Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Erwin Haryono. Foto: IST

Erwin Haryono. Foto: IST

Transaksi Berjalan Surplus US$ 0,2 Miliar pada Kuartal I-2022

Jumat, 20 Mei 2022 | 19:23 WIB
Kunradus Aliandu (kunradus@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Neraca transaksi berjalan Indonesia mengalami surplus sebesar US$ 0,2 miliar atau 0,1% PDB pada kuartal I-2022. Hal ini dipicu tingginya harga ekspor komoditas global, seperti batu bara dan crude palm oil (CPO).

Tingginya harga komoditas ekspor tersebut menopang neraca perdagangan Indonesia di sektor non migas yang pada akhirnya berimbas positif bagi neraca transaksi berjalan, meskipun Indonesia masih mencatat defisit pada neraca perdagangan migas.

Advertisement

“Pada triwulan I-2022, transaksi berjalan melanjutkan surplus sebesar US$ 0,2 miliar atau 0,1% dari PDB, meskipun lebih rendah dari capaian surplus pada triwulan sebelumnya sebesar US$ 1,5 miliar atau 0,5% dari PDB,” kata Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono dalam publikasi Statistik Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal I-2022, Jumat (20/5).

Adapun defisit pada neraca perdagangan migas terjadi karena kenaikan harga minyak dunia. Sementara itu dalam komponen lainnya di neraca transaksi berjalan adalah neraca jasa yang mengalami peningkatan defisit. Hal itu sejalan dengan perbaikan aktivitas ekonomi yang terus berlanjut dan kenaikan jumlah kunjungan wisatawan nasional ke luar negeri pasca-pelonggaran kebijakan pembatasan perjalanan antarnegara dan penyelenggaraan ibadah umrah yang kembali dibuka.

Di sisi lain, neraca pendapatan primer membaik meskipun masih terjadi defisit. Perbaikan defisit pendapatan primer turut mempengaruhi berlanjutnya surplus transaksi berjalan.

Pada kuartal I-2022 ini, meskipun Indonesia mencatat transaksi berjalan surplus, neraca transaksi modal dan finansial Tanah Air masih defisit US$ 1,7 miliar. Oleh karena itu, secara keseluruhan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal I-2022 mengalami defisit US$ 1,8 miliar.

Dengan berbagai perkembangan tersebut, Erwin mengatakan, BI akan terus mencermati dinamika perekonomian global yang dapat mempengaruhi prospek NPI. Bank sentral juga akan terus memperkuat bauran kebijakan guna menjaga stabilitas perekonomian, serta melanjutkan koordinasi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas terkait guna memperkuat ketahanan sektor eksternal.

 

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN