Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

Ini Prediksi BI soal Kenaikan Suku Bunga The Fed, Seberapa Agresif?

Rabu, 13 April 2022 | 21:16 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) memperkirakan, bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) akan lebih agresif dalam mengerek suku bunga. Hal ini tidak lepas dari tensi geopolitik Rusia-Ukraina yang makin meningkat, kenaikan harga komoditas energi dan pangan, serta lonjakan inflasi.

Gubernur BI Perry Warjiyo memprediksi The Fed akan menaikkan suku bunga kebijakan 7 kali pada tahun ini atau bahkan kenaikannya berpotensi lebih tinggi lagi dari perkiraan BI.

Menurutnya, menaikkan suku bunga merupakan langkah bank sentral maju untuk menormalkan lonjakan inflasi dan menjaga ekonominya. "Kenaikan inflasi AS yang tinggi sekarang ada dampak kenaikan harga energi dari geopolitik dari tensi Rusia dan Ukraina. Fed Fund Rate (FFR) akan naik 7 kali, kami menakar kemungkinan kenaikan FFR lebih tinggi," ucapnya dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2022, Rabu (13/4/2022).

Perry melihat, tentu ini akan membawa dampak terhadap Indonesia, khususnya terkait dengan aliran modal asing. Sebab investor cenderung memilih aset yang aman.

Baca juga: Ini Alasan Mengapa BI Tahan Suku Bunga Acuan

Dalam hal ini, Perry mengaku akan terus memantau perkembangan terkini untuk meminimalisir dampak negatif dari kebijakan The Fed ini, di antaranya dengan penyesuaian imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang terukur, stabilisasi nilai tukar rupiah, dan kecukupan cadangan devisa.

Ia merinci, untuk penyesuaian yield SBN, dilakukan seiring dengan langkah The Fed yang membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury yang meningkat. Menurut pengamatannya, US Treasury sudah meningkat hingga ke 2,3% dan bahkan ada kemungkinan kembali naik.

"Jika US Treasury naik, maka secara mekanisme pasar ada tekanan tekanan yield SBN dalam negeri meningkat. Dan, ini adjustment atau penyesuaian yield SBN dikoordinasikan dengan Kemenkeu dan BI ada kenaikan tapi kenaikan yang tentu saja secara wajar dan masih memberikan daya tarik arus modal asing masuk," pungkasnya.

Dia memastikan BI akan terus bekerja sama dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani untuk melakukan penyesuaian terhadap imbal hasil SBN untuk tetap memberikan daya tarik kepada investor global.

Baca juga: Harga Pangan dan Energi Naik, BI Optimistis Inflasi Tetap Terkendali

Di samping itu, BI akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan berada dipasar dan ia masih optimistis rupiah akan bergerak sesuai mekanisme pasar. Keyakinan ini didukung oleh faktor positif berupa neraca dagang yang masih surplus dan kondisi neraca transaksi berjalan yang baik.

Selanjutnya cadangan devisa yang merupakan penopang nilai tukar rupiah juga masih tinggi. Alhasil, pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan stabil.

"Kita bersama KSSK dan Kemeneku dan BI telah dan akan terus pastikan langkah langkah memastikan stabilitas eksternal terjaga, stabilitas moneter, sistem keuangan terjaga dampak kenaikan Fed Fund Rate dan ketegangan politik serta kenaikan US Treasury," ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN