Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Investasi dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Bahlil Lahadalia saat meresmikan Paviliun Indonesia di WEF Davos 2022, Swiss, Senin (23/5/2022).

Menteri Investasi dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Bahlil Lahadalia saat meresmikan Paviliun Indonesia di WEF Davos 2022, Swiss, Senin (23/5/2022).

Bahlil: WEF 2022, Forum Kolaborasi untuk Industri Hijau

Senin, 23 Mei 2022 | 23:28 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

DAVOS, investor.id – Menteri Investasi dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa World Economic Forum (WEF) 2022 selayaknya menjadi forum kolaborasi dunia untuk mewujudkan ekonomi dan industri hijau.

"Dunia harus berkolaborasi untuk mewujudkan visi lingkungan global maupun negara masing-masing melalui green industry dan green economy," ujar Bahlil, usai peresmian Paviliun Indonesia di WEF 2022 Davos, Swiss, Senin (23/5/2022).

Peresmian Paviliun Indonesia di WEF 2022 Davos ini dilakukan dengan pemotongan pita oleh Menko Perekonomian, Menkominfo Johnny G Plate, Menteri Imvestasi Bahlil Lahadalia, Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang, Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo, Duta Besar (Dubes) RI untuk Swiss Muliaman Hadad, dan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Arsjad Rasjid.

Baca juga: Airlangga Ajak Qualcomm Tambah Investasi di Indonesia

Bahlil, yang juga Kordinator Penyelenggara Partisipasi Indonesia di WEF 2022 Davos, mengatakan bahwa kolaborasi tersebut penting karena dunia masih menerapkan standar ganda dalam mewujudkan visi lingkungan global.

Bahlil mencontohkan pada WEF 2021, Indonesia mendeklarasikan penyetopan ekspor nikel. Melalui kebijakan itu, Indonesia ingin mengembangkan ekosistem industri baterai untuk mobil listrik yang lebih ramah lingkungan. "Tapi sejumlah negara lain memprotes kebijakan itu," cetusnya.

Contoh lain, lanjut Bahlil, terjadi ketika Indonesia menyetop ekspor batu bara yang dianggap mencemari lingkungan. "Tetapi, negara-negara lain juga protes," katanya.

Baca juga: Bahlil: Jokowi Punya Jurus Khusus Taklukkan Elon Musk

Contoh lain lagi, sambung Bahlil, Indonesia baru-baru ini juga memberhentikan ekspor Crude Palm Oil (CPO) yang berasal dari sawit karena dianggap merusak lingkungan, sehingga banyak negara kemudian melarangnya.

Padahal, kata Bahlil, Indonesia mengelola CPO dengan memperhatikan aspek lingkungan. "Lagi-lagi banyak negara protes," ujarnya.

Indonesia, menurut Bahlil, terbuka untuk investasi di sektor industri hijau. "Indonesia terbuka untuk investasi di sektor industri hijau, termasuk sektor energi baru dan terbarukan. Indonesia punya sumber alam dan energi melimpah," ungkapnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN