Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Per 1 April, Realisasi PEN Masih Rendah

Rabu, 13 April 2022 | 22:12 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mencatat, realisasi anggaran program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) hingga 1 April 2022 sebesar Rp 29,31 Triliun. Capaian tersebut baru 6,4% dari alokasi total anggaran PEN tahun ini sebesar Rp 455,62 triliun.

Sri Mulyani menegaskan kinerja PC-PEN didorong oleh klaster perlindungan sosial senilai Rp 22,74 triliun atau 14,7% dari pagu Rp 154,76 triliun yang telah digunakan untuk mendukung kelompok paling rentan.

Advertisement

“Program perlindungan sosial diberikan melalui Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Sembako, Kartu Prakerja, Bantuan Langsung Tunai Desa serta bantuan tunai untuk pedagang kaki lima dan nelayan,” ucapnya dalam Konferensi Pers KSSK, Rabu (13/4/2022).

Baca juga: Ini Prediksi BI soal Kenaikan Suku Bunga The Fed, Seberapa Agresif?

Program kedua dengan penyaluran terbesar yakni klaster penguatan ekonomi hanya baru terealisasi Rp 5,02 triliun  atau 2,9% dari alokasi pagu Rp 178,32 triliun yang digunakan terutama untuk mendukung pemulihan pariwisata, meningkatkan ketahanan pangan, membantu UMKM dan insentif perpajakan.

Selanjutnya program yang ketiga terkait kesehatan  realisasinya sebesar Rp 1,55 triliun atau 1,2% dari pagu anggaran Rp 122,54 triliun.

Namun Sri Mulyani mengatakan, angka tersebut masih kecil karena pemerintah masih belum selesai melakukan pembayaran biaya perawatan pasien Covid-19.

Baca juga: Ini Alasan Mengapa BI Tahan Suku Bunga Acuan

“Kita juga akan melihat terutama realisasi untuk pemberian pembayaran dari tagihan-tagihan terutama untuk perawatan dari pasien Covid-19 tahun lalu yang saat ini masih sedang dilakukan audit dan verifikasi,” ujarnya.

Menkeu menambahkan, dalam mengantisipasi dan menghadapi gejolak dan tekanan global yang masih berlangsung, instrumen APBN tetap menjadi shock absorber atau peredam guncangan dari gejolak dan tekanan global yang berpotensi memberi risiko bagi ekonomi Indonesia.

Selain itu, APBN juga akan mendukung daya beli masyarakat terutama bagi kelompok rentan dan memberikan dukungan melalui program PEN tersebut.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN