Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Gubernur BI: Kita Pantas Optimistis

Kamis, 27 Januari 2022 | 14:10 WIB
Triyan Pangastuti ,Primus Dorimulu (primus@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) optimistis kinerja ekonomi Indonesia tahun ini akan semakin kuat dengan proyeksi pertumbuhan di kisaran 4,7-5,4% dibandingkan 2021 yang diperkirakan hanya 3,2-4,0%. Optimisme ini dilandasi oleh banyak alasan di antaranya akselerasi konsumsi swasta dan investasi di tengah tetap terjaganya belanja fiskal pemerintah dan ekspor dengan tetap terus mewaspadai risiko kenaikan kasus Covid-19.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, sinergi kebijakan yang erat dan capaian perekonomian pada 2021 juga menjadi dasar semangat untuk bangkit dan semakin optimistis akan percepatan proses pemulihan ekonomi Indonesia 2022.

“Dalam Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2021 kami sampaikan secara rinci optimisme kami di tahun 2022. Pertumbuhan ekonomi insya Allah akan lebih baik, 4,7-5,4%,” ujar dia dalam peluncuran Laporan Transparansi dan Akuntabilitas Tahun 2021 secara hybrid, Kamis (26/1).

Laporan Transparansi dan Akuntabilitas Bank Indonesia (BI) 2021, di Jakarta, Rabu (26/1/2022). Foto:  Investor Daily/Primus Dorimulu
Laporan Transparansi dan Akuntabilitas Bank Indonesia (BI) 2021, di Jakarta, Rabu (26/1/2022). Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Laporan Transparansi dan Akuntabilitas Tahun 2021 tersebut meliputi Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2021, Laporan Tahunan Bank Indonesia (LTBI) 2021, serta Laporan Ekonomi dan Keuangan Syariah (LEKSI) 2021. Peluncuran laporan yang tahun-tahun sebelumnya dilakukan secara terpisah, sekarang digelar serentak dengan mengangkat tema “Bangkit dan Optimis: Sinergi dan Inovasi Untuk Pemulihan Ekonomi”.

Perry tak menampik bahwa pemulihan ekonomi yang semakin kuat dan mobilitas masyarakat yang meningkat akan mendorong sisi permintaan yang lebih besar. Alhasil, hal itu akan memberikan dampak pada peningkatan sisi inflasi. Meski demikian, ia optimistis inflasi akan tetap terkendali sesuai target sasaran BI.

“Inflasi memang akan naik, insya Allah dapat dikendalikan sesuai sasaran 3% plus minus 1%,” tandas dia.

Gubenur BI Perry Warjiyo dalam acara Laporan Transparansi dan Akuntabilitas Bank Indonesia (BI) 2021, di Jakarta, Rabu (26/1/2022). Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu
Gubenur BI Perry Warjiyo dalam acara Laporan Transparansi dan Akuntabilitas Bank Indonesia (BI) 2021, di Jakarta, Rabu (26/1/2022). Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Di sisi lain, Perr y menilai, kinerja nilai tukar rupiah juga akan mengalami tekanan tahun ini. Hal ini tidak terlepas dari kebijakan normalisasi bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed dan sejumlah Negara maju lain. Meski demikian, ia memastikan, bank setral akan tetap menjaga stabilitas rupiah sesuai fundamentalnya dengan terus berkoordinasi bersama Kemenkeu.

“Stabilitas nilai tukar rupiah juga ditopang kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang tetap baik,” ucap Perry.

Akselerasi pemulihan ekonomi, lanjut Perry, juga dibarengi dengan stabilitas yang tetap terjaga. Stabilitas eksternal pada tahun ini diperkirakan terpelihara dengan defisit transaksi berjalan yang tetap rendah dan berada pada kisaran 1,1- 1,9% dari produk domestik bruto (PDB), dengan surplus neraca transaksi modal dan finansial yang meningkat.

Kredit Perbankan

Gubenur BI Perry Warjiyo dalam acara Laporan Transparansi dan Akuntabilitas Bank Indonesia (BI) 2021, di Jakarta, Rabu (26/1/2022). Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu
Gubenur BI Perry Warjiyo dalam acara Laporan Transparansi dan Akuntabilitas Bank Indonesia (BI) 2021, di Jakarta, Rabu (26/1/2022). Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Sementara itu, Bank Indonesia memproyeksi kredit perbankan nasional akan tumbuh 7-9% pada tahun ini. Peningkatan ini didukung oleh ketahanan sistem keuangan yang diperkirakan tetap terjaga dan intermediasi perbankan yang mulai melanjutkan perbaikan secara bertahap.

“Bahkan Pak Jahja Setiaatmadja (presiden direktur BCA) menyampaikan ke saya bisa lebih tinggi. Alhamdulilah, terima kasih. Tentu saja Bapak Kartika Wirjoatmodjo (Wamen BUMN) akan sangat mendukung untuk itu. Mari kita tingkatkan kredit dan pembiayaan untuk pemulihan ekonomi nasional,” tegas dia.

Sementara itu, meski BI mengurangi likuiditas atau melakukan normalisasi kebijakan likuiditas dengan menaikkan secara bertahap GWM (giro wajib minimum) rupiah perbankan yang saat ini 3,5% mulai Maret mendatang, Bank Sentral tetap mendorong perbankan untuk menyalurkan kredit.

Oleh karena itu, kebijakan itu dilakukan dengan tetap memastikan kemampuan perbankan dalam penyaluran kredit/pembiayaan kepada dunia usaha dan partisipasi dalam pembelian SBN untuk pembiayaan APBN. BI memprediksi, kebijakan itu tidak menganggu operasional bank dan penyaluran kredit. 

Sebab, rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) yang tidak berpengaruh terhadap kemampuan perbankan dalam menyalurkan kredit adalah 10%. Dengan penerapan kebijakan penaikan GWM, AL/DPK yang saat ini mencapai 35,1% hanya akan turun menjadi 30% kuartal III-2022.

Adapun keseluruhan dana pihak ketiga yang akan diserap kebijakan ini sekitar Rp 200 triliun.

Selain sinergi dan koordinasi kebijakan ekonomi nasional yang erat, lanjut Perry, untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional juga akan ditentukan oleh prasyarat kecepatan vaksinasi yang terus dikebut oleh pemerintah untuk mencapai kekebalan kelompok atau herd immunity.

“Terima Kasih ke pemerintah yang sangat cepat. Insya Allah sebentar lagi booster,” ucap dia.

Perry menambahkan, pembukaan sektor ekonomi, stimulus fiskal dan moneter, pembiayaan yang meningkat, serta reformasi sektor riil dan sektor keuangan yang terus dilakukan, akan menjadi faktor lain yang memperkuat optimisme bahwa pemulihan ekonomi akan terjadi tahun ini.

Pendanaan APBN

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Menurut Perry, koordinasi fiskal dan moneter yang semakin diperkuat juga menjadi modal lain untuk optimistis terhadap perbaikan ekonomi tahun ini. Tidak saja dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong pemulihan ekonomi nasional, selama ini telah dilakukan BI melalui partisipasi Bank Indonesia dalam pendanaan APBN.

Dalam kaitan ini, lanjut Perry, Bank Indonesia mendukung penuh upaya pemerintah dan berpartisipasi dalam pendanaan APBN untuk akselerasi vaksinasi maupun penanganan kesehatan dan kemanusiaan akibat pandemi Covid-19. Sepanjang 2021, Bank Indonesia telah melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) untuk pendanaan APBN 2021 sebesar Rp 358,32 triliun Sedangkan pada tahun ini hingga 18 Januari 2022, BI telah membeli SBN di pasar perdana sebesar Rp 2,20 triliun.

Perry menambahkan bauran kebijakan BI tahun ini akan terus disinergikan sebagai bagian dari arah kebijakan ekonomi nasional untuk mengakselerasi pemulihan ekonomi dan menjaga stabilitas perekonomian.

“Kebijakan moneter akan kami arahkan untuk stabilitas, menjaga inflasi dan tentu saja stabilitas nilai tukar karena tekanan global yang meningkat. Tapi empat kebijakan lain, makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar, inklusi ekonomi dan keuangan hijau serta kebijakan internasional,” papar dia.

Pada kesempatan itu, Perry menyebutkan, transformasi menyeluruh yang ditempuh Bank Indonesia sejak tahun 2018 terus diperluas dan diperkuat, baik transformasi kebijakan maupun transformasi kelembagaan, termasuk dalam menyikapi cepatnya digitalisasi.

“Transformasi kelembagaan juga terus diperkuat sebagai langkah nyata untuk membangun Bank Indonesia sebagai lembaga bank sentral dengan kinerja yang unggul. Hal ini untuk mendukung pencapaian dan memastikan terlaksananya mandat Bank Indonesia secara kredibel,” pungkas dia.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo. Foto: IST
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo. Foto: IST

Sedangkan Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo memastikan bahwa bank sentral akan tetap mempertahankan suku bunga rendah hingga munculnya risiko lonjakan inflasi. Kebijakan ini juga untuk mendukung proses pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung.

“Kami akan mempertahankan suku bunga rendah sampai ada indikasi risiko inflasi,” ujar Dody saat berbicara pada Seminar Internasional G20: Safeguarding Growth Momentum yang menjadi bagian rangkaian acara peluncuran Laporan Transparansi dan Akuntabilitas Bank Indonesia 2021.

Ia menjelaskan, apabila tidak ada risiko lonjakan inflasi di tahun ini, maka suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate akan tetap di level sekarang, yakni 3,5%. “Kalau tidak ada indikasi, kami akan pertahankan suku bunga rendah,” tegas Dody.

Pada kesempatan tersebut, Deputy Director General, Ministry of Economy and Finance Korea Selatan Byungsik Jung menyampaikan pentingnya pengelolaan utang dan aliran modal dalam menjaga momentum pemulihan ekonomi global. Pasalnya, normalisasi di negara maju akan meningkatkan tekanan terkait dengan utang dan aliran modal sehingga diperlukan dukungan dan kerja sama global dalam mengatasi tantangan tersebut.

Ia juga mengatakan, faktor vaksinasi akan dilihat sebagai hal yang positif oleh investor sehingga bisa menghambat laju capital outflow.

Siap Ekspansi

Royke Tumilaar. Foto: IST
Royke Tumilaar. Foto: IST

Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Royke Tumilaar optimistis perekonomian Indonesia tahun ini membaik. “Sejalan dengan pemulihan ekonomi nasional, pihaknya juga meyakini permintaan kredit akan pulih, didukung dengan mobilitas masyarakat. Dunia usaha pun sudah mengalami pemulihan dan siap berekspansi. “Hal ini tentu akan mendorong permintaan kredit ke perbankan,” ujar dia dalam paparan kinerja BNI 2021, Rabu (26/1).

Sepanjang 2021, BNI menyalurkan kredit sebesar Rp 582,44 triliun, tumbuh 5,3% (yoy). Pertumbuhan tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan industri perbankan yang tumbuh 5,2% (yoy).

Untuk tahun ini, perseroan memasang target kredit lebih tinggi didukung pemulihan ekonomi. “Sementara untuk first half ini, kami yakin kredit 2022 bisa tumbuh perkiraannya 7-10%,” ujar Royke.

Direktur Treasury & International Banking PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Panji Irawan. Foto: IST
Direktur Treasury & International Banking PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Panji Irawan. Foto: IST

Secara terpisah, Direktur Treasury & International Banking PT Bank Bank Mandiri (Persero) Tbk Panji Irawan memperkirakan, pertumbuhan ekonomi pada tahun ini bisa mencapai 5,17% (yoy) atau lebih tinggi dari perkiraan pertumbuhan pada tahun 2021 yang sebesar 3,69% (yoy).

Meski berpotensi meningkat, Panji mengingatkan masih ada beberapa tantangan yang membayangi prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Tantangan utama adalah peningkatan penyebaran Omicron yang menjadi risiko pemulihan ekonomi Indonesia yang sedang berlangsung. Harus monitor perkembangan kasus tersebut,” kata Panji.

Sejalan dengan proyeksi pemulihan ekonomi nasional, Bank Mandiri juga optimistis kinerja perbankan membaik.

“Untuk 2022 saya yakin masih melanjutkan 2021, di mana 2021 lebih baik dari 2020 dan kami meyakini 2022 economic growth juga lebih tinggi dibandingkan 2021. Ini berarti outlook di perbankan juga sangat optimistis. Untuk pertumbuhan dari sisi kredit, DPK, juga dari sisi transaksi. Itu kami sangat meyakini 2022 pasti lebih optimistis,” tutur Panji.

Sedangkan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Perindustrian Bobby Gafur optimistis pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun ini bisa mencapai 5%. Pasalnya, di akhir tahun lalu, Indonesia mencatatkan kinerja yang sangat baik dibandingkan negara-negara lain yang terdampak pandemi Covid-19, menyusul suksesnya penanganan pandemic oleh pemerintah.

Hal tersebut kata dia, juga terlihat posisi indeks penanaman modal asing (PMA) yang masuk kategori bertumbuh. Kemudian, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memproyeksikan realisasi investasi tahun lalu bisa mencapai Rp 900 triliun. “Ini semua motor utamanya, setelah dua tahun krisis. Ini orang-orang sudah mulai optimistis bahwa kita sudah pada tahapan recovery,” kata dia kepada Investor Daily, Rabu (26/1).

Kondisi ini, lanjut dia, didukung juga oleh sejumlah kebijakan pemerintah yang membantu industri, salah satunya kebijakan harga gas dalam negeri US$ 6 per juta british thermal unit (million british thermal unit/mmbtu), yang mendorong kinerja industri keramik hingga bisa mengekspor produknya. Berikutnya, kebijakan larangan ekspor bahan mentah seperti nikel, akan menumbuhkan industri-industri baru.

Kemudian, adanya program transisi energi dalam rangka merespons isu global terkait perubahan iklim, akan memunculkan peluang baru di sektor industru penunjang  Yang juga menjadi motor penggerak, tambah Bobby, yakni belanja negara. Pasalnya, dua industri yang tumbuh tinggi, yakni konstruksi dan logam, berkorelasi dengan proyek-proyek pemerintah. Hal lainnya, adanya proyeksi bahwa varian Omicron merupakan akhir dari pandemi dan akan berubah menjadi endemi.

“Sehingga rasanya di kuartal II sampai akhir tahun akan terjadi suatu recovery yang lebih cepat. Jadi kalau kita lihat target pertumbuhan ekonomi itu 5%, bisa,” tegas dia.

Hendra Sinadia, Direktur Eksekutif APBI. Sumber: BSTV
Hendra Sinadia, Direktur Eksekutif APBI. Sumber: BSTV

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menilai, proyeksi pertumbuhan ekonomi Bank Indonesia cukup realistis. Salah satu asumsinya adalah harga komoditas batu bara pada tahun ini masih akan ada di level yang posiif.

“Oleh karena itu diharapkan agar ekspor batu bara ke depan akan mulai lancar agar kita bisa memanfaatkan momentum harga komoditas yang diperkirakan masih di level positif di 2022. Dengan catatan tentu skema pelaksanaan pasokan batu bara utk PLN berjalan lancar,” ungkap dia.

Namun, terkait proyeksi pertumbuhan kredit di sektor tambang, meurut dia, dinilainya masih sulit diprediksi. Hal ini menyusul adanya kebijakan larangan ekspor di awal tahun yang dapat memaksa sebagian perusahaan mengkaji lagi rencana ekspansi mereka. Apalagi, pemerintah juga berencana menaikkan tarif royalty bagi perusahaan pertambangan batu bara pada 2022 ini.

“Jika kenaikan tarifnya dirasakan nantinya sangat membebani, maka sebagian perusahaan dapat saja menangguhkan rencana ekspansinya,” tutur Hendra.

Lebih Menjanjikan

Pengamat Ekonomi CORE Indonesia Piter Abdullah dalam acara Webinar dengan tema Sinergi Bersama Mendorong UMKM Untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional secara virtual pada Rabu (8/12/2021). Webinar ini merupakan kerjasama Majalah Investor dengan Youtab Indonesia, PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. PT. Jamkrindo (Persero), PT. Pegadaian (Persero) dan Astrapay. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Pengamat Ekonomi CORE Indonesia Piter Abdullah  Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah meperkirakan pertumbuhan global 2022 tidak akan sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik. Perekonomian domestik lebih menjanjikan pada 2022, lantaran didukung oleh tingginya harga komoditas, di mana komoditas adalah produk utama ekspor Indonesia.

Secara historis pun, pertumbuhan Indonesia mencapai titik tertinggi ketika terjadi boom harga komoditas.

“Selain itu, kita juga masih ada low base effects. Sedikit aja kenaikan output, akan terhitung pertumbuhan ekonomi yang tinggi,” jelas Piter Abdullah kepada Investor Daily, kemarin.

Banyak alasan untuk optimistis
 
Banyak alasan untuk optimistis
 
Banyak alasan untuk optimistis
 

Dengan asumsi tidak terjadi gelombang ketiga pandemi Covid-19 yang memaksa pemerintah melakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang ketat, Piter optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 bisa kembali ke level jangka panjangnya di kisaran 5% atau bahkan lebih.

“Jadi, proyeksi BI di kisaran 4,7% sampai dengan 5,4% bukanlah proyeksi optimis tetapi termasuk konservatif,” kata Piter menegaskan. Lebih lanjut Piter mengatakan, mulai pulihnya ekonomi, --dengan asumsi pandemi terus mereda--, akan mendorong permintaan kredit yang lebih tinggi.

“Untuk pertumbuhan ekonomi di kisaran 5%, secara historis dibutuhkan pertumbuhan kredit double digit. Kalau BI memproyeksikan pertumbuhan kredit di kisaran 7-9%, itu saya kira sudah mempertimbangkan arah kebijakan moneter yang ketat dan hawkish,” ujarnya.

Pelaku usaha, menurut Piter, akan merespons positif dengan melakukan ekspansi usaha dan mengambil kredit perbankan.

“Saya meyakini perusahaan- perusahaan akan cepat mengantisipasi pulihnya ekonomi, terutama pada sektor-sektor yang saat ini sudah secara bertahap kembali normal beroperasi. Hanya sektor-sektor tertentu yang masih terdampak negatif pandemi, seperti perhotelan dan transportasi, saya kira yang belum akan segera mengambil pembiayaan kredit perbankan,” jelasnya.

Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5,6% di tahun 2022 dan meningkat jadi 6,0% pada tahun 2023, masing-masing turun 0,3% poin dan 0,4% poin dari perkiraan sebelumnya. IMF juga memangkas pertumbuhan ekonomi global 0,5% poin menjadi 4,4% untuk 2022, dan turun 0,2% poin menjadi 3,8% untuk 2023.

IMF menyarankan agar pemerintah Indonesia untuk tetap waspada atas peningkatan sejumlah risiko eksternal, di antaranya gelombang baru penyebaran Covid-19 dan meningkatnya tekanan inflasi global.

Selain itu, pengetatan pasar keuangan global sehubungan dengan normalisasi kebijakan moneter di beberapa negara maju, terutama di Amerika Serikat, juga perlu diantisipasi. (nid/ayu/ts/ark)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN