Menu
Sign in
@ Contact
Search
Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Internasional Wempi Saputra dalam Media Briefing Persiapan 2nd FCBD dan 1st FMCBG G20: Momentum Ekonomi Dunia Bangkit dan Pulih Bersama pada Senin (14/2).

Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Internasional Wempi Saputra dalam Media Briefing Persiapan 2nd FCBD dan 1st FMCBG G20: Momentum Ekonomi Dunia Bangkit dan Pulih Bersama pada Senin (14/2).

PRESIDENSI G20 INDONESIA 2022

RI Ingin Jadi Negara Pertama yang Memanfaatkan FIF

Rabu, 5 Oktober 2022 | 22:36 WIB
Nasori (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Indonesia ingin menjadi negara pertama yang memanfaatkan Dana Perantara Keuangan atau Financial Intermediary Fund (FIF) yang digagas pada Presidensi G20 Indonesia 2022 untuk mendanai program reformasi kesehatan (health reform). Dana FIF itu, dalam pemanfaatannya akan digabung bersama dengan dana APBN, filantropi, dan Sustainable Development Goals (SDGs).

“Yang mau kita kejar adalah bagimana caranya call for proposal pertama kali dari Indonesia. Indonesia ingin memanfaatkan meskipun sebagai donatur country memberi US$ 50 juta. Kami ingin memanfaatkan. Yang ingin kita usung, adalah heath reform-nya Indonesia,” ujar Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Internasional Wempi Saputra di Jakarta, Senin (03/10/2022) malam.

Dia memberi contoh, reformasi kesehatan yang dilakukan di antaranya terkait dengan penguatan sistem kesehatan primer, penanganan masalah kurang gizi kronis (stunting), pos pelayanan terpadu (posyandu), dan imunisasi. “Kami kejar health reform ini karena duitnya tidak cukup kalau dari APBN. Nah, kita ingin jadi pionir. Kalau ini lancar diskusinya, November (2022) di-launch oleh Presiden (Joko Widodo) atau paling telat akhir tahun,” papar Wempi.

Ia menyebutkan, Presidensi G20 Indonesia telah berhasil mengajak 19 negara anggota dan nonanggota serta tiga filantropi untuk berkomitmen dalam FIF dan terhimpun US$ 1,4 miliar. Di antara negara itu adalah Tiongkok, India, dan negara-negara anggota G7. Pertemuan G20 Joint Finance and Health Task Force (JFHTF) ke-6 menetapkan, FIF yang terkumpul akan digunakan untuk prevention, preparedness and response (PPR) atau kesiapsiagaan, pencegahan, dan penanggulangan pandemi.

Namun demikian, menurut Wempi, terkait FIF sebagai sebuah action plan masih terjadi sejumlah perbedaan pandangan antara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Bank Dunia. “Siapa ngurusin mana? Karena WHO itu menjadi semacam technical expert di dalam FIF. Mereka memberikan pendapat ahli, termasuk apakah sebuah proposal layak dimasukkan untuk dibahas atau tidak. Bank Dunia sebagai trusty yang pegang duit, ini disalurkan atau tidak?” tegas dia.

Wempi menambahkan, kedua lembaga ingin memiliki implementing entity yaitu lembaga yang memiliki kewenangan menyalurkan langsung kepada penerima. “Jadi, dua-duanya itu pingin. Satu jadi expert tapi menyalurkan juga, yang satu jadi trustry tapi pingin menyalurkan juga. Kalau pemain bola, sudah penyerang tengah, tapi jadi hakim garis juga. Itu jadi repot,” kata dia.

US$ 500 Juta

Menurut Wempi, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ingin mendapatkan dana yang maksimal bahkan hingga US$ 500 juta dari FIF. “Kalau ini berhasil, nggak tahu berapa, tapi Pak Menkes kalau bisa sampai US$ 500 juta, supaya lebih keren. Ini akan dilanjutkan ke Presidensi India. FIF ini forum atau mau dibuat yang lebih struktural, misalnya jadi board, monggo. Itu terserah India saja,” ucap Wimpi.

Ia menambahkan Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri telah ditetapkan sebagai Ketua Dewan Pengelola FIF bersama dengan dengan Menteri Kesehatan Rwanda Daniel Ngamije.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi sebelumnya menyatakan, Presidensi G20 menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk mendorong terbentuknya mekanisme pembiayaan yang lebih efektif dalam penanganan pandemi ke depan.

Mekanisme ini digagas melalui FIF untuk meningkatkan respons, pencegahan, persiapan, dan deteksi. Hingga September 2022, setidaknya sudah terkumpul komitmen dana sebesar US$ 1,4 miliar melalui pendanaan ini.

Menkes mengatakan, walaupun kondisi Covid-19 secara global telah membaik, namun setiap negara harus memperkuat kapasitasnya dalam mempersiapkan, mencegah, mendeteksi, dan merespons penyakit yang akan muncul mendatang.

“Covid-19 mengajarkan, saat kita pulih dari krisis, kita harus mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa kita perlu membangun kapasitas untuk menghadapi wabah penyakit di masa mendatang dengan strategi yang efektif,” ujar Budi saat berbicara pada acara Philanthropy Asia Summit 2022 yang diselenggarakan Temasek Foundation di Shangri-La Orchard, Singapura, Jumat (30/09/2022).

Ia menegaskan bahwa, upaya tersebut menjadi kepentingan bersama seluruh negara, terutama negara G20 dalam memperkuat kapasitas untuk mempersiapkan, mencegah, mendeteksi, dan merespons penyakit menular yang muncul dan muncul kembali serta membahayakan kesehatan masyarakat.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com