Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Kapal Kontainer. Foto: Pixabay

Ilustrasi Kapal Kontainer. Foto: Pixabay

ALFI: Ketersediaan Slot Kapal Masih Jadi Kendala di Tengah Geliat Ekspor

Senin, 24 Januari 2022 | 17:41 WIB
Thresa Sandra Desfika (thresa.desfika@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Pelaku bisnis logistik mengungkapkan geliat ekspor impor sudah mulai dirasakan sejak memasuki awal tahun 2022 ini dan diprediksi akan terus berlangsung hingga hari raya Imlek atau Chinese New Year.

Kendati begitu, biaya logistik ekspor masih dirasakan cukup tinggi seperti tujuan Amerika Serikat maupun Eropa lantaran terkendala slot atau ruang muat kapal kontainer yang terjadi sejak tahun lalu.

"Jika mengacu pada data BPS (Badan Pusat Statistik), nilai ekspor RI pada 2021 mengalami kenaikan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Harapannya masih optimistis tahun 2022 ini pun bisa tetap tumbuh," ujar Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi dalam keterangan resmi, Senin (24/1).

Baca juga: Duh, setelah Kontainer, Ekspor Kini Terkendala Ruang Muat Kapal

Indikator pertumbuhan ekspor, imbuhnya, juga terjadi sejak awal Januari 2022 di mana aktivitas pada sejumlah pelabuhan utama di Tanah Air cukup padat. Bahkan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta hampir setiap harinya jalur distribusi dari dan ke pelabuhan tersibuk di Indonesia itu tak luput dari kemacetan.

"Berdasarkan informasi yang diperoleh ALFI, pelabuhan lainnya seperti di Semarang (Jawa Tengah), Surabaya (Jawa Timur), Belawan (Sumatera Utara), dan Makassar (Sulawesi Selatan) juga cenderung mengalami peningkatan aktivitas ekspor maupun impor menjelang hari raya Imlek tersebut," ucap dia.

Namun, kata Yukki, jika ongkos pengapalan atau freight kontainer ekspor ke beberapa negara tujuan seperti Amerika Serikat dan Eropa terus mengalami kenaikan dan tidak bisa dikendalikan seperti saat ini, justru akan berdampak negatif bagi kelangsungan perdagangan secara global, bukan hanya di Indonesia.

"Memang ada peningkatan ekspor pada tahun 2021, yakni komoditas migas (minyak dan gas) dan non-migas dan terus kita lihat lagi bagaimana dengan komoditas batu bara dan CPO (crude palm oil). Kemudian untuk yang ekspor menggunakan kontainer seperti manufaktur elektronik, automotive, furnitur, tekstil, sepatu, serta komoditas makanan minuman. Ekspor untuk kendaraan juga mengalami peningkatan pada tahun lalu," jelasnya.

Yukki mengatakan, mengutip data BPS bahwa secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-Desember 2021 mencapai US$ 231,54 miliar atau naik 41,88% dibanding periode yang sama tahun 2020. Demikian juga ekspor non-migas mencapai US$ 219,27 miliar atau naik 41,52%.

BPS merilis, berdasarkan sektor, ekspor non-migas hasil industri pengolahan Januari-Desember 2021 naik 35,11% dibanding periode yang sama tahun 2020, demikian juga ekspor hasil pertanian naik 2,86%, dan ekspor hasil tambang dan lainnya naik 92,15%.

Adapun menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari-Desember 2021 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$ 33,86 miliar (14,62%), diikuti Kalimantan Timur US$ 24,32 miliar (10,5%), dan Jawa Timur US$ 23,00 miliar (9,94%).

Baca juga: Ruang Muat Kapal untuk Ekspor Terbatas, Apa Dampaknya bagi Samudera Indonesia (SMDR)?

Sedangkan untuk impor pada tahun 2021, berdasarkan data BPS menyebutkan, menurut golongan penggunaan barang, nilai impor Januari-Desember 2021 terhadap periode yang sama tahun sebelumnya terjadi peningkatan pada barang konsumsi US$ 5.529,5 juta (37,73%), bahan baku/penolong US$ 44.174,2 juta (42,8%), dan barang modal US$ 4.924,1 juta (20,77%).

Adapun tiga negara pemasok barang impor non-migas terbesar selama Januari-Desember 2021 adalah Tiongkok US$ 55,74 miliar (32,66%), Jepang US$ 14,61 miliar (8,56%), dan Thailand US$ 9,08 miliar (5,32%). Impor non-migas dari Asean US$ 29,31 miliar (17,17%) dan Uni Eropa US$ 10,97 miliar (6,43%).

Editor : Theresa Sandra Desfika (theresa.sandra@investor.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN