Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petani sedang menebarkan pupuk ke tanaman. Foto ilustrasi: (website Kementan)

Petani sedang menebarkan pupuk ke tanaman. Foto ilustrasi: (website Kementan)

Kemenkop UKM: Sistem Integrated Farming akan Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Minggu, 13 Februari 2022 | 16:10 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM terus menggulirkan program Korporatisasi Petani yang kemudian dikembangkan menjadi Integrated Farming, Kemenkop UKM juga bakal mewujudkan banyak koperasi modern, khususnya yang bergerak di sektor pangan.

"Dalam integrated farming, kami akan kembangkan Koperasi Multi Pihak untuk mensejahterakan anggota dan masyarakat sekitar," kata Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Arif Rahman dalam siaran pers yang diterima pada Minggu (13/2).

Sistem Integrated Farming dimanfaatkan untuk produktivitas sektor pertanian, dimana kotoran sapi dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kandang bagi pakan ternak hijauan. Selain itu, dapat juga dijadikan biogas sebagai energi alternatif untuk kebutuhan sehari-hari anggota koperasi dan masyarakat sekitar.

Advertisement

Baca juga: Teten Masduki: Integrated Farming Perkuat Korporatisasi Petani

Arif mengatakan pembukaan integrated farming ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki ke Mas Ihsan Farm milik Sri Darmono Susilo di Cikampek, belum lama ini, yang terbilang sukses menerapkan integrated farming sistem. Ini yang akan direplikasi di banyak daerah lain di Indonesia.

“Upaya Kabupaten Sumedang dalam membangun kluster pangan, seperti ternak sapi, domba, yang juga dapat diintegrasikan dengan ketersediaan pakan ternak yang bersumber dari kacang koro. Sehingga, ekosistem integrated farming dapat menjadi andalan Pemerintah Kabupaten Sumedang,” kata Arif Rahman.

Program Integrated Farming juga merupakan exit strategy dari tantangan terhadap kebutuhan kemandirian pangan bagi suatu negara. Integrated Farming System sendiri, merupakan sistem pertanian dengan upaya memanfaatkan keterkaitan antara tanaman perkebunan, pangan, hortikultura, hewan ternak dan perikanan, untuk mendapatkan agroekosistem, yang mendukung produksi pertanian (stabilitas habitat), peningkatan ekonomi dan pelestarian sumber daya alam.

“Kebutuhan akan pangan sangat mendesak dan menjadi tantangan bagi dunia di tengah ancaman krisis pangan sehingga perlu kita antisipasi sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam,” tutur Arif Rahman.

Baca juga: UGM Usulkan 4 Strategi Integrated Farming System

Menurut Arif, integrated farming system, yang mengelola potensi pertanian dari hulu ke hilir, dianggap menjadi model yang pas untuk ditiru para petani dan peternak, maupun koperasi di sektor pangan. Tak hanya dinilai bisa meningkatkan kesejahteraan petani, integrated farm ini juga diyakini mampu memperkuat ketahanan pangan di Indonesia.

Misalnya Mas Ihsan Farm, saat ini, hasil pertanian dan peternakan yang menerapkan model integrated farming system ini mampu menghasilkan omzet Rp 8-11 miliar per bulan. Di atas lahan berukuran 20 hektar, mampu menghasilkan aneka produk. Mulai dari pangan, energi (biogas), pakan ternak, hingga pupuk organik (asam humat).

Jika hanya dari dari seekor sapi atau domba, hanya menghasilkan pendapatan tak lebih dari 30% saja. Namun, jika dengan peternakan terintegrasi dengan sistem Closed-Loop akan menghasilkan banyak produk yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi.

Baca juga: Kemenkop dan UKM Gandeng MNC Dorong Digitalisasi UMKM 

Dari seekor sapi, 30%  hanya menghasilkan energi dan daging. Sedangkan 70% lainnya menghasilkan biogas, pakan, dan pupuk kompos. Yang paling mahal adalah menghasilkan bibit atau sel sapi (sperma dan sel telur).

"Namun, yang terpenting dalam pengelolaan model pertanian integrated farm ini letaknya pada kemampuan dari SDM menghubungkan antar elemen yang ada. Sehingga, diharapkan memang benar-benar dipelajari secara menyeluruh dan mendalam," kata Arif Rahman.

Diharapkan Mas Ihsan Farm bisa menjadi inkubator bagi UKM (petani dan peternak) yang akan belajar tentang integrated farming. Dimana mereka akan ikut nyata berproses dari awal hingga produk dilepas ke pasar.

"Kita memang harus fokus pada produksi dan pemasaran. Dan kita akan rancang model bisnisnya hingga menyiapkan offtaker," kata Arif Rahman.

Baca juga: Kemenkop dan UKM Gandeng Ralali.com Majukan UKM Indonesia

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumedang Herman Suyatman berharap program integrated farming bisa dijalankan secara totalitas, bukan sekadar sporadis Bila integrated farming di Desa Ujungjaya berjalan sukses, maka bisa direplikasi di desa-desa lainnya di Sumedang yang berjumlah 270 desa. Terlebih lagi, saat ini, Sumedang memiliki modal strategis sebagai wilayah terdepan dalam hal transformasi digital di Indonesia.

"Yang penting menjadi fokus kita adalah output, outcome, hingga benefit dari integrated farming," kata Herman.

Dengan mengembangkan integrated farming, produk yang dihasilkan petani dan peternak bisa memiliki nilai tambah. Hal itu bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mengentaskan kemiskinan di Sumedang. Oleh karena itu, Herman akan mendorong pembentukan koperasi petani yang pada prosesnya akan menyerap (membeli) produk yang dihasilkan petani dengan harga baik. Jangan sampai produksi integrated farming sebaik mungkin, namun saat masuk pasar harganya jatuh.

"Integrated farming harus disiapkan secara matang semua proses dari hulu hingga hilir. Dan sangat memungkinkan bila dikembangkan dalam wadah koperasi," kata Herman. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN