Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
ilustrasi dolar
Sumber: Antara

ilustrasi dolar Sumber: Antara

Dolar AS Menguat, Sentimen Risiko Terhenti setelah Pernyataan Hawkish Powell

Kamis, 19 Mei 2022 | 09:07 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

NEW YORK, investor.id – Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada akhir perdagangan Rabu (18/5/2022) atau Kamis pagi WIB, menghentikan penurunan beruntun tiga sesi karena kekhawatiran tentang prospek pertumbuhan ekonomi global dan kenaikan inflasi yang menekan sentimen risiko. Ini terjadi sehari setelah Gubernur Federal Reserve AS Jerome Powell memberikan nada yang lebih hawkish.

Powell pada Selasa (17/5/2022) berjanji bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga setinggi yang diperlukan, termasuk mengambil suku bunga di atas netral, untuk mengekang lonjakan inflasi yang katanya mengancam fondasi ekonomi. Tingkat netral adalah tingkat di mana kegiatan ekonomi tidak disimulasikan atau dibatasi dan secara luas diperkirakan berada di sekitar 3,5% pada pertengahan tahun 2023.

Advertisement

Pada Rabu (18/5/2022), dolar diuntungkan dari permintaan tempat berlindung yang aman (safe haven) karena saham-saham dilanda aksi jual dan imbal hasil obligasi pemerintah turun. “Reli risiko kemarin tampaknya, dapat diprediksi, berumur pendek, telah gagal hampir seluruhnya dalam perdagangan pagi ini," kata Michael Brown, kepala intelijen pasar di Caxton di London.

"Akibatnya, permintaan safe haven dolar muncul kembali, dengan sesuatu dari flight to cash' terjadi, dengan obligasi pemerintah gagal menemukan tawaran beli meskipun sentimen goyah," tambah Brown.

Indeks dolar AS, yang melacak greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,4% pada 103,76, dengan kecepatan untuk menghentikan penurunan beruntun terpanjang sejak pertengahan Maret.

"Secara teknis, ini akan menyenangkan pembeli bahwa indeks dolar telah berhasil bertahan di atas support sebelumnya di 103,20, yang jika digabungkan dengan latar belakang ekonomi yang suram akan membuat dolar tetap kuat untuk saat ini," kata Brown dari Caxton.

Pound turun 1,1% terhadap dolar pada Rabu (18/5/2022) setelah data menunjukkan inflasi Inggris naik menjadi 9,0%, level tertinggi dalam 40 tahun.

Dengan investor mengambil pandangan suram pada mata uang berisiko, dolar Australia, dipandang sebagai proksi likuid untuk selera risiko, tergelincir 0,8%. Pertumbuhan upah Australia naik hanya sebagian kecil pada kuartal terakhir, membuat investor mengurangi taruhan pada kenaikan suku bunga yang lebih besar.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : ANTARA

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN