Menu
Sign in
@ Contact
Search
Dwi Andreas Santosa, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), dalam diskusi Zooming with Primus - Mengatasi Krisis Kedelai, live di Beritasatu TV, Kamis (24/2/2022). Sumber: BSTV

Dwi Andreas Santosa, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), dalam diskusi Zooming with Primus - Mengatasi Krisis Kedelai, live di Beritasatu TV, Kamis (24/2/2022). Sumber: BSTV

Prof Dwi Anreas: Tidak Benar Kedelai Tanaman Subtropis

Kamis, 24 Februari 2022 | 18:01 WIB
Herman (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id  – Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dwi Andreas Santoso meyakini Indonesia dalam lima tahun ke depan bisa lepas dari ketergantungan impor kedelai, bila upaya tersebut dilakukan serius mulai tahun ini. Anggapan bahwa kedelai hanya tumbuh dan berproduksi tinggi di negara-negara subtropis (berhawa dingin) dan kurang cocok jika ditanam di Indonesia juga tidak benar. Misalnya di Cerrado Brazil, pusat budidaya kedelai juga berada di lahan kering.

“Sangat memungkinkan Indonesia mengembangkan kedelai. Kalau ada yang bilang kedelai hanya cocok di subtropis, itu bohong besar,” kata Andreas dalam program Zooming with Primus bertajuk “Mengatasi Krisis Kedelai” yang disiarkan langsung di Beritasatu TV, Kamis (24/2/2022).

Zooming with Primus - Mengatasi Krisis Kedelai, live di Beritasatu TV, Kamis (24/2/2022). Sumber: BSTV
Zooming with Primus - Mengatasi Krisis Kedelai, live di Beritasatu TV, Kamis (24/2/2022). Sumber: BSTV

Andreas mengungkapkan, di wilayah Cerrado yang menjadi pusat produksi kedelai di Brazil, kapasitas produksinya untuk lahan 1 hektar sekitar 3 ton. Ia juga meyakini Indonesia bisa mencapai kapasitas tersebut dengan melihat kondisi iklim dan tanah yang mirip Cerrado. Pasalnya di beberapa wilayah jaringan tani IPB, budidaya kedelai bisa menghasilkan hingga 2,7 ton per hektar dan masih berpotensi untuk lebih ditingkatkan. 

Baca juga: Dedi Mulyadi Minta Pemerintah Intervensi Kenaikan Harga Kedelai

“Kalau kita serius, 5 tahun selesai. Kita bicara yang 2,6 juta ton saja yang untuk memenuhi kebutuhan pengrajin tahu dan tempe,” kata Andreas.

Ketua Umum Gabungan Koperasi Tahu Tempe (Gakoptindo) Aip Syarifudin juga meminta pemerintah menggenjot produksi kedelai lokal. Upaya ini menurutnya sangat penting agar pengusaha tahu dan tempe tidak lagi terpengaruh dengan impor kedelai yang harganya kerap melonjak karena mengikuti pasar dunia.

Baca juga: Kemendag Serahkan Harga Kedelai ke Mekanisme Pasar

"Coba ditingkatkan produksi kedelai lokal, karena kedelai lokal lebih bagus gizinya daripada kedelai impor, dan lebih enak kalau dibuat tahu. Karena yang impor kan kebanyakan GMO (Genetically Modified Organis), yang ditanam pakai zat kimia," ujarnya.

Aip Syarifuddin, Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), dalam diskusi Zooming with Primus - Mengatasi Krisis Kedelai, live di Beritasatu TV, Kamis (24/2/2022). Sumber: BSTV
Aip Syarifuddin, Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), dalam diskusi Zooming with Primus - Mengatasi Krisis Kedelai, live di Beritasatu TV, Kamis (24/2/2022). Sumber: BSTV

Baca juga: Tempe Makanan Sejuta Umat, Seknas Jokowi Dorong Budidaya Kedelai Lokal

Aip menyampaikan, saat ini kebutuhan pengrajin tahu tempe anggota Gakoptindo sekitar 1 juta ton kedelai lokal per tahun. Pengrajin anggota Gakoptindo juga bersedia membeli kedelai lokal dengan harga tinggi, jika kualitas dan kebersihannya sudah diperbaiki, tidak lagi kotor seperti selama ini.

“Kami bersedia membeli harga kedelai lokal, bukan Rp 6000 – Rp 7.000, mungkin Rp 9.000 atau lebih. Satu tahun kebutuhan kedelai lokal 1 juta ton, makanya butuh dukungan perbankan dan lain-lain untuk itu,” kata Aip.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com