Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), 13 April 2022.

Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), 13 April 2022.

Gubernur BI Sebut Tiga Alasan Penting Mata Uang Digital Bank Sentral

Senin, 25 April 2022 | 22:41 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id -- Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengungkapkan ada tiga alasan penting perlunya pembentukan central bank digital currency (CBDC) atau mata uang digital bank sentral, dengan tujuan untuk membendung pesatnya penggunaan mata uang digital yakni kripto.

Isu CDBC masuk dalam salah satu agenda prioritas jalur keuangan atau finance track dalam pelaksanaan Presidensi G20 Indonesia, dengan tujuan akhir yang ingin dicapai yakni pengakuan akan pentingnya pemahaman bersama mengenai teknologi dan kolaborasi inklusif di antara negara-negara maju dan berkembang, dimana hal ini merupakan tujuan utama Presidensi G20.

“Pesatnya era digitalisasi, di bawah G20 dan Indonesia menjadi kunci untuk mempromosikan pengembangan CBDC,” kata Perry dalam The Launching Techsprint CBDC, Senin (25/4/2022).

Perry mengatakan, saat ini sistem pembayaran dan ekonomi keuangan digital terus berkembang pesat di berbagai negara. Kondisi ini membuat dunia harus mengadaptasi sistem pembayran dan ekonomi keuangan secara digital.

Baca Juga: Ex Pejabat BoJ: Krisis Ukraina Bisa Mengubah Peran Mata Uang Digital Bank Sentral

Perkembangan aset digital seperti kripto terus meningkat dari sisi volume perdagangan karena aset ini dijadikan sebagai alternatif investasi. Namun, BI menyoroti beberapa risiko yang akan dihadapi Bank Indonesia atas pengguna aset kripto, pertama risiko instabilitas pada sektor keuangan dan stabilitas moneter.

“Bahkan terdapat risiko tindak pencucian uang dan risiko untuk pendanaan terorisme. Jadi ada kekhawatiran yang berkembang tentang peningkatan dan percepatan tentang perdagangan aset digital,” ucapnya.

Untuk mengatasi risiko tersebut, BI mengajak anggota G20 untuk merumuskan kerangka kerja pengawasan dan regulasi terkait aset kripto digital dengan tujuan untuk memberikan pengawasan keuangan yang lebih luas.

Lebih lanjut, Perry menjelaskan bahwa bank sentral di sejumlah negara sudah mulai merancang dan mendesain penerbitan CBDC. Untuk merespons perkembangan tersebut, Bank Indonesia menggandeng Bank for International Settlements (BIS) Innovation Hub, pada hari ini (25/4/2022) meluncurkan G20 Techsprint Initiative 2022 sebagai salah satu side event Presidensi G20 Indonesia.

“Peran CBDC dalam digitalisasi ini tentunya membutuhkan beberapa referensi serta unit account, media pertukaran di digital sebagai mata uang digital. CBDC yang dikeluarkan oleh bank sentral dapat menjadi referensi yang sangat penting untuk tujuan akhir,” ucapnya.

Kemudian, alasan ketiga, CBDC dibuat untuk memastikan interoperaibitas, integritas serta interkonektivitas infrastruktur sistem pembayaran, baik pembayaran secara real time gross settlement maupun infrastruktur sistem pembayaran lainnya yang saling terhubung.

"Dimana bank sentral dapat menggunakan acuan untuk mengembangkan CBDC di bawah negara sendiri, juga kesepakatan yang luas antarnegara dan kemudian menggunakan CBDC sebagai sistem moneter internasional," jelas Perry.

Menururnya, BI masih menemukan sejumlah pertanyaan yang perlu menjadi pertimbangan dalam mengembangkan CBDC. Pertanyaan itu misalnya tentang apakah bank sentral harus menerbitkan CBDC secara wholesale atau dengan metode ritel. Pertanyaan lain, apakah juga bank sentral harus menerbitkan CBDC secara individu atau bisa bekerjasama dengan swasta, juga lewat platform apa CBDC harus diterbitkan.

"Apa implikasinya terhadap makro ekonomi, moneter, dan stabilitas keuangan. Oleh karena itu, bank sentral perlu membuat desain konseptual CBDC secara matang," ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, General Manager Bank for International Settlements (BIS) Agustín Carstens menjelaskan, CBDC merupakan elemen kunci dalam meningkatkan pembayaran lintas batas dan peran katalis bank sentral dalam mendukung interoperabilitas. Sistem pembayaran yang luas dapat menciptakan persaingan layanan yang lebih baik dan biaya yang lebih rendah.

"CBDC dapat mengatasi persoalan inklusi keuangan yang belum tersentuh dengan perbankan (unbanked). Ini sangat relevan untuk negara-negara seperti Indonesia yang memiliki wilayah keterjangkauan yang luas dan banyak masyarakat yang belum tersentuh dengan jasa keuangan," jelas Carstens.

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN