Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo Bank Dunia atau World Bank. ( Foto: Reuters )

Logo Bank Dunia atau World Bank. ( Foto: Reuters )

Bank Dunia: Ekonomi Indonesia Berisiko Hanya Tumbuh 4,6% Tahun Ini

Rabu, 22 Juni 2022 | 15:35 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini mencapai 5,1% secara year on year (yoy) dan meningkat menjadi 5,3% (yoy) pada tahun depan. Namun proyeksi tersebut masih dibayangi oleh risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik menjadi  4,6% (yoy) tahun ini sebagai imbas dari tren perlambatan pemulihan ekonomi global.

Kepala Ekonom Bank Dunia Indonesia dan Timor Leste Habib Rab mengatakan, ketidakpastian ekonomi global yang meningkat telah menciptakan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Akibatnya, permintaan ekspor komoditas menurun, serta memicu pengurangan produksi dan harga yang lebih tinggi. Hal ini dapat memaksa realokasi fiskal (global) dari belanja untuk mendukung  pertumbuhan ekonomi menjadi ke subsidi.

Advertisement

"Dalam skenario seperti itu, pertumbuhan Indonesia bisa lebih rendah dari yang diantisipasi yakni mencapai 4,6% pada 2022 dan 4,7% pada 2023. Ini sesuai dengan kisaran (batas bawah) Bank Indonesia," ucap dia dalam Indonesia Economic Prospect Juni 2022, Rabu (22/6/2022). .

Ia menjelaskan invasi Rusia ke Ukraina sejak Februari telah menyebabkan lonjakan harga komoditas di pasar perdagangan internasional serta menyebabkan volatilitas di pasar keuangan global. Hal ini juga semakin memicu pelemahan ekonomi dunia, apalagi ekonomi global masih dalam tahap pemulihan karena pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung 2,5 tahun.

Naiknya harga komoditas, juga telah menimbulkan potensi stagflasi yakni didasari oleh inflasi tinggi, pengangguran meningkat, namun pertumbuhan ekonomi justru melambat.

"Terakhir kali dunia mengalami stagflasi adalah pada awal 1980-an. Stagflasi menciptakan badai yang sempurna bagi pembuat kebijakan, karena kebijakan ekonomi harus dirumuskan  akomodatif, sementara inflasi yang tinggi membutuhkan kebijakan ekonomi yang lebih ketat, dan kebijakan yang lebih ketat di lingkungan utang yang tinggi dihadapi banyak negara dan menimbulkan risiko," tutur dia.

Dengan demikian, ia memproyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini hanya 2,9% (yoy), proyeksi ini menurun signifikan dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi global tahun lalu yang mampu mencapai 5,7%. Namun kinerja ekonomi global di tahun depan diproyeksikan akan bergerak lebih flat atau tidak ada rebound.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN