Menu
Sign in
@ Contact
Search
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kedua kiri) didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kiri), Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (kedua kanan), dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kanan) menyampaikan keterangan kepada wartawan terkait nota keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2023 di Jakarta, Selasa, 16 Agustus 2022. (Foto: Antara)

Menteri Keuangan Sri Mulyani (kedua kiri) didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kiri), Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (kedua kanan), dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kanan) menyampaikan keterangan kepada wartawan terkait nota keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2023 di Jakarta, Selasa, 16 Agustus 2022. (Foto: Antara)

Komoditas Melandai, Anggaran Subsidi dan Kompensasi Energi 2023 Turun 33% 

Selasa, 16 Agustus 2022 | 18:17 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, pemerintah mengalokasikan subsidi dan kompensasi energi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2023 sebesar Rp 336,7 triliun atau turun 33% dari outlook anggaran tahun ini sebesar Rp 502,4 triliun.

Rinciannya, subsidi energi Rp 210,7 triliun, meningkat tipis dibandingkan outlook subsidi tahun ini Rp 208,9 triliun, sementara kompensasi energi Rp 126 triliun atau turun 57% dibandingkan outlook tahun ini sebesar Rp 293,5 triliun."Subsidi dan kompensasi energi sebesar Rp 336,7 triliun (turun). Artinya, harga minyak relatif lebih rendah US$ 90 per barel, kemudian kurs diperkirakan dalam situasi relatif lebih baik dibandingkan situasi sekarang volatile,"kata dia dalam Konferensi Pers Nota Keuangan dan RUU APBN 2023, Selasa (16/8).

Baca juga:Indonesia Mau Jadi Negara Maju? Ini Syarat Paling Penting, Kata Menkeu

Menkeu memperkirakan, harga komoditas akan mulai melandai di tahun depan untuk minyak dunia, batu bara, maupun minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO). Dalam proyeksinya, CPO akan mengalami penurunan dari US$ 1.352 per metrik ton ke US$ 920 per metrik ton di tahun depan. Kemudian batu bara juga akan mengalami penurunan dari US$ 251 per ton ke US$ 200 per ton. Kemudian minyak dari sekitar US$ 100-105 per barel ke US$ 90 per barel."Ini situasi extraordinary sebab gejolak volatilitas harga pengaruhi postur APBN kita. Tapi kita tidak boleh membiarkan gejolak ini kemudian mendikte dan pengaruhi program- program pemerintah,"ucapnya.

Meski secara total subsidi dan kompensasi turun 33%, namun ia memastikan secara absolut subsidi energi masih sangat tebal. Oleh karena itu, ia berharap volume juta kiloliter untuk solar, pertalite, dan jumlah LPG tetap dikendalikan, agar tidak terjadi (pembengkakan subsidi dan kompensasi) di kemudian hari."Sisi penggunaan volume BBM bersubsidi harus dikendalikan (tahun depan). Sebab kalau tidak maka berpotensi melewati anggaran subsidi dan kompensasi tahun ini Rp 502,4 triliun, jika volume subsidi tidak terkontrol,"kata dia.

Sementara itu, subsidi non energi di tahun depan akan tetap dijaga dengan anggaran Rp 86,5 triliun atau naik 14,3%. Ditengah berbagai risiko, APBN tetap memiliki peran sebagai shock absorber atau bantalan ke masyarakat dalam bentuk subsidi dan bantuan sosial yang masih sangat tinggi."Semua menggambarkan bahwa APBN masih menyiapkan diri kalau terjadi shock masih berjalan di tahun depan,"pungkasnya.

Baca juga: RAPBN 2023: Defisit Anggaran Diperkirakan 2,85% terhadap PDB

Editor : Kunradus Aliandu (kunradu@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com