Menu
Sign in
@ Contact
Search
Aviliani.

Aviliani.

ISEI Apresiasi Upaya Pemerintah Dorong Ekonomi Kembali Pulih

Senin, 5 September 2022 | 11:23 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id - ISEI mengapresiasi berbagai upaya pemerintah untuk membawa ekonomi Indonesia kembali pulih dari pandemi covid-19. Penanganan krisis pandemi yang sangat baik menjadi stimulan bagi ekonomi domestik untuk tumbuh solid.

Hal ini tercermin dari kinerja ekonomi pada kuartal I dan Kuartal II yang mampu tumbuh diatas 5% atau masing-masing 5,01% (yoy dan 5,44% (yoy). Demikian penjelasan Penasihat ISEI Jakarta Aviliani di Jakarta, Senin (5/9/2022).

Baca juga: Pasar Modal Indonesia Diprediksi Tetap Tumbuh, Meski Turbulensi Ekonomi Dunia Melanda

"Pemulihan dari pandemi covid-19 memang menjadi stimulan ekonomi nasional tumbuh lebih solid. Dalam beberapa triwulan terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II tumbuh 5,44% (yoy) atau sudah meningkat, dibandingkan kuartal sebelumnya. Pencapaian ini merupakan modal penting bagi pertumbuhan ekonomi kita lebih tinggi agar tidak terjebak dalam pendapatan menengah atau middle income trap,"ucapnya dalam Webinar ISEI Jakarta, Senin (5/9).

Dia menjelaskan bahwa untuk mendorong Indonesia menjadi negara maju dengan pendapatan tinggi, maka Indonesia harus menyelesaikan beberapa masalah mulai dari sosial, ekonomi hingga lingkungan. Aspek ekonomi, Aviliani menekankan agar kinerja ekonomi domestik memiliki pondasi yang lebih kokoh dengan menjadikan ekspor serta investasi menjadi motor penggerak.

"Dua faktor ini dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pergerakan harga komoditas. Sedangkan sisi sosial, Indonesia harus bisa turunkan angka kemiskinan dengan efektivitas berbagai program pemerintah, sedangkan isu lingkungan dengan mendorong aktivitas ramah lingkungan"ucapnya.

Dia menceritakan pemulihan krisis pandemi global diikuti dengan munculnya krisis baru yakni lonjakan harga energi dan pangan yang disebabkan oleh keseimbangan sisi permintaan, penawaran di pasar global, namun juga perang Rusia-Ukraina yang mempengaruhi suplai energi dan bahan pangan dunia. Alhasil memicu lonjakan inflasi di berbagai negara di tengah penurunan pertumbuhan ekonomi dunia dan memunculkan stagflasi.

"Untuk merespon naiknya inflasi, beberapa bank Sentral di dunia lakukan kenaikan suku bunga acuan. The Fed naikkan suku bunga sangat agresif yang menekan nilai tukar di berbagai negara berkembang. Kenaikan suku bunga The Fed disebabkan lonjakan inflasi jauh dari target sejak akhri  Desember 2021 dan telah mencapai level tertinggi 9 persen pada Juni 2022, sedangkan sektor ketenagakerjaan AS juga cukup solid, pengangguran terbuka bulan Agustus mencapai 3,7%"ucapnya.

Pergeseran Risiko
Pada kesempatan yang sama, Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Ekonomi Makro, dan Keuangan Internasional, Wempi Saputra mengatakan bahwa dalam 2,5 tahun terakhir dinamika ekonomi global, seperti roller coaster, sebab karena pandemi covid-19 menyebabkan ekonomi dunia alami kontraksi dalam dan mulai pulih di tahun 2021. Namun disaat dunia mulai pulih, justru muncul krisis baru yakni krisis geopolitik Rusia-Ukraina.

Baca juga: Harga BBM Naik, Pertumbuhan Ekonomi Berpotensi Terpangkas 0,33%

"Hingga awal 2022, pergeseran risiko beralih dari pandemi ke tekanan ekonomi global sebab konflik geopolitik dan perang Rusia-Ukraina. Ini sebabkan ekonomi global dihadapkan tantangan tekanan inflasi, pengetatan likuiditas dan kenaikan suku bunga, serta potensi krisis utang global dan stagflasi dimana pelemahan ekonomi global disertai inflasi yang meningkat menjadi kombinasi yang sulit dan rumit bagi kebijakan ekonomi,"ucapnya.

Disisi lain eskalasi risiko juga menyebabkan pelemahan ekonomi global yang signifikan tercermin dari data outlook IMF menjadi hanya 3,2% di tahun 2022 atau turun dibandingkan tahun 2021 yang mampu tumbuh 6,1% dan menjadi 2,9% di tahun 2023. Bahkan secara kuartal, pertumbuhan ekonomi AS mengalami kontraksi berturut-turut pada kuartal I kontraksi minus 1,6%, kuartal II minus 0,9%.

"Hal ini cerminkan inflasi AS yang makin menekan dan pengetatan moneter sangat agresif. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok juga melambat signifikan hanya tumbuh 0,4% (yoy) di kuartal II, sebagai dampak kebijakan zero covid-19. Ternyata konflik geopolitik Rusia-Ukraina semakin memperburuk disrupsi sisi suplai dan mendorong lonjakan harga komoditas"ucapnya.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com