Menu
Sign in
@ Contact
Search
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers RDG BI bulan Juni 2022 di Jakarta, Kamis (23/06/2022). ANTARA/Agatha Olivia/aa.

Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers RDG BI bulan Juni 2022 di Jakarta, Kamis (23/06/2022). ANTARA/Agatha Olivia/aa.

BI: Lonjakan Inflasi Global Picu Inflasi Pangan Domestik

Rabu, 10 Agustus 2022 | 11:39 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa tensi geopolitik Rusia dan Ukraina telah menyebabkan lonjakan harga komoditas energi dan pangan dalam rantai perdagangan global.

Peningkatan inflasi global tersebut merembet langsung terhadap masyarakat yang dicerminkan kenaikan inflasi pangan periode Juli tercatat 10,47% (yoy).

Baca juga: Prospek Kenaikan Bunga The Fed Bikin Rupiah Melemah 22 Poin

"Rusia dan Ukraina merupakan pemasok 20% energi dan pangan dalam perdagangan global untuk komoditas pangan dan energi. Akibat perang harga kedua komoditas menjadi naik"ucapnya dalam Kick Off Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan, Rabu (10/8).

Dengan kondisi tersebut, Bank Indonesia bersama pemerintah pusat dan daerah berkomitmen untuk mengendalikan inflasi pangan di dalam negeri. Terlebih, Presiden Joko Widodo telah memberikan instruksi lanngsung kepadapara Menteri terkait untuk segera kendalikan inflasi dalam negeri serta memenuhi pasokan dalam negeri.

Lebih lanjut, Perry mengatakan, gerakan nasional pengendalian inflasi pangan menjadi sangat penting, agar Indonesia terus maju melaju kearah visi Indonesia maju. Apabila hargapangan terkendali, maka diyakini rakyat akan sejahtera.

Sebagai informasi, laju inflasi IHK pada Juli 0,64% (mtm) atau naik dibandingkan bulan sebelumnya yang 0,61% (mtm). Alhasil inflasi IHK secara tahunan mencapai 4,94% (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya 4,35% (yoy).

"Dari inflasi Juli, inflasi pangan tertinggi 10,47% mestinya inflasi pangan tidak boleh melebihi 5% atau paling tinggi hanya 6%. Ingat inflasi pangan itu masalah perut, rakyat, dan masuk kesejehteraan tidak hanya masalah ekonomi, tetapi masalah sosial," ucapnya.

Baca juga: Inflasi Global Diprediksi Mulai Menurun Kuartal IV

Dengan demikian, dia mengajak, semua pihak saling berkoordinasi dan kolaborasi untuk mengendalikan inflasi pangan ke level seharusnya antara 5%-6%. Karena inflasi pangan yang meningkat akan memberi beban tambahan kepada 20 persen dari komposisi pengeluaran masyarakat bawah atau sekitar 40%-60% dari bobot pengeluaran mereka.

"Betul-betul dampak sosial sangatt besar menyejahterakan rakyat. Oleh karena itu segera operasi pasar agar cabai, bawang, telor daging segera turun dan minyak goreng yang sudah turun tidak naik lagi," jelasnya.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com