Menu
Sign in
@ Contact
Search
Presiden Joko Widodo saat pidato Penyampaian RAPBN TA 2023 Disertai Nota Keuangan dan Dokumen Pendukungnya, di gedung Parlemen DPR RI, di Jakarta, Selasa, 16 Agustus 2022. (BeritaSatu Photo/Ruth Semiono)

Presiden Joko Widodo saat pidato Penyampaian RAPBN TA 2023 Disertai Nota Keuangan dan Dokumen Pendukungnya, di gedung Parlemen DPR RI, di Jakarta, Selasa, 16 Agustus 2022. (BeritaSatu Photo/Ruth Semiono)

Jokowi: Ketidakpastian Global Bukan Alasan Untuk Pesimistis

Selasa, 16 Agustus 2022 | 16:26 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id -  Ketidakpastian global yang berpotensi membayangi perekonomian di tahun depan bukan alasan untuk pesimistis. Pasalnya, Indonesia telah memiliki modal yang cukup kuat untuk terus mendorong perekonomian ke level yang baik.

Hal ini disamapaikan Presiden Joko Widodo saat menyampaikan Pidato Pengantar APBN 2023 dan Nota Keuangannya dalam Sidang Tahunan MPR RI bersama DPR-DPD RI, Selasa (16/8).

Baca juga: Jokowi Optimistis Ekonomi 2023 Tumbuh 5,3%

"Ketidakpastian global tidak boleh membuat kita pesimistis. Dalam delapan tahun terakhir, kita telah memupuk modal penting untuk menciptakan ekosistem pembangunan yang lebih kondusif," ujarnya.

Modal Indonesia itu harus diperkuat dengan melakukan pembangunan infrastruktur secara masif, perbaikan kualitas sumber daya manusia, serta penyederhanaan aturan berusaha dan berinvestasi merupakan upaya-upaya kunci untuk memperkuat fondasi perekonomian nasional menghadapi tantangan masa depan.

Selain itu, transformasi struktural bakal terus dipacu untuk membangun mesin pertumbuhan ekonomi yang lebih solid dan berkelanjutan. Kemudkan hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi turut diperkuat.

Presiden Jokowi juga menekankan pemerintah akan terus mendorong pengembangan ekonomi hijau. Selain itu, penggunaan produk dalam negeri harus diprioritaskan, guna mengurangi ketergantungan impor. Ekonomi digital juga difasilitasi agar UMKM naik kelas dan melahirkan decacorn baru kelas dunia di masa depan.

"Keseimbangan kebijakan makro-fiskal juga terus dijaga. Konsolidasi fiskal menjadi sangat krusial. Kesehatan APBN ditingkatkan agar adaptif dan responsif dalam jangka menengah dan panjang," ucapnya.

Tetap Waspada

Berbagai faktor ini dinilainya perlu dilakukan lantaran risiko perekonomian global diperkirakan masih akan terjadi di 2023. Untuk itu, Presiden meminta semua pihak untuk tetap waspada.

Baca juga: Tembus Rp 3.041,7 Triliun, Inilah Arsitektur Belanja Negara dalam RAPBN 2023

"Ke depan, kita harus terus waspada. Risiko gejolak ekonomi global masih tinggi. Perlambatan ekonomi dunia tetap berpotensi mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi domestik dalam jangka pendek,"ucapnya.

Apalagi saat ini konflik geopolitik dan perang di Ukraina telah menyebabkan eskalasi gangguan sisi suplai yang memicu lonjakan harga-harga komoditas global dan mendorong kenaikan laju inflasi di banyak negara, tidak terkecuali Indonesia.

Saat ini, ketidakpastian global telah memicu Bank sentral di banyak negara melakukan pengetatan kebijakan moneter secara agresif.

"Pengetatan telah menyebabkan guncangan pada pasar keuangan di banyak negara berkembang. Konsekuensinya, nilai tukar mata uang sebagian besar negara berkembang mengalami pelemahan"ucapnya.

Dengan berbagai tekanan tersebut, IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi global melambat signifikan dari 6,1% di tahun 2021 menjadi 3,2% di tahun 2022 dan 2,9% di tahun 2023.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com