Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Chief Executive Officer (CEO) Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA) Ridha Wirakusumah. (BSMH/Primus Dorimulu)

Chief Executive Officer (CEO) Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA) Ridha Wirakusumah. (BSMH/Primus Dorimulu)

INA Siap Investasi di Bidang Digital Ecosystem, Infrastruktur, hingga Energi Terbarukan

Kamis, 21 April 2022 | 02:19 WIB
Amrozi Amenan dan Tri Murti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id -- Chief Executive Officer (CEO) Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA) Ridha Wirakusumah mengatakan, INA siap melakukan investasi di sektor-sektor yang sudah dipilih, yakni digital ecosystem, mulai dari green infastructure, digital services, digital e-commerce, dan berbagai macam infrastruktur, seperti jalan tol, pelabuhan udara, pelabuhun laut, dan juga investasi di bidang kesehatan dan energi, terutama energi terbarukan.

“Kami ingin membantu membangun kesejahteraan bagi anak cucu kita di masa depan. Juga membantu Indonesia untuk membangun terutama di bidang infrastruktur dan bidang perekonomian lainnya secara sustainable,” kata Ridha di sela acara buka bersama (bukber) di Jakarta, Rabu (20/4/2022).

Untuk itu, kata Ridha, INA akan ber-co-investasi, ber-partner dengan para penyandang dana investor baik dalam negeri maupun luar negeri.

“Cuma, memang untuk INA itu sebetulnya ada tiga dimensi bukan saja dari pendanaannya, juga dari segi investasi yang tepat dengan governance yang baik dan dengan membangun kapasitas kompetensi yang unggul sehingga investasi tadi itu akan mempunyai nilai tambah sehingga bisa dikembangkan kembali untuk kekayaan masa depan,” papar dia.

Saat ini modal INA diperkirakan mencapai Rp 75 triliun sampai Rp 90 triliun. Dengan modal itu, menurut Ridha, INA menginvestasikannya dalam bentuk deposito, bond (surat utang), penyertaan langsung perusahaan atau penyertaan saham.

“Ada 4 atau 5 aset yang tentunya amat sangat kita kontrol baik secara governance dan secara pilihan sehingga bisa menambah nilai yang kita jaga terus untuk bisa dikembangkan terus ke depannya,” kata Ridha.

Lebih lanjut, Ridha mengungkapkan INA adalah sebuah perusahaan pengelolaan investasi yang sifatnya mikro. Karena bukan policy maker (penentu kebijakan), INA pun bisa masuk ke bidang bisnis atau perusahaan yang menurutnya layak diinvestasikan. Dan untuk menginvestasikan dananya dengan hasil timbal balik yang baik itu, INA juga dituntut untuk bisa menjalankan tata cara perusahaan tersebut untuk bisa lebih baik lagi agar nilai investasinya nanti akan bisa bertambah.

“Jadi yang ingin kami coba bawa itu, ke satu mengenalkan Indonesia ke investor, apakah dari luar negeri atau dalam negeri, bahwa Indonesia bisa menjadi tempat layak untuk berinvestasi, itu nomor satu. Tempat lain untuk berinvestasi itu tentunya harus bisa dengan beberapa syarat bahwa 'oh ternyata dasar hukumnya bagus ya, oh ternyata kepastian ekonominya itu cukup menjanjikan ya, oh ternyata secara menjalankan perusahaannya bisa baik', begitu,” katanya.

Menurut Ridha, nomor satu adalah membawa nama Indonesia bisa menjadi lebih menarik lagi buat tujuan investasi, bukan hanya Vietnam atau Thailand.

Kedua, uang atau dana yang dikumpulkan untuk berinvestasi bukan uang pasif atau seperti uang yang masuk ke bursa saham. "Kalau kita ini lebih aktif, dua-duanya bisa jalan, dan harus jalan dua-duanya. Dengan demikian kita berharap juga bisa membawa kompetensi dan capacity building untuk perusahaan-perusahaan kita untuk lebih profesional, sehingga hasilnya lebih baik lagi," kata Ridha.

Ketiga, dengan cara itu, INA bisa membantu perusahaan yang dituju menjadi lebih cepat berkembang. Salah satunya memperbaiki kinerja keuangannya, di samping juga bisa mendapat tambahan ilmu dan teknologi serta kompetensi yang lebih memadai.

Pada kesempatan itu, Ridha juga menyebut tiga dimensi yang selalu mendapat perhatian. Pertama, pendanaan atau funding. Hal ini bisa dicapai dengan melakukan penjajakan ke berbagai investor secara kredibel, transparan, tepercaya, dan cerdas.

Kedua, pembelian aset. Aset harus dibeli dengan fair, transparan, dan di bidang yang tepat serta selalu menganut asas willing buyer and willing seller.

Ketiga, pembentukan nilai tambah (value creation). Menurut Ridha, setelah aset dibeli atau diinvestasikan, kinerja, kompetensi, dan governance perusahaan harus berjalan dengan baik, sehingga dapat membentuk nilai tambah yang dapat menguntungkan semua pihak.

Terkait dengan dana Rp 39 trilliun yang diinvestasikan ke jalan tol, Ridha berharap pihaknya menjadi pemilik dengan konsesi jalan tol antara 40 tahun sampai 50 tahun.

“Kalau kami berinvestasi sepanjang yang kita pikir diperlukan. Kalau partner-partner kami itu kan banyak yang pensiun. Mereka bilang kalau kita harus tunggu 40 tahun 50 tahun kan, mau tidak mau jalan tol kan jalan terus,” katanya.

Terkait dana dari luar negeri, seperti dari Eropa, Amerika, Jepang, Timur Tengah, Ridha mengatakan, pihaknya lebih fokus untuk menyakinkan terlebih dulu investor untuk tidak ragu berinvestasi di Indonesia.

“Kalau kami melihatnya, kalau saya ditantang. Berapa sih bisa masuk? US$ 5 miliar, US$ 100 miliar, US$ 200 miliar. US$ 100 miliar itu, saya enggak ngeri, yang saya ngeri itu yang the first one billion dollar. Maksud saya begini, kita bisa meyakinkan yang 1 miliar dolar pertama, 2 miliar dolar pertama atau Rp 10 triliun, berarti mereka nyaman, kalau begitu sudah nyaman terusnya itu bisa tertular, 'oh betul ya Indonesia ini bisa menjadi tempat (berinvestasi)',” papar dia.

Sementara itu, INA merupakan salah satu SWF yang terkecil dan termuda. Sebagai perbandingan INA baru memiliki dana kelolan US$ 5 miliar dan beroperasi kurang dari setahun, kalah dari Timor Leste yang sudah memiliki dana kelolaan US$ 16 miliar dan beroperasi selama 16 tahun. INA juga jauh tertinggal dari Khazanah (Malaysia) yang memiliki dana kelolaan US$ 30 miliar dan sudah beroperasi 28 tahun.

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN