Menu
Sign in
@ Contact
Search
Oke Nurwan, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan RI, dalam diskusi Zooming with Primus - Mengatasi Krisis Kedelai, live di Beritasatu TV, Kamis (24/2/2022). Sumber: BSTV

Oke Nurwan, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan RI, dalam diskusi Zooming with Primus - Mengatasi Krisis Kedelai, live di Beritasatu TV, Kamis (24/2/2022). Sumber: BSTV

Kemendag Serahkan Harga Kedelai ke Mekanisme Pasar

Kamis, 24 Februari 2022 | 17:00 WIB
Herman (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id  - Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan menyampaikan, Indonesia selama ini masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap kedelai impor, di mana lebih dari 80% kedelai untuk kebutuhan bahan baku pengrajin tahu dan tempe berasal dari impor.

“Kita tidak bisa mengatur harga kedelai karena memang posisi kita membutuhkan dan mengimpor. Apalagi rata-rata lebih dari 80% kebutuhan pengrajin tahu tempe berasal dari bahan baku impor. Sehingga kita harus memastikan adanya keseimbangan pasar mengikuti mekanisme pasar, itu harus dipahami oleh semua pihak baik masyarakat maupun pengrajin tahu tempe,” kata Oke Nurwan dalam program Zooming with Primus bertajuk “Mengatasi Krisis Kedelai” yang disiarkan langsung di Beritasatu TV, Kamis (24/2/2022).

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan RI Oke Nurwan (kanan bawah), Guru Besar IPB Dwi Andreas Santosa (kanan atas), Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifudin (kiri atas), dan Anggota DPR RI Dedi Mulyadi (kiri bawah) serta Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu saat program Zooming With Primus (ZWP) dengan tema Mengatasi Krisis Kedelai, Kamis (24/2/2022). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan RI Oke Nurwan (kanan bawah), Guru Besar IPB Dwi Andreas Santosa (kanan atas), Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifudin (kiri atas), dan Anggota DPR RI Dedi Mulyadi (kiri bawah) serta Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu saat program Zooming With Primus (ZWP) dengan tema Mengatasi Krisis Kedelai, Kamis (24/2/2022). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Baca juga: Pengrajin Tempe Minta Pemerintah Turunkan Harga Kedelai

Oke menyampaikan, yang paling penting bagi pemerintah dalam kondisi saat ini adalah memastikan keberlangsungan usaha sekitar 150.000 UMKM pengrajin tahu tempe. Jangan sampai mereka berhenti berproduksi karena tidak adanya kedelai impor sebagai bahan baku. Untuk itu, pemerintah harus selalu memastikan ketersediaan bahan baku.

“Kita bicara dengan para importir, lebih baik ada daripada tidak ada, lebih baik tersedia walaupun harga tinggi daripada tidak tersedia. Karena masalahnya di sini keberlangsungan usaha UMKM, pastikan mereka bisa tetap berusaha, bisa berproduksi, dan kita berikan juga edukasi ke publik mengenai pasarnya,” ujarnya.

Baca juga: Harga Kedelai Tinggi dan Beberapa Pengrajin Tempe Tahu Bogor Setop Jualan

Oke sendiri mengaku tidak setuju dengan kebijakan subsidi atau bantuan terhadap harga kedelai. Ia lebih memilih bermain di mekanisme pasar.

“Kalau harga kedelai kita turunkan, tahu tempe harus turun, dan tidak pernah turun. Sebab kalau kita bantu harga kedelai diturunkan, tahu tempe otomatis harus turun dong, tetapi ini kan tidak. Jadi artinya biarkan mekanisme pasar,” kata Oke.

Meski begitu, pemerintah tidak akan tinggal diam. Selain memastikan ketersediaan bahan baku, pemerintah juga akan membantu dari sisi menekan biaya produksi.

Baca juga: Harga Kedelai Naik, Pengrajin Tempe Bogor Kurangi Produksi

“Bagaimana menekan biaya produksi, banyak caranya. Jangan subsidi harga kedelai, tapi berbentuk yang lain supaya bisa menurunkan biaya produksinya. Contoh lain yang kemarin sudah dipikirkan pak Aip (Ketua Umum Gabungan Koperasi Tahu Tempe) adalah membantu pengrajin tahu tempe untuk mendapatkan komponen bahan bakar LPG, itu saya setuju, saya akan bantu itu. Sehingga kalau pengrajin tahu tempe dapat bantuan bahan bakar gas LPG dengan harga standar, tidak di harga pasar, itu akan membantu menurunkan biaya produksi,” kata Oke.

Yang lainnya adalah mendorong bantuan kepada pengrajin yang tergabung dalam koperasi melalui Kementerian Koperasi dan UKM, misalnya membantu meningkatkan kapabilitas, meningkatkan daya pemasaran, hingga membuka peluang ekspor tempe.

“Itu yang harus dibangun, bagaimana biaya produksi ditekan dengan bantuan komponen produksi, selain itu pemasaran dibantu. Kami siap membantu memberikan akses pasar, kemudian kami juga memastikan ketersediaan,” kata Oke.

Dedi Mulyadi, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, dalam diskusi Zooming with Primus - Mengatasi Krisis Kedelai, live di Beritasatu TV, Kamis (24/2/2022). Sumber: BSTV
Dedi Mulyadi, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, dalam diskusi Zooming with Primus - Mengatasi Krisis Kedelai, live di Beritasatu TV, Kamis (24/2/2022). Sumber: BSTV

Wakil Ketua Komisi IV DPR Dedi Mulyadi justru punya pandangan berbeda. Menurutnya, pemerintah harus melakukan intervensi terhadap harga kedelai. Pasalnya bantuan biaya produksi biasanya tidak akan menurunkan harga jual tempe dan tahu. Pengusaha tahu tempe akan tetap menjadikan harga kedelai yang tinggi sebagai patokan untuk menentukan harga. 

Baca juga:  Dedi Mulyadi Minta Pemerintah Intervensi Kenaikan Harga Kedelai

“Kalau saya sih pemerintah harus melakukan intervensi terhadap harga kedelai. Kalau tidak intervensi, harga kedelai pasti mahal. Kalau harga kedelai mahal, walaupun gas dibantu, listrik dibantu, bangunan dibantu, tetap tahu tempe akan mahal karena bantuan itu tidak akan diakui sebagai komponen yang menurunkan harga produksi mereka,” kata Dedi.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com