Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Sri Mulyani. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc)

Menteri Keuangan Sri Mulyani. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc)

2023, Pertumbuhan Ekonomi Dipatok 5,3% hingga 5,9%

Jumat, 20 Mei 2022 | 12:35 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 ditargetkan sebesar 5,3% hingga 5,9%. Target tersebut telah mempertimbangkan berbagai risiko dan potensi pemulihan ekonomi nasional.

Menurut dia, tantangan dan risiko baru telah muncul dari faktor global baik dari sisi geopolitik, ekonomi, serta keuangan yang sangat kompleks dan dinamis yang harus segera diantisipasi dan dikelola.

“Dua tantangan besar lain yang perlu terus kita waspadai dan antisipasi, yaitu lonjakan inflasi global, terutama akibat perang Rusia-Ukraina, dan percepatan pengetatan kebijakan moneter global, khususnya di Amerika Serikat (AS),” jelas Sri Mulyani dalam Rapat Paripurna DPR terkait Penyampaian KEM dan PPKF RAPBN 2023 di Jakarta, Jumat (20/5/2022).

Dia menegaskan, Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) tahun 2023 disusun berdasarkan kondisi Indonesia yang memasuki tahap transisi ke masa endemi. Selain pertumbuhan ekonomi, pemerintah mengusulkan kisaran indikator ekonomi makro lainnya yang digunakan sebagai asumsi dasar penyusunan RAPBN 2023.

Baca juga: 2023, Defisit APBN Dirancang Turun Jadi 2,61%-2,90%

Adapun indikator asumsi makro lainnya mencakup inflasi tahun depan di kisaran 2,0% hingga 4,0%, nilai tukar rupiah Rp 14.300 hingga Rp 14.800 per dolar AS, dan tingkat suku bunga SBN 10 tahun sekitar 7,34% hingga 9,16%.

Kemudian, harga minyak mentah Indonesia US$ 80-100 per barel, lifting minyak bumi 619-680 ribu barel per hari, dan lifting gas 1,02 juta hingga 1,11 juta barel setara minyak per hari.

Lebih lanjut dia mengatakan, dinamika terkait kenaikan inflasi, biaya bunga, dan pengetatan moneter dunia harus direspons dengan disiplin fiskal yang tepat. Sebab itu, kebijakan fiskal tahun 2023 didesain agar mampu merespons dinamika perekonomian, menjawab tantangan, dan mendukung pencapaian target pembangunan secara optimal.

“Keberlanjutan proses penguatan pemulihan ekonomi nasional perlu terus dijaga untuk memperkuat fondasi ekonomi dan akselerasi tingkat pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.

Baca juga: IMF Desak Negara-Negara Asia Waspadai Risiko Pengetatan Kebijakan Moneter

Selain itu, upaya lebih lanjut untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif juga sangat penting untuk pencapaian sasaran pembangunan jangka menengah-panjang agar Indonesia dapat keluar dari jebakan kelas menengah (middle-income trap). Karena itu, struktur perekonomian nasional dan tingkat produktivitas nasional perlu diperkokoh melalui percepatan transformasi ekonomi.

Kemudian, akselerasi agenda reformasi struktural pasca pandemi Covid-19 mutlak diperlukan melalui peningkatan kualitas SDM, pembangunan infrastruktur, dan reformasi birokrasi dan regulasi.

“Penguatan program pendidikan, kesehatan, serta perlindungan sosial sangat krusial dalam mengatasi isu fundamental perekonomian, termasuk rendahnya tingkat produktivitas nasional. Peningkatan produktivitas juga perlu diakselerasi untuk memperkuat sisi supply,” ucapnya.

Baca juga: Ekspor CPO Dibuka, Pemerintah Kembali Terapkan DMO dan DPO Migor 

Sementara itu, penguatan hilirisasi manufaktur, adopsi ekonomi digital, dan pengembangan ekonomi hijau diyakini akan menjadi sumber pertumbuhan baru di masa depan.

Dorongan kepada keberlanjutan tahapan industri manufaktur akan memacu pengembangan produk-produk dalam negeri yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dan mampu berkompetisi di pasar global.

“Untuk pengembangan ekonomi digital akan meningkatkan efisiensi dan produktivitas ekonomi di tengah kecenderungan perubahan pola hidup ke arah new normal. Selain itu, pembangunan ekosistem ekonomi yang ramah lingkungan merupakan wujud komitmen kita bersama dalam mengatasi isu perubahan iklim," ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN