Menu
Sign in
@ Contact
Search
Menhub Budi Karya Sumadi saat menghadiri acara Super Air Jet First Anniversary dan SAJ Fashion Show, di Terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta, Senin (22/8/2022). Foto: Kemenhub

Menhub Budi Karya Sumadi saat menghadiri acara Super Air Jet First Anniversary dan SAJ Fashion Show, di Terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta, Senin (22/8/2022). Foto: Kemenhub

Menhub Dukung Inovasi Maskapai Stabilkan Harga Tiket

Selasa, 23 Aug 2022 | 03:16 WIB
Imam Muzakir (redaksi@investor.id) ,Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id) ,Amrozi Amenan (ros_amrozi@yahoo.com)

JAKARTA,investor.id - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mendukung inovasi Lion Group dan BNI yang memberikan tarif yang terjangkau untuk menstabilkan harga tiket pesawat. Langkah itu diharapkan akan menciptakan suatu titik keseimbangan baru (ekuilibrium) di industri penerbangan, yaitu antara tarif yang  lebih terjangkau dengan kebangkitan industri penerbangan yang lebih kuat.

“Kami mendukung inovasi yang akan dilakukan Lion Group dengan BNI untuk memberikan tarif yang terjangkau, khususnya di hari-hari kerja (weekdays) pada siang hari. Hal ini juga akan mengubah kebiasaan masyarakat yang biasanya menggunakan pesawat di pagi atau sore hari dan di hari libur. Jadi kalau mau tiket yang tidak mahal, naiknya bisa di hari kerja dan siang hari,” ujar Menhub dalam pernyataan resminya saat menghadiri acara Super Air Jet First Anniversary dan SAJ Fashion Show, di Terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta, Senin (22/8/2022).

Lebih lanjut, Menhub mengajak seluruh pemangku kepentingan di sektor penerbangan, khususnya maskapai, untuk bersama-sama pulih dan bangkit lebih cepat, sejalan  dengan adanya momen Presidensi Indonesia pada kegiatan G20. Meskipun saat ini dihadapkan pada situasi sulit akibat keterbatasan pesawat maupun awak/kru akibat pandemi Covid-19.

“Sektor perhubungan berkontribusi sebesar 21,27% pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pada kuartal II-2022 tumbuh di atas 5%. Momentum pertumbuhan ini harus dilakukan dengan konsisten agar tidak menurun,” tutur Menhub.

Advertisement

Menhub menyampaikan apresiasi kepada Lion Group yang sudah melakukan inovasi dan melaksanakan pelayanan penerbangan dengan baik, dalam upaya mempercepat pemulihan industri penerbangan nasional. Secara umum, Menhub juga mengapresiasi seluruh pemangku kepentingan di sektor penerbangan yang telah meraih prestasi-prestasi, seperti bandara terbaik dan maskapai terbaik.

Pada kesempatan yang sama, Dirut Super Air Jet Ari Azhari menyatakan optimisme bahwa industri penerbangan akan pulih dan bangkit lebih kuat. Ia mengatakan, jumlah armada maskapai Super Air Jet semakin bertambah dan wilayah yang dilayani juga semakin bertambah.

“Awal mula, kami memiliki tiga unit armada pesawat tipe Airbus 320 dan terbang perdana pada 6 Agustus 2021. Saat ini kami memiliki 31 unit armada pesawat dan melayani 19 kota di Indonesia dengan frekuensi 114 penerbangan setiap hari. Hingga akhir tahun 2022 diproyeksikan bertambah menjadi 61 unit armada pesawat,” katanya.

PPN Avtur

Sementara itu, Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan mengungkapkan mahalnya harga tiket pesawat yang tengah berlangsung tidak serta merta dikarenakan oleh tarif (PPN) pada bahan bakar avtur. Sebab, PPN sudah diberlakukan sejak lama. Usulan menstabilkan harga tiket pesawat melalui opsi penghapusan atau minimal menurunkan PPN avtur menjadi 5% disampaikan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

"Dapat kami sampaikan bahwa pengenaan PPN atas avtur bukan menjadi satu-satunya penyebab naiknya harga tiket pesawat, sehingga hal ini tidak dapat dijustifikasi," ujar Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Pajak Neilmaldrin Noor kepada Investor Daily, Senin (22/8/2022).

Meski demikian, Kementerian Keuangan menegaskan bahwa akan terus melakukan koordinasi dengan kementerian atau lembaga terkait untuk membahas isu yang tengah terjadi di masyarakat.

Lebih Lanjut, Neil mengatakan keberpihakan pemerintah terdapat industri maskapai sudah dilakukan melalui berbagai fasilitas. Pertama melalui PP Nomor 71 Tahun 2012 tentang Perlakuan PPN atas Penyerahan Avtur untuk Keperluan Angkutan Udara Luar Negeri.

"Kemenkeu juga memberikan fasilitas PP Nomor 50 Tahun 2019 tentang Impor dan Penyerahan Alat Angkutan Tertentu serta Penyerahan dan Pemanfaatan JKP terkait Alat Angkutan Tertentu yang Tidak Dipungut PPN," tuturnya.

Pengamat Penerbangan dari Jaringan Penerbangan Indonesia (Japri) Gerry Soejatman mengatakan opsi penurunan atau penghapusan tarif PPN avtur dipastikan tidak akan berdampak signifikan terhadap penurunan harga tiket pesawat.

"Penghapusan atau penurunan PPN Avtur bisa dilakukan, namun tidak akan terlalu berpengaruh pada harga tiket," ungkapnya, Senin (22/8/2022).

Gerry menjelaskan, avtur sebagai bahan bakar pesawat, biasanya memiliki kontribusi 30%-40% dari struktur biaya operasional maksapai.

"Namun dengan kondisi sekarang harga avtur, maka kontribusinya saat ini mencapai 50%-60% dari biaya pengoperasian pesawat,"ucap dia saat dihubungi.

Menurutnya, lonjakan harga avtur itulah yang menjadi salah satu faktor utama yang membuat kenaikan harga tiket pesawat, bukan sebaliknya karena faktor tarif PPN avtur.

Ia menyatakan, pada dasarnya besaran harga tiket saat ini dipengaruhi oleh peningkatan biaya operasional akibat lonjakan harga avtur, serta kenaikan passenger service charge (PSC) atau tarif Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) di beberapa kota.

Meski demikian, saat ini permintaan mulai menurun sehingga mulai terjadi penurunan harga tiket meski tidak signifikan.

"Demand (permintaan) kemarin-kemarin juga tinggi sekali.  Namun mulai minggu ini memang demand mulai menurun dan harga tiket pun menurun (tergantung rute), tetapi tidak bisa turun banyak karena tingginya biaya tadi," jelasnya.

Disamping itu, faktor yang paling bisa mempengaruhi penurunan harga tiket pesawat adalah penurunan harga avtur di pasar global. Namun, harga avtur ini sangat dipengaruhi kondisi perang Rusia-Ukraina.

"Cara paling efektif menurunkan harga tiket ya cuma satu, selesaikan krisis energi dunia yang salah satunya diakibatkan oleh perang Ukraina-Rusia, agar harga avtur bisa turun," pungkas dia.

Perjalanan Wisata

Pada bagian lain, Director Hospitality Services Colliers International Indonesia Satria Wei mengatakan, kenaikan harga tiket pesawat akibat harga avtur pastinya berpengaruh kepada perjalanan wisata yang pada akhirnya mengganggu atau mengurangi jumlah wisatawan baik domestik maupun internasional.

“Kalau terkena dampaknya pasti, terutama sektor pariwisata dan hotel di sekitarnya, seperti tempat wisata Raja Ampat, Bali, dan sejumlah destinasi unggulan lainnya,” kata Satria kepada Investor Daily kemarin.

Menurut Satria, kenaikan harga tiket juga pasti akan mengurangi jumlah penerbangan ke suatu desintasi. Yang biasanya 250 penerbangan bisa berkurang menjadi hanya 150 kali penerbangan. Karena banyak masyarakat dan juga turis yang membatalkan niat untuk berlibur, termasuk juga wisatawan asing.
“Dampak ini, pastinya bisa ke okupansi hotel kembali menurun, karena banyak turis yang membatalkan niatnya untuk wisata,” kata Wei

Sementara untuk  pebisnis, kata Satria, dampak langsung masih belum terlihat. Tetapi sejumlah perusahaan sudah mulai mengeluhkan adanya kenaikan tiket pesawat untuk perjalanan bisnis

Editor : Amrozi (ros_amrozi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com