Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi penyakit mulut dan kuku (PMK) (Foto: Beritasatu.com)

Ilustrasi penyakit mulut dan kuku (PMK) (Foto: Beritasatu.com)

Percepat Vaksinasi Kunci Pengendalian PMK

Sabtu, 2 Juli 2022 | 09:38 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

JAKARTA,investor.id- Penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak yang menyebar secara masif masih jadi perhatian masyarakat luas. Pemerintah terus didorong oleh banyak pihak untuk melakukan pengendalian terhadap PMK termasuk mempercepat vaksinasi.

Guru Besar Imunologi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, I Wayan Teguh Wibawan mengungkapkan, salah satu penyebab masifnya penularan virus PMK terkait dengan sifat dari penyakit ini yang menular lewat udara.udara memang menjadi medium bagi virus untuk berkembang biak.

Advertisement

Karena penyebaran ini bersifat aerogen (menyebar lewat udara), inilah salah satu juga yang menopang penyebaran virus PMK dengan sangat cepat," kata I Wayan dalam diskusi daring bertajuk "Virus PMK Mewabah Kembali Indonesia, Apa Yang Harus Kita Lakukan?" yang digelar oleh Pusat Kajian Pangan dan Advokasi (PATAKA), Jumat (1/7).

I Wayan menyebut, pilihan utama dalam mengendalikan virus yang bersifat aerosol adalah dengan melakukan vaksinasi terhadap hewan ternak.

Kemudian, I Wayan memaparkan, perlu ada prioritas untuk melakukan vaksinasi pada hewan ternak. Ini terkait dengan keterbatasan ketersediaan vaksin PMK yang masuk ke Indonesia.

Vaksinasi PMK harus dilakukan pada sapi yang sehat, baik yang belum pernah terinfeksi atau yang sudah sembuh.

Lebih lanjut,sapi sehat yang belum pernah terinfeksi mesti menjadi prioritas vaksinasi untuk mencegah PMK. Menurutnya, ini karena sapi yang sembuh dari PMK sudah memiliki antibodi alami.

Sapi sembuh secara alamiah memiliki antibodi terhadap virus PMK, yang sebenarnya kalau sapi itu sembuh, diharapkan sudah mampu menahan infeksi dalam jangka beberapa waktu.

Kendati demikian, pihaknya lebih menekankan pada jumlah vaksin yang terbatas, sehingga penting untuk menetapkan strategi dan prioritas penyuntikkan vaksin di lapangan agar pengendalian wabah PMK dapat tercapai.

vaksinasi yang masif memang menjadi kunci dalam pengendalian PMK dan berharap anggaran Kementan untuk vaksinasi tahap pertama segera direalisasikan.

Wakil Komtap Peternakan Kadin Indonesia Yudi Guntara mengatakan, sapi terpapar virus PMK dijadikan buffer stock daging pemerintah, maka diperlukan penugasan oleh Badan Panga Nasional kepada Perum Bulog, bekerja sama dengan Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang mempunyai infrastruktur penanganan pemotongan ternak bersyarat PMK.

Editor : Ridho (dhomotivated@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN