Menu
Sign in
@ Contact
Search
Cilacap Samudera (ASHA) Mengadopsi Teknologi Akuakultur Norwegia untuk Tingkatkan Produktivitas.

Cilacap Samudera (ASHA) Mengadopsi Teknologi Akuakultur Norwegia untuk Tingkatkan Produktivitas.

Cilacap Samudera (ASHA) Adopsi Teknologi Akuakultur Norwegia untuk Tingkatkan Produktivitas

Senin, 8 Agustus 2022 | 06:57 WIB
Imam Suhartadi (imam.suhartadi@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - PT Cilacap Samudera Fishing Industry Tbk. (ASHA) mengumumkan telah berkolaborasi dengan Norwegian Engineers and Architects AS (NAS) terkait rencana implementasi teknologi termutakhir akuakultur di Indonesia. Kolaborasi ini dilakukan melalui PT Asha Fortuna Corpora yang merupakan holding dari ASHA.

Kerja sama itu ditandai dengan penandatangan nota kesepahaman oleh komisaris utama ASHA, Asman dengan Direktur Utama NAS, Svein Gunnar Endresen serta disaksikan oleh Direktur Utama ASHA, William Sutioso dan Representatif NAS di Indonesia, Widya Utama di Jakarta, Jumat (5/8/2022).

Dalam kesepakatan itu, Perseroan berharap dapat mengadopsi teknologi terbaru yang dikembangkan Norwegian Engineers and Architects AS (NAS) untuk meningkatkan produktivitas perikanan demi memenuhi permintaan perikanan.

Baca juga Cilacap Samudera (ASHA) Resmi Jadi Emiten ke-21 BEI di Tahun Ini

“Kami sengaja bekerjasama dengan pihak NAS karena mereka sudah terdepan dalam hal teknologi budidaya perikanan. Seperti yang kita ketahui, di Indonesia terkenal dengan salmon norwey, akan tetapi, kita tidak bisa membudidayakannya di negara tropis. Meskipun demikian, kita dapat mengadopsi teknologi Norwegia untuk mengembangkan budidaya ikan di negara tropis,” tutur William.

Dalam implementasinya, perusahaan asal Norwegia ini akan mengirim para ahli untuk melakukan feasibility studies terkait akuakultur di Indonesia. Lebih detail, para peneliti akan menerapkan akuakultur dengan system closed-loop, yaitu system pembudidayaan komoditas perikanan di darat dengan metode ruang tertutup.

William menegaskan, dengan menerapkan (closed-loop) system ini, bio-security dapat dikontrol. Berbeda dengan budidaya di lepas pantai yang jauh lebih riskan mengingat banyak faktor eksternal yang tidak dapat kita kontrol.”

Langkah ini juga jauh dianggap ramah lingkungan karena limbah sisa budidaya (bio-waste) dapat dikontrol sehingga mengurangi pencemaran lingkungan.

Kajian tersebut rencananya akan dilakukan di daerah Lombok di atas lahan seluas 30 hektar. Area ini sengaja dipilih mengingat sanitasi air di wilayah tersebut masih bersih serta jauh dari lingkungan pabrik. Dengan adanya perlakuan tersebut, Perseroan berharap dapat menghasilkan ikan berkualitas tinggi dengan jumlah produktivitas yang besar.

Baca juga PT Cilacap Samudera Fishing Industry (ASHA) Go Public Dorong Perkembangan Industri Perikanan di Indonesia

Dalam acara penandatangan kesepakatan ini, Presiden Direktur PT CSFI Tbk, William Sutioso, menyatakan nilai kerja sama ini diprediksi menyentuh angka US$ 80 juta di mana 85% dana pengembangannya diperoleh dari soft loan yang disediakan pemerintah Norwegia.

William berharap pengadopsian teknologi NAS dapat mengurangi hambatan proses budidaya perikanan dari segi infrastruktur. Adapun komoditas yang akan dibudidayakan, yakni udang vaname, ikan baramundi, dan lobster.

Sebagai representatif dari Norwegian Engineers and Architects AS di Indonesia, Widya Utama, mengatakan, dengan menggunakan teknologi NAS untuk sektor perikanan, Indonesia bisa menjadi role model dalam budidaya ikan yang berkualitas. Hal ini sejalan dengan harapan Bank Dunia agar Indonesia dapat memenuhi kebutuhan komoditas perikanan di seluruh dunia.”

Terkait implementasi teknologi NAS, ASHA berharap proses instalasi infrastruktur yang akan digunakan dapat rampung pada Q4 2023 sehingga proses produksi dapat dilakukan pada awal 2024. Proyeksi produksi akuakultur ini ditargetkan mencapai 3.000-5.000 ton dengan kualitas premium yang akan difokuskan untuk pemenuhan permintaan pasar Eropa dan Amerika.

Widya juga menegaskan langkah ini perlu ditempuh untuk meningkatkan hasil produksi. Menurutnya, tanpa implementasi akuakultur jumlah produksi perikanan akan stagnan sehingga tidak dapat mengimbangi peningkatan permintaan pangan yang diprediksi mencapai 70% di tahun 2030 mendatang.

Di samping itu, penerapan teknologi akuakultur di Indonesia juga dapat mengatasi masalah kualitas komoditas perikanan yang kurang baik.

Dalam pernyataannya, Widya menjelaskan bahwa Indonesia adalah produsen terbesar ke-4 penghasil udang vaname, sayangnya kualitasnya dinilai masih kurang baik.

Dengan adanya penerapan Recirculating Aquaculture System (RAS) di dalam kolam dengan kontrol kebersihan air yang selalu dijaga, komoditas perikanan yang dibudidayakan dapat tumbuh dengan sehat. Apabila teknologi ini berhasil diimplementasikan, Widya optimistis Indonesia dapat menjadi penghasil ikan baramundi atau asian salmon berkualitas premium.

Editor : Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com