Menu
Sign in
@ Contact
Search
Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers Realisasi Investasi Kuartal II Tahun 2022 secara hibrida di Kantor Kementerian Investasi/BKPM pada Rabu (20/07/2022). (Investor Daily/Arnoldus Kristianus)

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers Realisasi Investasi Kuartal II Tahun 2022 secara hibrida di Kantor Kementerian Investasi/BKPM pada Rabu (20/07/2022). (Investor Daily/Arnoldus Kristianus)

Bahlil: Minat Investasi ke Indonesia Tetap Tinggi

Rabu, 20 Jul 2022 | 17:12 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat kontribusi Penanaman Modal Asing (PMA) pada kuartal II-2022 mencapai Rp 163,2 triliun atau 54% dari total investasi, meningkat 39,7% dibandingkan periode yang sama pada 2021. Sedangkan realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp 139 triliun atau 46% dari total investasi kuartal II-2022. Angka ini meningkat 30,8% dibandingkan periode yang sama pada 2021.

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan, tingginya pertumbuhan PMA menunjukkan di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu Indonesia masih dipercaya sebagai negara tujuan investasi dari negara-negara di luar Indonesia. Bahlil mengatakan hal ini terjadi karena beberapa faktor, pertama yaitu investor percaya kepada kepemimpinan Joko Widodo. Kedua, yaitu kepercayaan investor terhadap stabilitas politik. Ketiga, proses hukum semakin baik.

“Transparansi percepatan dan pelayanan pemerintah kepada dunia usaha khususnya investor perlahan-lahan semakin membaik. Sekali lagi saya mengatakan ini adalah wujud keberhasilan kita terhadap implementasi Undang-Undang Cipta Kerja,” ucap Bahlil dalam konferensi pers Realisasi Investasi Kuartal II Tahun 2022 secara hibrida di Kantor Kementerian Investasi/BKPM, Rabu (20/7/2022).

Baca juga: Realisasi Investasi Semester I-2022 Capai Rp 584,6 Triliun

Advertisement

Dia menuturkan, saat awal pandemi seluruh negara mengalami penurunan PMA, namun saat itu penurunan PMA di Indonesia tidak lebih dari 10%. Sejak tahun 2021, PMA tumbuh secara perlahan. “Saya sendiri surprise, saya sempat tanya ke tim, namun ini bisa diverifikasi dan dipertanggung jawabkan,” tutur Bahlil.

Persebaran realisasi investasi di luar Pulau Jawa pada kuartal II-2022 kembali lebih unggul dari Pulau Jawa dengan kontribusi sebesar Rp 157,1 triliun atau 52% dari total investasi, meningkat 38% dari periode yang sama pada 2021.

Lima besar lokasi Investasi PMA kuartal II-2022, yaitu Sulawesi Tengah (US$ 2,2 miliar), Jawa Barat (US$ 1,7 miliar), Maluku Utara (US$ 1,3 miliar), DKI Jakarta (US$ 900 juta), dan Jawa Timur (US$ 800 juta).

Bahlil mengungkapkan, sejak kuartal III-2020, investasi luar Pulau Jawa tumbuh lebih tinggi dari Pulau Jawa. Pemerintah bekerja tidak hanya di Jawa Sentris, tetapi sudah fokus kepada Indonesia Sentris sebagai bentuk perwujudan visi Presiden Joko Widodo untuk membangun Indonesia tidak hanya satu pulau, tetapi semua pulau. Hal ini menunjukkan pemerintah konsisten mendorong percepatan investasi luar Pulau Jawa sebagai bentuk penciptaaan kawasan pertumbuhan ekonomi baru dalam rangka mewujudkan keadilan pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: Penerimaan Pajak Tahun 2022 Diperkirakan Capai Target

“Pertumbuhan ekonomi nasional kita 60% konsumsinya di daerah Jawa, khususnya Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Kalau investasi kita dorong di luar Pulau Jawa harapan ada keseimbangan dalam realisasi pertumbuhan ekonomi,” tandas Bahlil.

Berdasarkan sektor usaha, pada kuartal II-2022, realisasi investasi terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, terutama sektor industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya yang berkontribusi Rp 48,2 triliun atau 15,9% dari total investasi.

Sektor lainnya sebagai penyumbang terbesar terdiri dari sektor pertambangan sebesar Rp 33 triliun (10,9%); sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran serta sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi sebesar Rp 26,7 triliun (8,8%); industri makanan sebesar Rp 22,4 triliun (7,4%).

Baca juga: Investasi Tumbuh 35,5%, Tertinggi dalam Sejarah

“Data ini menunjuKkan bahwa investasi yang sedang berkembang adalah investasi industrialisasi di sektor hilirisasi pertambangan. Ini punya korelasi bahwa investasi yang didorong bukan di sektor jasa tetapi di sektor produktif,” kata Bahlil.

Catatan Kementerian Investasi/BKPM menunjukan lima negara terbesar dalam PMA kuartal II-2022 yaitu Singapura US$ 3,1 miliar (27,7%), Tiongkok US$ 2,3 miliar (20%), Hong Kong, RRT US$ 1,4 miliar (11,9%), Jepang US$ 900 juta (8,1%), dan Amerika Serikat US$ 800 juta (6,8%).

“Saya tak yakin ini uang Singapura, mungkin sebagian besar uang orang Indonesia dan Singapura dijadikan hub. Saya lagi formulasi bagaimana caranya agar kita bisa deteksi uang-uang WNI yang ada di sana,” ujar Bahlil.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com