Menu
Sign in
@ Contact
Search
Pedagang memilah cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, belum lama ini. BPS melaporkan komoditas cabai yang termasuk dalam komponen harga yang bergejolak menyumbang inflasi pada Juli 2022 sebesar 0,25% dari total inflasi, yakni 0,64%. (Foto ilustrasi:  BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao)

Pedagang memilah cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, belum lama ini. BPS melaporkan komoditas cabai yang termasuk dalam komponen harga yang bergejolak menyumbang inflasi pada Juli 2022 sebesar 0,25% dari total inflasi, yakni 0,64%. (Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao)

Inilah Alat Pemerintah untuk Kendalikan Inflasi, menurut Wamenkeu

Selasa, 2 Agustus 2022 | 20:05 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) menjadi alat pemerintah untuk memastikan inflasi Indonesia tetap terkendali di tengah krisis global.

Oleh karena itu, kenaikan inflasi Indonesia pada Juli 2022 menjadi 4,9% dibandingkan Juni 2022 yang sebesar 4,4% dipastikan masih berada dalam posisi rendah dibandingkan negara lainnya.

“APBN melakukan shock absorber. APBN memastikan bahwa inflasi terkendali dan tidak naik terlalu tinggi,” katanya dalam acara Mid-Year Economic Outlook 2022 di Jakarta, Selasa (2/8/2022).

Baca juga: KSSK Sebut Inflasi 4,94% Relatif Moderat

Ia menjelaskan, dalam konteks produk domestik bruto (PDB) secara riil terdapat 1,6% dibandingkan Turki sebesar 13% dan Tiongkok 10,5%. "Kalau kita lihat PDB riil Indonesia pada 2021 terhadap 2019. Kita lihat bahwa PDB itu sudah 1,6 kali terhadap 2019," ujar Suahasil.

Lebih lanjut, APBN menjadi shock absorber atau peredam berbagai guncangan di level global yang berpotensi memberikan tekanan sangat dalam terhadap perekonomian Indonesia.

Ia menjelaskan The Federal Reserve (The Fed) telah melakukan pengetatan kebijakan moneter melalui peningkatan suku bunga acuan yang diikuti beberapa negara lain seperti Eropa.

Alhasil, negara-negara juga mengalami peningkatan suku bunga dengan meningkatkan cost of fund. Biaya pendanaan yang meningkat ini akan mempengaruhi korporasi dan APBN. Tak hanya risiko tersebut, munculnya konflik Rusia dan Ukraina yang menciptakan kenaikan harga komoditas dan menciptakan supply disruption.

Baca juga: Cabai hingga Bimbingan Belajar Dongkrak Inflasi Juli ke 0,64%

Sebab itu, APBN melakukan shock absorber dalam rangka memastikan inflasi Indonesia terkendali dan tidak naik terlalu tinggi.

"Caranya APBN menjadi shock absorber adalah memastikan harga-harga yang penting terutama administered price termasuk harga energi agar tidak meningkat secara drastis. Upaya itu dilakukan dengan memberi alokasi subsidi dan kompensasi yang lebih tinggi,” jelas Suahasil.

Selain melalui subsidi, APBN juga diperuntukkan untuk menjaga daya beli masyarakat melalui peningkatan belanja perlindungan sosial terutama kepada kelompok miskin dan rentan.

Selanjutnya, APBN turut menjaga momentum pemulihan ekonomi dengan cara memberikan stimulus-stimulus kepada dunia usaha agar penyerapan tenaga kerja dapat berlanjut sehingga pengangguran dan kemiskinan menurun.

Baca juga: Arah Suku Bunga Acuan BI Tidak Ikuti The Fed

Meski begitu, Suahasil memastikan kesehatan APBN turut dijaga dengan menekan defisit yang perlahan kembali ke level di bawah 3% pada tahun depan.

Adapun defisit APBN pada 2020 sempat mencapai level 6,1% dari PDB karena harus mendorong pemulihan ekonomi, namun terus turun menjadi 4,47% dari PDB pada 2021.

Selanjutnya tahun ini, berdasarkan Perpres 98/2022, defisit turun ke level 4,5% dari PDB dan outlook akhir tahun diperkirakan bisa ditekan hingga menjadi 3,92% dari PDB.

“APBN kita upayakan menjadi lebih sehat. Ini menjadi jalan yang baik supaya tahun depan APBN bisa memenuhi amanat UU 2/2020 yaitu defisit di bawah 3%,” ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com