Menu
Sign in
@ Contact
Search
PUPR membangun infrastruktur kerakyatan seperti jaringan irigasi kecil untuk mengairi sawah-sawah petani.

PUPR membangun infrastruktur kerakyatan seperti jaringan irigasi kecil untuk mengairi sawah-sawah petani.

Jangan Hanya Beras, Perlu Diversifikasi Pangan Hadapi Krisis  

Sabtu, 20 Agustus 2022 | 08:34 WIB
Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Pemerintah diminta memanfaatkan keanakeragaman hayati di Indonesia untuk membuat ketahanan pangan kita tidak pernah goyah. Sebab, ketahanan pangan tidak hanya berasal dari beras, tetapi bisa dari berbagai jenis pangan lokal yang ada.

Ketua Umum Pakar DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Agus Pakpahan, mengatakan, diversifikasi pangan akan membuat ketahanan pangan kita lebih adaptif ke depannya, sehingga lebih tahan menghadapi krisis.

“Banyak keanekaragaman hayati di Indonesia, kita bisa ambil keuntungan dari iklim tropis, lalu struktur kepulauan juga. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah harus melihat kondisi itu,”ungkap Agus Pakpahan dalam diskusi virtual, Jumat (19/8/2022).

Ia mengatakan bahwa negara Indonesia disatukan oleh ideologi Pancasila, biar berbeda beda tetapi tetap satu, demikianpun dalam hal pengembangan pangan di tanah air, harus disesuaikan dengan kondisi di setiap daerah. “Sagu misalnya bisa dikembangkan di Papua, karena itu tidak perlu ada konversi lahan di sana, begitu juga yang dilakukan di Kalimantan dan daerah lainnya, sesuai dengan potensi di sana,”terang Agus.

Agus menambahkan bahwa kita perlu belajar dari yang telah dilakukan Jepang. Negara tersebut menggunakan pendekatan fungsionalitas dalam membangun ketahanan pangannya, bukan pendekatan komoditas, sementara kita masih menggunakan pendekatan komoditas.

Pendekatan fungsionalitas itu bukan fokus pada beras, jagung dan lain lain, tetapi kita masuk misalnya ke protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Dengan arti kita gunakan cara pandang keanekaragaman hayati sebagai sumber daya utama. Supaya Indonesia bisa lebih fleksibel, bisa lebih adaptif dengan masa depan karena sesuai dengan iklim tropika, dengan keanekaragaman hayatnya. “Misalnya sukun, talas, sagu kita bisa jadikan tepung yang sama sama ada juga karbohidratnya,”ucapnya.

Ia mengatakan, kita boleh saja swasembada beras saat ini tetapi faktanya kita masih banyak impor buah buahan, begitu juga sayur sayuran, kita masih impor protein, mineral.

Dari Global Hunger Indeks kita masih tertinggal 50 tahun dari negara maju, karenanya ia pun mendorong agar Indonesia fokus pada peningkatan kapasitas pertanian untuk jangka panjang, inovasi teknologi pertanian itu harus terus dilakukan, seperti yang dilakukan Jepang.

Kenapa itu dilakukan karena lahan itu konstan, maka harus inovatif agar nilai tambahnya meningkat. “Pertanian harus terintegrasi dengan industrialisasi, sehingga bisa meningkatkan nilai tambah  per unit sumber daya alamnya,”ujarnya.

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com