Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Bank Indonesia Perry dalam seminar yang digelar Institute for Development of Economics and Finance pada Rabu (15/6/2022). (Ist)

Gubernur Bank Indonesia Perry dalam seminar yang digelar Institute for Development of Economics and Finance pada Rabu (15/6/2022). (Ist)

Suku Bunga Acuan Kembali Ditahan, Ini Penjelasan BI

Kamis, 23 Juni 2022 | 22:52 WIB
Nasori (redaksi@investor.id) ,Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan alasan BI tetap menahan suku bunga acuan BI7DRR di 3,5% pada saat banyak bank sentral di dunia, termasuk The Federal Reserve (The Fed), agresif menaikkan suku bunga acuan. Selain karena inflasi inti yang relatif masih terjaga rendah di 2,58%, keputusan itu diambil mengingat perekonomian Indonesia saat ini memiliki pasokan fundamental valuta asing (valas) tinggi, sehingga bisa untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Memang betul, aliran modal asing untuk SBN (Surat Berharga Negara) tidak kuat tapi bukan berarti itu akan mengangu nilai tukar, karena CAD (current account deficit/ defisit neraca transaksi berjalan) rendah, bahkan tahun lalu surplus. Neraca pembayaran secara keseluruhan adalah surplus. Artinya pasokan fundamental valas itu tinggi dan itu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Perry dalam konferensi pers terkait hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis (23/06/2022).

Selain CAD rendah karena susplus neraca perdagangan yang besar, Perry menambahkan, neraca pembayaran Indonesia (NPI) yang secara keseluruhan surplus ditopang oleh arus modal dari penanaman modal asing (PMA) yang tinggi di saat arus portofolio rendah. Sehingga cadangan devisa Indonesia pun cukup tinggi. “Itulah kenapa meksipun BI tidak menaikkan suku bunga BI7DRR, bukan berarti akan menganggu ketahan eksternal kita. BI akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” ucap dia.

Sementara itu, terkait investasi portofolio antarnegara, kata Perry, yang pada akhirnya dilihat oleh investor adalah perbedaan imbal hasil (yield) dari surat-surat berharga. Ketika Fed fund rate (FFR) naik, lanjut dia, memang hampir pasti akan berimbas pada kenaikan yield US Treasury. Namun demikian, dampak kenaikan itu tidak serta merta dalam persentase poin yang sama.

“Tidak juga berarti kalau FFR naik 75 poin, yield US Treasury naik 75 bps. Pada akhirnya yang akan menentukan investor, khususnya portofolio, adalah yield US Treasury dibandingkan dengan yield SBN. Itu yang akan menentukan investor, membeli SBN atau berinvestasi portofolio di Indonesia atau tidak. Sehingga dalam hal ini tidak harus dan jangan kemudian dibandingkan perbedaan FFR dengan suku bunga BI. Yang perlu dilihat adalah perbedaan yield SBN dengan suku bunga US Treasury,” pungkas dia.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN