Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia. Foto: Humas BKPM

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia. Foto: Humas BKPM

Bahlil: Nilai Investasi Hilirisasi Batu Bara Capai Rp 33 Triliun

Senin, 24 Januari 2022 | 17:50 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan, nilai investasi proyek hilirisasi batu bara menjadi dimetil eter (DME) mencapai Rp 33 triliun. Hilirisasi ini dilakukan antara PT Bukit Asam Tbk, PT Pertamina, dan Air Product and Chemicals.

“Kami menyampaikan bahwa realisasi investasi ini sebesar Rp 33 triliun, waktu seharusnya 36 bulan tapi kami rapat dengan Air Product kami minta 30 bulan,” ucap Bahlil dalam Groundbreaking proyek hilirisasi batu bara menjadi dimetil eter di Kawasan Industri Tanjung Enim, Muara Enim, Sumatera Selatan, Senin (24/1).

Air Product and Chemicals merupakan perusahaan internasional Amerika Serikat yang bisnis utamanya adalah menjual gas dan bahan kimia untuk keperluan industri. Bahlil mengatakan, dengan adanya investasi dari perusahaan Amerika Serikat ini menunjukan Indonesia terbuka melakukan investasi dari negara mana pun. Tidak hanya menjalankan kerja sama dengan negara tertentu.

Baca juga: Jokowi Groundbreaking Hilirisasi Batu Bara Jadi DME

“Jadi sekaligus penyampaian bahwa jika benar kalau ada pemahaman negara ini hanya fokus investasi 1 negara. Ini buktinya kami membuat perimbangan, Amerika investasinya cukup besar. Ini investasi kedua setelah Freeport yang terbesar untuk tahun ini,” kata Bahlil.

Dia mengatakan, pekerjaan ini akan menghasilkan 13 ribu lapangan pekerjaan dari sisi konstruksi yang dilakukan oleh Air Product. Lalu, 12 ribu lapangan kerja di di hilir oleh Pertamina. Sedangkan untuk produksi di lapangan mencapai 3 ribu lapangan kerja.

“Itu (lapangan kerja) yang langsung, tetapi yang tidak langsung, kontraktor dan subkontraktor ini bisa 3 sampai 4 kali lipat dari yang ada. Tenaga kerjanya 90% dari Indonesia yang 5% itu hanya masa konstruksi, masa produksinya itu akan dilibatkan PT Bukit Asam dan PT Pertamina,” ucap Bahlil.

Baca juga: Erick Thohir: BUMN Komitmen Lakukan Hilirisasi Batu Bara

Dia menuturkan, hasil dari gasifikasi ini akan mengurangi impor sehingga dapat menjaga kondisi neraca perdagangan hingga neraca transaksi berjalan. Rata-rata impor LPG setiap tahun mencapai 7 juta ton. Hal ini memakan biaya subsidi APBN yang besar. Bahlil mengatakan, dari perhitungan yang dilakukan setiap 1 juta ton hilirisasi, bisa melakukan efisiensi Rp 6 triliun sampai Rp 7 triliun. “Jadi, tidak ada alasan lagi untuk kita tidak mendukung program hilirisasi untuk melahirkan substitusi impor,” jelas Bahlil.

Dalam hilirisasi ini, pemerintah melibatkan Kementerian BUMN, Kementerian ESDM, dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). “Terima kasih banyak kepala BPKP. Ini tidak ada lagi curiga-curiga karena semua ini transparan,” ucapnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN