Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

The Fed Diperkirakan Naikkan Suku Bunga 4 Kali, Ini Jadwalnya

Kamis, 27 Januari 2022 | 14:49 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id -  Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo kembali menegaskan proyeksi skenario yang telah dilakukan BI bahwa suku bunga acuan Bank sentral AS, The Fed, akan naik empat kali di tahun 2022.

Kenaikan akan dimulai pada bulan Maret 2022, kemudian berlanjut pada setiap kuartal di bulan berikutnya. Normalisasi kebijakan moneter AS dilakukan untuk menstabilkan sisi inflasi di AS yang sudah melambung tinggi.

"Di pasar keuangan, tahun ini kemungkinan normalisasi kebijakan AS kami perkirakan naik empat kali, di bulan Maret, Juni, September, dan akhir tahun (2022)," kata Perry Warjiyo dalam Rapat Kerja Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bersama Komisi XI DPR RI, Kamis (27/1).

Meski begitu, ia tak menampik bahwa kenaikan suku bunga The Fed akan berpengaruh pada tingkat imbal hasil US Treasury dan keluarnya aliran modal asing (capital outflow) di negara-negara emerging termasuk Indonesia. Akan tetapi masih akan ada peluang tumbuh bagi Indonesia.

"Peluang untuk tetap mendorong pemulihan ekonomi tetap ada, tapi ada sejumlah risiko yang bisa kita antisipasi agar tetap bisa pemulihan ekonomi Indonesia," ucapnya.

Perry meyakini pertumbuhan ekonomi di tahun ini akan terus menguat dengan proyeksi 4,7% hingga 5,5%. Perbaikan ini didukung momentum pemulihan ekonomi yang terus menguat disertai percepatan vaksinasi sehingga mendorong meningkatnya mobilitas masyarakat, dan konsumsi swasta akan terkerek naik.

“Di samping itu,  ekspor tetap tumbuh tinggi dan mulai meningkatnya investasi baik proyek infrastruktur nasional dan kebutuhan korporasi dan secara keseluruhan kami perkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini 4,7-5,5%  khususnya di sektor sektor yang memang orientasi ekspor dan berbagai hal yang seusia mobilitas masyarakat,” tegasnya.

Peningkatan melanjutkan pemulihan di tahun 2021. Pertumbuhan mulai membaik khususnya di kuartal II meski pada kuartal III 2021 varian Delta memperlambat.

"Geliat ekonomi tahun lalu tumbuh 3,2% -4% oleh kenaikan ekspor yang tinggi dan dukungan stimulus fiskal yang besar," ujar Perry.

Sementara itu, sisi eksternal secara keseluruhan akan membaik, mulai dari neraca pembayaran Indonesia, Current Account Deficit (CAD) hingga arus modal asing yang masih cukup kuat di tahun ini akan menopang sisi cadangan devisa.

“Saya sampaikan tahun ini, CAD sekitar -1 sampai 1,9%  itu relatif bagus. Arus modal asing baik dan cadev juga cukup baik. Secara fundamental kondisi eksternal  cukup bagus termasuk tahun  ini antisipasi normalisasi kebijakan The Fed,” tukasnya.

Lebih lanjut dia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI-7DRR sebesar 3% sampai tanda-tanda inflasi meningkat. Kemungkinan, kata Perry, peningkatan inflasi di Indonesia baru terjadi pada kuartal III 2022 atau di kuartal akhir 2022.

Disamping itu, tingkat suku bunga yang rendah mampu mengeksplorasi suku bunga kredit di perbankan menurun, termasuk suku bunga dasar kredit (SBDK).

"Tentu saja kami akan lakukan kebijakan lainnya. Kami akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah bagaimana menyikapi kenaikan US Treasury dengan berkoordinasi dengan Menteri Keuangan," tandas Perry Warjiyo.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN