Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Penerimaan Pajak Hingga Mei Moncer, PPh Badan dan PPN jadi Penyokong

Jumat, 24 Juni 2022 | 05:00 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut, penerimaan pajak Januari-Mei 2022 sudah mencapai Rp 705,82 triliun. Kinerja ini terbilang moncer, karena tumbuh 53,58% bila dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Bahkan angka itu sudah mencakup 55,8% dari target pagu pajak 2022.

Sri Mulyani mengatakan, secara kumulatif seluruh jenis pajak dominan positif dengan kontributor utama penerimaan pajak pada periode tersebut adalah pajak penghasilan (PPh) Badan dengan kontribusi sebesar 27%. Serta, pajak pertambahan nilai (PPN) dalam negeri maupun PPN impor dengan kontribusi masing-masing 19,6% dan 14,2%.

“Penerimaan pajak yang disumbang dari kedua pos pajak ini cukup menggembirakan. Berarti korporasi makin tumbuh sehat dan permintaan masyarakat juga meningkat,” tutur bendahara negara dalam paparan APBN KiTa, Kamis (23/6/2022).

Sri Mulyani memerinci, penerimaan PPh Badan di sepanjang Januari 2022 hingga Mei 2022 tercatat meningkat signifikan 127,5% year on year (yoy). Ini merupakan pembalikan dari periode sama tahun sebelumnya, yang terpantau turun 4,3% yoy.

Baca juga: Kemenkeu Beri Sinyal Tunda Penerapan Pajak Karbon 1 Juli 

Moncernya penerimaan PPh Badan ini disebabkan perusahaan yang makin sehat dan membukukan keuntungan, sehingga bisa membayar pajak bisa lebih tinggi. Kemudian faktor penurunan restitusi pada periode tersebut sehingga perusahaan harus membayar pajak lebih banyak.

"PPh Badan menunjukkan perusahaan mulai bukukan keuntungan ini kondisi perusahaan makin sehat, dan ekonomi yang meningkat turut menyumbangkan keuntungan bagi perusahaan, sehingga bayar pajak lebih tinggi dan lebih baik dan sangat kuat. Kemudian penurunan restitusi kruang bayar tapi harus bayar lebh banyak," tegasnya.

Sedangkan PPN dalam negeri tercatat tumbuh 34,3% yoy dengan kontribusi 19,6%. PPN impor tumbuh 43,8% yoy dan turut andil ke penerimaan pajak sebesar 14,2%. Kinerja kedua jenis pajak ini masih terjaga pertumbuhannya sejalan dengan aktivitas ekonomi yang masih ekspansif dan kenaikan tarif PPN.

Lebih lanjut, kontributor jenis pajak tertinggi yakni PPh 21 tumbuh 22,4% (yoy). Meski demikian, secara month to month (mtm) PPh 21 hanya tumbuh 12,6% atau lebih rendah dibandingkan pertumbuhan April yang mencapai 48,2%. Kemudian diikuti dengan PPh Final dengan sumbangan 7,6%, pos pajak ini tumbuh 16,3% yoy.

Baca juga: Sri Mulyani: Asumsi Inflasi 2-4% Tahun 2023 Cukup Realistis

"PPh 21 kontribusinya 11,2%, tetapi pertumbuhan per bulan hanya 12,6% lebih rendah dari April capai 48,2% dalam hal ini memang ada faktor pergeseran pembayaran tunjangan hari raya (THR) yang dibayarkan pada bulan April," kata Sri Mulyani.

Selanjutnya, PPh 22 impor tercatat tumbuh signifikan 207,5% yoy, meski kontribusinya kecil atau sebesar 4,3% saja. Namun sudah mengalami perbaikan yang cukup dramatis secara yoy, bahkan secara bulanan PPh 22 impor mampu tumbuh hingga 531,1%.

Kemudian PPh 26 tercatat tumbuh 22,8% yoy dengan kontribusi 3,6%, dan PPh orang pribadi terpantau tumbuh 8,6% yoy dengan kontribusi pada penerimaan pajak sebesar 1,2%.

"PPh OP kontribusi 1,2% terhadap total tumbuh 8,6%. Namun di Mei itu alami tekanan ini karena ada pembayaran tidak berulang, mungkin ini relevan melihat indikator pemulihan ekonomi PPh badan dan PPN," tutupnya.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN