Menu
Sign in
@ Contact
Search
Aktivitas pengisian BBM di SPBU Coco Pertamina, Tangerang. (BeritaSatu Photo/Emral Firdiansyah)

Aktivitas pengisian BBM di SPBU Coco Pertamina, Tangerang. (BeritaSatu Photo/Emral Firdiansyah)

Sinyal Kenaikan Harga BBM Makin Kuat nih!

Senin, 15 Agustus 2022 | 21:57 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Pemerintah tengah merumuskan berbagai opsi sebelum memutuskan penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) berbagai jenis. Opsi penaikan harga BBM ini dilakukan untuk menjaga kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono mengatakan, saat ini kondisi APBN diakuinya cukup sulit apabila kembali menambahkan anggaran subsidi dan kompensasi.

Sebab sebelumnya pemerintah bersama Badan Anggaran telah menyetujui penambahan anggaran subsidi dan kompensasi energi senilai Rp 502,4 triliun atau naik Rp 349,9 triliun pada tahun ini dari anggaran semula Rp 152,1 triliun.

"Space APBN kita kan sudah cukup (ditambahkan Rp 502 triliun). Mungkin supaya gap-nya tidak terlalu tinggi antara harga jualnya kita,” ucapnya di Jakarta, Senin (15/8/2022).

Baca juga: Pemerintah Naikkan Harga BBM untuk Kendalikan Subsidi Bengkak

Lebih lanjut, saat ini harga keekonomian BBM subsidi dan nonsubsidi masih jauh dari harga jualnya. Alhasil, pemerintah harus membayar subsidi lebih banyak.

Berdasarkan formulasi yang dilakukan Pertamina pada Juli 2022, harga keekonomian Solar adalah Rp 18.150 per liter, sedangkan harga jual masih Rp 5.150 per liter.

Kondisi ini membuat pemerintah harus membayar subsidi Solar Rp 13.000 per liter. Sementara itu, harga keekonomian BBM bersubsidi Pertalite berada pada angka Rp 18.150 per liter. Pertamina menjual Pertalite Rp 7.650 per liter.

Harga keekonomian produk BBM nosubsidi jenis Pertamax adalah senilai Rp 17.950 per liter. Pertamina masih mematok harga Pertamax Rp 12.500 per liter.

"Dengan harga keekonomian kan tinggi sekali tuh, dari Rp 7 ribu dengan Rp 17 ribu, kemudian BBM jenis solar dari Rp 5 ribu dengan Rp 18 ribu kan jauh, sehingga kita sedang menghitung apakah perlu opsi kenaikan atau enggak,” tegasnya.

Ia mengatakan peluang menaikkan atau tidak harga BBM ini masih terus dibahas bersama Kementerian terkait. Namun, ia memastikan pemerintah masih mempertimbangkan dampak dari sisi inflasi apabila menaikkan harga BBM hingga kemampuan APBN.

Baca juga: Ini Skenarionya jika Harga BBM Naik

"Nanti kan Bapak Presiden akan meminta laporan dari Menteri ESDM, Menkeu, semuanya. Pak Menko juga sudah menyiapkan hitung-hitungan angkanya, kita sudah rapat kemarin beberapa kali. Semua sedang dihitung, kalau naik nanti kontribusi ke inflasinya berapa? karena akan dorong inflasi," jelasnya.

Sebagai informasi kuota BBM bersubsidi mulai menipis, alhasil juga diperlukan pengendalian pembelian BBM oleh masyarakat.

Lantaran Pertamina mencatat sampai dengan bulan Juli 2022, BBM subsidi jenis solar yang sudah tersalurkan sejumlah 9,9 juta kilo liter, sementara kuotanya 14,9 juta kilo liter.

Sementara itu, BBM subsidi jenis Pertalite, sudah tersalurkan 16,8 juta kilo liter dari kuota 23 juta kilo liter.

"Sehingga sekarang pemerintah juga sedang menjajaki opsi-opsi kalau APBN-nya cukup berat nanti apakah kenaikan atau tidak dan Bu Menkeu sudah menyampaikan sama pak Menteri investasi. Kita sedang bahas finalisasi angka-angkanya," ucapnya.

Ia menegaskan bahwa perhitungan harga kenaikan nya pun belum ditentukan hingga saat ini, karena yang pasti hingga saat ini pemerintah terus mematangkan berbagai kemungkinan.

Baca juga: Siap-siap! Jokowi Beri Sinyal Naikkan Harga BBM

Ia mengatakan sinyal (menaikkan harga BBM) disampaikan oleh Menteri Keuangan (Sri Mulyani), karena APBN memiliki ruang fiskal yang terbatas untuk meng-absorb semuanya namun di sisi lain sedangkan harga (minyak) mengalami kenaikan.

"Kemampuan APBN untuk meng-absorb itu semuanya kan ada batasnya sehingga perlu dibuka wacana perhitungan kalau nanti ada kenaikan harga. Tapi ini (opsi) sedang proses, apabila melihat sinyalnya Bu Menkeu, Menteri Investasi sudah sampaikan sedang dihitung ini cukup berat kalau harganya begini terus,” tuturnya.

Menurut Susi, masyarakat juga perlu memahami bahwa APBN memiliki keterbatasan untuk meng-absorb beban. Oleh karena itu, jika opsi (kenaikan BBM) dilakukan pun dipastikan tidak akan terlalu memberatkan masyarakat.

"Kalaupun naik pasti sudah kita perhitungkan tidak akan terlalu memberatkan dan yang pasti kalaupun nanti ada kenaikan kita menyiapkan program program bansos yang banyak untuk menjaga daya beli dan itu lebih fair karena kalau yang kayak harga sekarang kan semua orang menikmati,” ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com