Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menkeu Sri Mulyani memberikan keterangan usai rapat Pansus IKN di DPR, Selasa (18/1/2022). Sumber: BSTV

Menkeu Sri Mulyani memberikan keterangan usai rapat Pansus IKN di DPR, Selasa (18/1/2022). Sumber: BSTV

The Fed Naik, Pemerintah Mulai Waspadai Racing Competition

Selasa, 24 Mei 2022 | 13:19 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id - Pemerintah akan mulai mewaspadai terjadinya kompetisi (racing competition) yield surat utang di berbagai negara untuk menarik investor di pasar keuangan. Hal ini dipicu atas kenaikan tingkat suku bunga negara-negara di dunia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, keluarnya aliran modal asing atau capital flow di berbagai negara, termasuk Indonesia, dipicu pengetatan kebijakan moneter The Fed guna meredam lonjakan inflasi. Alhasil, yield obligasi AS tenor 10 tahun di level 2,8%.

Advertisement

“Kami perlu waspadai pricing completion yield. Untuk itu, kami harus jaga kecenderungan kenaikan suku bunga, karena juga akan berimbas peningkatan yield SBN, sehingga cost of fund mengalami kenaikan”ucapnya.

Baca juga: Tarif Listrik 3000 VA Naik, Menkeu Sebut Penggunanya Masyarakat Ekonomi Mampu

Menurutnya, aliran modal asing dari negara berkembang, termasuk Indonesia, merupakan imbas dari pernyataan The Fed akan menaikkan suku bunga 50 bps untuk satu kali pertemuan dan akan terjadi tujuh kali perubahan tahun ini.

Saat ini, yield SBN tenor 10 tahun mencapai level 7,2%. Yield ini lebih baik dibandingkan yield obligasi India tenor 10 tahun di level 7,3%. Namun yield Indonesia juga termasuk yang tertinggi di kawasan Asia seperti Filipina 6,2%, kemudian Malaysia 4,2%, Thailand sebesar 3,1%, Singapura 2,5%.

“Yield SBN 10 tahun mengalami kenaikan 13,2% menjadi 7,2% dan negara negara lain juga alami kenaikan, tentu enggak bisa dibandingkan dengan Rusia sedang alami perang namun kami liat Malaysia, Meksiko, India semuanya alami kenaikan yield 10 tahun”ucapnya.

Meski demikian, penurunan jumlah SBN yang dipegang asing dinilainya memberikan dampak positif berupa stabilitas karena pasar obligasi tidak mengalami gejolak dengan perubahan aliran modal asing.

“Kepemilikan investor asing di pasar surat berharga negara (SBN) berada level 16,4 persen per 19 Mei 2022, untuk tahun lalu porsi investor asing dalam SBN sebanyak 19 persen dan pada 2020 sebesar 25 persen”ucapnya


Masih Menarik

Sementara itu, Kepala Departemen Moneter Bank Indonesia, Edi Susianto menyebutkan bahwa yield SBN tenor 10 tahun masih menarik bagi investor asing. Apalagi kondisi fundamental dalam negeri dan prospek ekonomi kedepan akan terus membaik.

Baca juga: Jatuh Tempo Obligasi Negara Tahun Ini Capai Rp 51,7 Triliun

“Kalau untuk investor asing di pasar obligasi khususnya obligasi Emerging Market, saya melihat kalau tidak ada surprise, khususnya terkait perkembangan data di US kedepan kelihatannya pelaku pasar sudah mem price in sehingga tidak menutup kemungkinan arus inflow”ucapnya.

Ekonom, Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky mengatakan naiknya yield SBN tenor 10 tahun disebabkan ketidakpastian global, salah satunya didorong The Fed yang menyebabkan aliran modal asing keluar dari negara berkembang termasuk Indonesia.

Ia meminta mulai mewaspadai dari terus dinaikkannya yield SBN, karena dapat menggerus ketahanan fiskal karena pembayaran bunga utang menjadi lebih mahal.

“Jadi ini berdampak naiknya yield SBN . Dampak ketahanan fiskal akan tergerus, pembayaran bunga utang jadi lebih mahal kedepan ini perlu dimanage, ketahanan fiskal dan imbal hasil SBN kita”tegasnya.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN