Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung Bank Indonesia (BI). (Foto: IST/Beritasatu.com)

Gedung Bank Indonesia (BI). (Foto: IST/Beritasatu.com)

The Fed Naikkan 50 Bps, BI Diproyeksi Naikkan Suku Bunga 75 Bps

Kamis, 5 Mei 2022 | 13:55 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id- Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis point (bps) atau 0,5% sebagai upaya untuk mengatasi lonjakan inflasi yang tertinggi selama empat dekade terakhir. Kenaikan suku bunga Fed ini merupakan yang tertinggi sejak kurun waktu 22 tahun terakhir.

Ekonom PT Bank Mandiri Tbk Faisal Rachman memperkirakan, Bank Indonesia akan menaikkan BI-7DRR secara total sebesar 75 bps atau 0,75% menjadi 4,25% pada 2022 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 3,50%.

Advertisement

“Sikap The Fed lebih hawkish di tengah meningkatnya tekanan inflasi, namun BI tidak akan terburu-buru untuk menaikkannya. Peningkatan BI-7DRRR akan sangat bergantung pada kondisi inflasi domestik yang kami perkirakan akan meningkat secara fundamental dan substansial di semester II tahun ini,” ucapnya dalam keterangan tertulis, Kamis (5/5/2022).

Faisal menyebut melonjaknya harga komoditas global akibat konflik antara Rusia dan Ukraina telah mendorong kinerja ekspor Indonesia dan memperpanjang rangkaian surplus perdagangan. Hal ini dapat mendukung kondisi neraca transaksi berjalan serta menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sampai tingkat tertentu. "Kondisi tersebut bisa memberikan ruang yang cukup bagi BI-7DRRR dapat bertahan level 3,50% dalam beberapa waktu," ucapnya.

Baca juga: Mengejutkan, Bank Sentral India Umumkan Kenaikan Suku Bunga

Kendati demikian, menurut Faisal, Bank Indonesia akan menjaga stabilitas dengan meningkatkan rasio persyaratan cadangan (RRR) terlebih dahulu, dan mengurangi pelonggaran kuantitatif, sebelum menyesuaikan Bl-7DRRR. Faisal juga melihat, Bank Indonesia akan melanjutkan  langkah-langkah makroprudensial agar tetap akomodatif pada 2022 guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

Dihubungi terpisah, Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, dampak kenaikan suku bunga the Fed terhadap nilai tukar rupiah di pasar NDF juga cenderung stabil.  Meskipun demikian, dampaknya pada pasar keuangan domestik perlu tetap dicermati meskipun pasar sudah mengantisipasi (priced in) keputusan Fed pada FOMC bulan ini.

“Bank Indonesia juga akan tetap berada di pasar dalam rangka mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dengan melakukan triple intervention,” tuturnya kepada Investor Daily, Kamis (5/5/2022).

Disamping itu, dalam rangka mendukung daya tarik investasi instrumen keuangan berdenominasi Rupiah, pemerintah dan BI perlu memperkuat koordinasi dalam rangka menjangkar ekspektasi inflasi sedemikian sehingga akan mendukung aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.

Baca juga: Saham Asia Pasifik Naik Jelang Keputusan Suku Bunga Fed

Kendati begitu, Josua menegaskan bahwa kenaikan suku bunga The Fed sebesar 50 bps atau 0,5% sudah diperkirakan oleh pasar. Kenaikan ini telah mempertimbangkan kondisi tekanan inflasi yang meningkat, serta kondisi di pasar tenaga kerja yang ketat. Tekanan inflasi yang meningkat terindikasi dari Personal Consumption Expenditure (PCE) per Maret 2022 yang tercatat 6,6% yoy dan PCE Core tercatat 5,2%yoy.

“Selain menaikkan suku bunga Fed, Fed juga akan mulai mengurangi neraca keuangan nya pada bulan Juni mendatang sebesar US$ 47,5 miliar per bulan (dalam 3 bulan pertama US$ 30 miliar UST dan US$ 17,5 miliar MBS) dan per bulan September mendatang akan dikurangi sebesar US$ 95 miliar (US$ 60 miliar UST dan US$ 35 miliar MBS),” tegasnya.

Dengan demikian, sinyal  kenaikan suku bunga Fed kedepannya yang relatif lebih rendah dari ekspektasi pasar, juga mendorong penguatan pasar saham AS tadi malam dan mendorong penurunan yield UST.

 

 

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN