Menu
Sign in
@ Contact
Search
Medco Energi. Foto: IST

Medco Energi. Foto: IST

Langkah Strategis MedcoEnergi Mendukung Pencapaian Net Zero Emission

Jumat, 23 September 2022 | 00:06 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

Isu mengenai perubahan iklim dan transisi energi menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan juga pelaku usaha di berbagai sektor, tak terkecuali sektor minyak dan gas bumi (migas) di Tanah Air. Terbukti pada gelaran tahunan para pelaku sektor migas yang tergabung dalam Indonesian Petroleum Association (IPA), The 46th IPA Convention and Exhibition, yang berlangsung selama tiga hari yakni 21-23 September 2022 ini mengangkat tema Addressing the Dual Challenge: Meeting Indonesia’s Energy Needs While Mitigating Risks of Climate Change.

Seperti dikemukakan Presiden IPA Irtiza H.Sayyed bahwa di tengah upaya pemerintah mengejar target Net Zero Emission (NZE) melalui peralihan ke Energi Baru dan Terbarukan (EBT), sektor migas masih memiliki peran yang sangat vital. Meski secara persentase, peran EBT terus ditingkatkan dan sebaliknya energi fosil diturunkan, namun secara kuantitas, volume kebutuhan energi fosil tersebut justru terus membengkak. Mengutip Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), konsumsi minyak Indonesia akan meningkat sebesar 139 persen, dan konsumsi gas akan meningkat hampir 300 persen. Karenanya, menurut Irtiza, saat ini sektor migas dihadapkan pada dua tantangan sekaligus yakni pemenuhan kebutuhan konsumsi energi dan di sisi lain harus memenuhi pencapaian target NZE tersebut.

Menurut Irtiza, dalam kegiatan operasional dan produksinya, perusahaan migas harus terus mengembangkan berbagai teknologi yang dapat mengurangi emisi karbon dan menghasilkan energi yang lebih bersih. Namun, keberhasilan transisi menuju energi yang berkelanjutan juga memerlukan kerjasama yang erat bukan hanya dari pelaku usaha tapi juga antar pemangku kepentingan.

Pentingnya peran indutri migas di tengah era transisi energi ini diamini oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif. Menurutnya, transisi energi ini akan dilakukan dalam beberapa tahap dengan mempertimbangkan daya saing, biaya, ketersediaan, dan keberlanjutan.

Guna mencapai keseimbangan antara peningkatan produksi migas dan target emisi karbon, menurut Arifin, diperlukan inovasi teknologi rendah emisi. Salah satunya dengan penerapan teknologi Carbon Capture Storage (CCS)/Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS). Teknologi ini berfungsi menangkap karbon hasil eksplorasi untuk mendukung agenda mengurangi emisi CCUS. Saat ini, terdapat 14 proyek CCS/CCUS di Indonesia. Meski semua kegiatan masih dalam tahap studi/persiapan, namun sebagian besar ditargetkan onstream sebelum 2030.

Sebagai bentuk dukungan pemerintah, saat ini tengah disusun Peraturan Menteri tentang CCS/CCUS. Pada langkah pertama, fokus utama adalah mengatur CCS/CCUS untuk Enhanced Oil Recovery, Enhanced Gas Recovery atau Enhanced Coal Bed Methane di wilayah kerja migas.

Untuk memperkuat dukungan terhadap pengembangan CCS/CCUS tersebut, Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto mengungkapkan bahwa parlemen sedang menyelesaikan Undang-Undang (UU) Migas dan diselaraskan dengan UU EBT. Melalui UU Migas, parlemen mendorong adanya Badan Usaha Khusus (BUK) untuk migas. “Melalui BUK, Indonesia akan memiliki Oil and Gas Fund, atau semacam Badan Layanan Umum (BLU) yang saat ini sedang kami rancang,” kata Sugeng.

Pada ajang Oil & Gas Exhibition 2022, di Kuala Lumpur, Malaysia beberapa waktu lalu, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengungkapkan bahwa beberapa perusahaan migas sudah memasukkan pengurangan emisi karbon ke dalam strategi portofolio mereka.

Komitmen Nyata MedcoEnergi

Salah satu perusahaan migas yang memiliki komitmen dalam pengurangan emisi karbon dan mendukung transisi energi adalah PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi). Pendiri Medco Group, mendiang Arifin Panigoro, pernah mengungkapkan bahwa transisi energi adalah sebuah keharusan. Kebijakan dalam transisi energi harus sangat terbuka dan koperatif dengan dunia untuk mengejar ketertinggalan dari negara lain.

Namun, menurutnya, sejatinya cita-cita transisi energi Indonesia harus bertumpu pada keunggulan sumber daya alam di Indonesia. Dia juga mengingatkan bahwa transisi dari energi berbasis fosil menuju energi bersih terbarukan membutuhkan waktu dan juga pelibatan teknologi.

Direktur Utama MedcoEnergi Hilmi Panigoro dalam Temu Media Nasional MedcoEnergi beberapa waktu lalu mengatakan bahwa operasi yang bersih dan berwawasan lingkungan menjadi prioritas tertinggi Perseroan. Dia menuturkan, MedcoEnergi selalu menginginkan energi yang digunakan paling efisien.

Hilmi mengungkapkan, sejak 2018 pihaknya telah berhasil menurunkan intensitas karbon dari 248 kilo ton CO2 equivalent per million ton oil equivalent, ke 218 kilo ton CO2 equivalent per million ton oil equivalent. Selain itu, perseroan juga terus memperbanyak portofolio energi bersihnya.

KPI dan Target Interim MecdoEnergi

Terkini, Senior Manager Corporate Sustainability & Risk Management MedcoEnergi Firman Dharmawan di ajang The 46th IPA Convention and Exhibition mengatakan bahwa kerangka keberlanjutan perusahaan berlogo saham MEDC ini memberikan landasan bagi Strategi Perubahan Iklim dan aspirasi emisi Net Zero Perseroan.

Perusahaan pertambangan migas swasta terbesar di Indonesia ini berkomitmen mencapai emisi Net Zero Scope 1 dan 2 pada 2050 dan Scope 3 pada 2060, serta baru-baru ini menerbitkan target interim untuk 2025 dan 2030.

“Kami akan tetap fokus pada peningkatan ESG dengan target yang terukur dalam Strategi Perubahan Iklim dan Transisi Energi. Strategi ini dikembangkan melalui proses multi tahun untuk membangun pemahaman internal dan infrastruktur yang diperlukan dalam mengelola risiko Perubahan Iklim,” papar Firman

MedcoEnergi memiliki misi untuk terus memenuhi permintaan energi dan sumber daya alam berkelanjutan di Asia Tenggara. Untuk itu, Perseroan berkomitmen menerapkan praktik dan standar global Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG) terbaik, termasuk standar Global Reporting Initiative serta Sustainable Development Goals (SDGs) .

Tercatat hingga saat ini, MedcoEnergi telah mencapai 90% dari metrik dan target keberlanjutan lima tahun yang ditetapkan dalam Penilaian Materialitas 2018 dengan fokus penguatan kebijakan, tata kelola, sistem, kemampuan, dan budaya keberlanjutan.

Selama 2019-2021, peringkat ESG Perseroan dari lembaga MSCI meningkat dari B, menjadi BB kemudian BBB dan skor Sustainalytics meningkat dari 49,9 menjadi 42,2. Pada 2022, MedcoEnergi terus memperbaiki kinerja dan pengungkapan ESG dengan melakukan pembaruan Penilaian Materialitas untuk menetapkan metrik dan target keberlanjutan 2022-2027.

Selain itu juga, Perseroan menerbitkan laporan Task Force on Climate-Related Financial Disclosure (TCFD) untuk pertama kalinya dan melaporkan kinerja emisi Perusahaan untuk tahun kedua di platform CDP (sebelumnya dikenal sebagai Carbon Disclosure Project.

Dalam Climate Change Strategy : Membangun Masa Depan Melalui Energi Berkelanjutan dan Sumber Daya Alam yang dipublikasikan MedcoEnergi, perusahaan itu menyiapkan beberapa langkah strategis. Diantaranya, mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dari kegiatan operasi MedcoEnergi.

Langkah strategis ini dilakukan dengan menjalankan pilot project Carbon Capture and Storage (CCS) hulu migas pada tahun 2025. Selain itu, MedcoEnergi mengadopsi sumber energi terbarukan, hydrogen dan memperluas penangkapan natural karbon. Selanjutnya adalah berkolaborasi pada rantai pasok dan nilai untuk meningkatkan efisiensi serta mengungkap emisi cakupan 3 dan menetapkan target interim pada tahun 2025.

Pada 2019 emisi gas rumah kaca mencapai 5,3 juta ton setara CO2, dan berhasil ditekan pada 2020 menjadi 4,6 juta ton setara CO2. Pada 2021 emisi gas rumah kaca berhasil diturunkan menjadi 4,4 juta ton setara CO2.

Langkah strategis lainnya yakni mengurangi emisi metana dari kegiatan eksplorasi dan produksi migas dan ketiga dengan melakukan transisi energi yakni menggunakan EBT.

MedcoEnergi berhasil mengurangi emisi metana yang pada 2019 mencapai 158 juta ton setara CO2 menjadi 136 juta ton setara CO2 pada 2020. Sedangkan pada 2021, emisi metana turun menjadi 131 juta ton setara CO2.

“Untuk menurunkan emisi metanakami fokus pada pengurangan flaring, venting dan emisi fugitive. Kemudian dengan menghilangkan routine flaring pada tahun 2030 atau lebih cepat,” tegas Fiman..

Langkah strategis lainnya adalah peningkatan kapasitas terpasang pembangkit listrik yang ramah lingkungan dan berbasis EBT. Hingga tahun 2030 MedcoEnergi mematok target kapasitas EBT bisa mencapai 30% dari seluruh bisnis pembangkit listrik yang dimiliki MedcoEnergi. Sementara sisanya adalah merupakan pembangkit bertenaga gas.

Saat ini Medco Power sedang membangun PLTS di Bali dengan kapasitas 2×25 Megawatt Peak (MWp) dan di Sumbawa dengan kapasitas 26 MWp. PLTS di Sumbawa terasa lebih spesial karena listrik yang dihasilkan akan dipasok untuk memenuhi kebutuhan operasional tambang PT Amman Mineral Nusa Tenggara.

MedcoEnegi juga merupakan perusahaan pertama yang mengembangkan panas bumi. Hingga hari ini, MedcoEnergi masih mengoperasikan PLTP Sarulla 330 MW. Medco juga memiliki pengembangan panas bumi di Blawan, Ijen. "Langkah (strategis) itu kami lakukan untuk merespons perubahan iklim yang tidak bisa ditampik lagi,” tegas Firman.

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com