Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.

BI Proyeksikan The Fed Naikkan Suku Bunga hingga 250 Basis Poin

Selasa, 24 Mei 2022 | 21:37 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, akan meningkatkan suku bunga sebanyak 250 basis poin hingga akhir 2022. Pengetatan kebijakan The Fed yang lebih agresif untuk menormalkan lonjakan inflasi di AS yang saat ini sudah mencapai 8,3%.

"Pada tahun ini kenaikan suku bunga Fed secara keseluruhan akan mencapai 250 basis poin," ujar Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Selasa (24/5/2022).

Saat ini suku bunga The Fed (fed fund rate/FFR) sudah dinaikkan sebanyak dua kali ke kisaran 0,75% hingga 1%. Tak hanya tahun ini, bahkan Perry memproyeksikan The Fed masih akan melanjutkan kenaikan suku bunga acuan sebanyak dua kali. Sehingga pada akhir tahun depan suku bunga Fed akan mencapai 3,25%.

Kenaikan suku bunga The Fed yang lebih agresif untuk merespons tingginya angka inflasi turut menyebabkan naiknya imbal hasil atau yield obligasi AS (UST) dari posisi saat ini di level 2,8% serta mendorong kenaikan yield surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun saat ini di level 7,2%.

Baca Juga: The Fed Naik, Pemerintah Mulai Waspadai Racing Competition

“Untuk tahun ini, yield UST untuk 10 tahun bisa capai 3,45% hingga 3,5%. Sebetulnya ini enggak jauh berbeda dengan perkiraan kami sebelumnya mencapai 3% hingga 3,25%. Ini tentu saja perkiraan akan terus kami lakukan assessment waktu ke waktu. Bagaimana ketegangan politik berlanjut dampak ke kenaikan harga dunia, inflasi dunia, dan repsons perceptaan normalisasi kebijakan moneter dan The Fed dan berbagai negara,” jelasya.

Meski yield SBN tenor 10 tahun naik, namun Perry menegaskan bahwa kenaikan yield UST tidak selalu ditransmisikan dalam bentuk kenaikan yield SBN tenor 10 tahun atau tidak selalu one to one berlangsung linier.

Apalagi saat ini pasar obligasi cukup stabil karena kepemilikan asing di SBN terus menurun drastis, sehingga tidak mudah terguncang oleh volatilitas di global.

“Porsi dari kepemilikan asing di SBN telah separuh dari sebelum Covid-19 masih 40%, sekarang 20%, sehingga meski yield UST naik jadi 3,4,5% belum tentu pengaruh kuat ke SBN. Pengaruh ke SBN akan dipengaruhi bagaimana pemerintah melakukan lelang, dan kedua, likuiditas perbankan dan preferensi perbankan maupun investor dalam dan luar negeri melakukan pembelian SBN,” pungkasnya.

Selain mekanisme lelang, BI juga membeli SBN yang diterbitkan pemerintah Indonesia sebagai komitmen burden sharing melalui SKB I dimana BI menjadi standby buyer yang dananya digunakan untuk memenuhi pendanaan pada pos kesehatan manusia selama pandemi Covid-19.

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN