk ekspor kita seperti komoditi furniture, tekstil, makanan minuman, sedangkan untuk otomotif dan elektronik relatif masih aman. Hal itu berdasarkan hasil survei kegiatan ekspor di beberapa negara di Asean untuk tujuan Amerika Serikat (AS) dan Eropa sama," ujar Yukk dalam keterangan resmi, Minggu (16/1).

Oleh karena itu, imbuh dia, perlu didorong polanya cost, insurance, and freight (CIF) dalam melakukan kegiatan ekspor. CIF menjadi salah satu metode pembayaran dagang internasional saat para pelaku bisnis internasional melakukan transaksi ekspor impor.

Meskipun demikian, kata Yukki, ALFI mencatat telah terjadi kenaikan ekspor nasional pada tahun 2021, khususnya terhadap tiga jenis komoditi dan indikator ini dapat terlihat di tiga pelabuhan utama di Jawa, yakni Pelabuhan Tanjung Priok, Tanjung Emas, dan Tanjung Perak.

Selain fluktuasi freight ekspor tujuan AS, hal yang sama juga masih dialami untuk tujuan Shanghai, Tiongkok dan bahkan diprediksi masih akan terjadi sampai dengan Imlek.

"Fluktuasi freight ekspor kedua negara tujuan itu saat ini cenderung menjadi harga patokan. Dan yang paling dikhawatirkan dengan fluktuasi freight untuk tujuan AS ini, tidak kompetitifnya produk ekspor kita. Namun hal ini dirasakan bukan oleh Indonesia saja tetapi hampir seluruh negara di dunia yang bisa berdampak pada kontraksi ekonomi global, ditambah hantaman belum berakhirnya pandemi Covid-19 lantaran varian baru Omicron," jelas Yukki.

Kendati begitu, Yukki mengatakan kelangkaan persoalan keterbatasan space kapal peti kemas ini harus terus dicarikan solusinya karena telah mendorong fluktuasi freight yang sangat ekstrem pada sejumlah rute pengiriman internasional dan mengakibatkan kenaikan harga logistik. 

Baca juga: ALFI Optimistis Industri Logistik Terus Tumbuh di 2022 

"Pemberian subsidi kepada eksportir perlu dilakukan oleh pemerintah, khususnya terhadap komoditas yang memiliki daya saing tinggi sehingga mampu mengubah cara pembayaran ekspor dari FOB (free on board) menjadi CIF dan memiliki bargaining terhadap buyer di luar negeri. Selain itu mendorong main line operator (MLO) secara berkesinambungan melakukan repositioning (repo) kontainer kosong yang masih tertahan di beberapa tempat di pelabuhan luar negeri," ungkap Yukki.

Editor : Theresa Sandra Desfika (theresa.sandra@investor.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN