Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kecaribu. (Istimewa)

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kecaribu. (Istimewa)

BKF: Kenaikan Harga Komoditas Perburuk Inflasi Negara Maju

Senin, 4 April 2022 | 12:49 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id -  Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menyebutkan lonjakan harga komoditas telah memperburuk pemulihan ekonomi global. Kenaikan tersebut memicu inflasi di berbagai negara maju, khususnya Eropa.

“Ancaman geopolitik Rusia-Ukraina meski ada harapan ke arah perdamaian. Tapi harga komoditas naik tinggi hingga memperburuk tekanan inflasi di banyak negara maju dan Eropa terkena langsung dampak risiko geopolitik,” tuturnya dalam Taklimat Media, Senin (4/4).

Advertisement

Baca juga: Pemerintah Disarankan Genjot Bansos untuk Redam Lonjakan Inflasi

Menurut Febrio, tingkat inflasi global berpotensi melonjak dari semula 3,8% menjadi 4,6% tahun ini. Inflasi diprediksi mulai melandai pada 2023.

Kenaikan inflasi di negara maju akan berpengaruh pada aktivitas ekonomi, sehingga beberapa negara mempercepat pengetatan kebijakan moneter. Amerika Serikat juga mulai agresif menaikkan tingkat suku bunga.

“Konsensus pasar katakan kebijakan moneter di AS akan meningkatkan (suku bunga acuan) setiap menggelar rapat Federal Open Market Committee (FOMC) meeting beberapa bulan kemudian ada konsensus 5 kali, 7 kali berturut . Ini relatif cepat kenaikan dibandingkan sebelum-sebelumnya kenaikan dari Fed Fund Rate (FFR),” tuturnya.

Tensi geopolitik yang meningkat, Febrio memastikan, akan terus dipantau dengan berbagai yang ditindaklanjuti dengan mitigasi terhadap berbagai risiko yang muncul pada pasar keuangan domestik.

Baca juga: Rencana The Fed Menaikkan Suku Bunga Buat Harga Emas Tertekan

“Ini menjadi risiko bagi negara berkembang, seperti Indonesia, volatilitas arus modal mulai terlihat. Kami akan terus memantau dan memitigasi dampaknya, untuk nilai tukar rupiah masih sangat baik dikelola oleh otoritas moneter BI sehingga cukup stabil”tegasnya.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN