Menu
Sign in
@ Contact
Search
Pekerja menyelesaikan pembuatan kripik tempe di industri UMKM Kuliner Tempe di Depok, Jawa Barat. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pekerja menyelesaikan pembuatan kripik tempe di industri UMKM Kuliner Tempe di Depok, Jawa Barat. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Harga Kedelai Naik, Pengrajin Tempe Bogor Kurangi Produksi

Selasa, 15 Feb 2022 | 11:54 WIB
Vento Saudale (redaksi@investor.id)

BOGOR, investor.id   - Melonjaknya harga kedelai dari Rp 9.000 menjadi Rp 11.600 per kilogram memaksa sebagian pengrajin tempe Bogor mengurangi produksi. Namun hal tersebut tidak mengurangi harga tahu tempe di pasaran.

Salah satu pengrajin tempe, Kasmono (45) di RT 05/04, Kelurahan Kebonpedes, Kecamatan Tanahseral, Kota Bogor mengaku mengurangi produksi tempe seiring kenaikan harga kedelai beberapa hari terakhir. Sejak harga kedelai naik sekitar Rp 2.000 per kilogramnya, ia mengurangi produksi setengahnya.

“Setiap hari biasanya kami mengolah 1.000 kilogram kedelai untuk menjadi tempe. Karena kedelai naik, saya hanya mengolah 500 kilogram kedelai,” katanya, Selasa (15/2/2022).

Salah satu pengrajin tempe di Kebonpedes, Tanah Sareal Kota Bogor tengah mengolah kedelai menjadi tempe, Selasa (15/2/2022)
Salah satu pengrajin tempe di Kebonpedes, Tanah Sareal Kota Bogor tengah mengolah kedelai menjadi tempe, Selasa (15/2/2022)

Padahal, kata dia, pada Januari tahun lalu, harga kedelai berada di kisaran angka Rp 9.000 hingga Rp 9.500 per kilogram. 

Advertisement

Baca juga: Gobel Minta Kemendag Stabilkan Harga Kedelai

Kelompok usaha tempe Kasmono sendiri terdiri dari 5 anggota, mereka mendapat jatah 12 ton dalam setiap minggunya dan masing-masing anggota mendapatkan jumlah berbeda tergantung kemampuan pengrajin.

Seiring dengan makin naiknya harga kedelai, mereka mengusahakan 12 ton kedelai dapat diolah hingga 2 minggu.

Baca juga:  Kemendag Jamin Harga Kedelai Tetap Terjangkau

Kasmono menjelaskan, untuk 500 kilogram kedelai dapat diolah menjadi 4.000 bungkus tempe dan menghasilkan Rp 12 juta (Rp 3000/bungkus). Sedangkan untuk biaya sekali produksi, Kasmono harus menyiapkan modal Rp 8,3 juta. Hal itu, belum termasuk ongkos tiga karyawan.

“Keuntungan Rp 2,2 juta, belum dipotong ongkos karyawan dan biaya listrik. Kami juga tidak bisa menaikkan harga tempe karena sudah menaikkan pada tahun lalu” papar Kasmono.

Berdasarkan data yang diterima, harga jual  berbagai jenis dari pengrajin ke pedagang berada di angka Rp 3.000 hingga Rp 4.000 per buah. Sodik mengatakan, harga tersebut ditetapkan dengan penyesuaian dari pengrajin ke pedagang.

“Kalau dari pedagang ke Konsumen untuk saat ini harga jual rata-rata Rp 4.000 per bungkus,” ucapnya.

Baca juga: Importir Diminta Jaga Harga Kedelai Agar Tetap terjangkau

Sementara, salah satu pedagang sayur di Pasar Bogor, Junaedi (33) menuturkan, tidak ada kenaikan untuk harga tahu atau tempe yang dijualnya.

"Harga tahu Rp600 per potong dan tempe Rp4.000," kata Edi.

Pun demikian, Edi menyebut, pada pedagang hanya dibatasi untuk stok setiap harinya. Semula untuk tempe diberi jatah 25 papan (buah) saat ini berkurang 20. Demikian juga dengan tahu, dari 25 bungkus menjadi 20 bungkus.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com